Tampilkan postingan dengan label EKOLOGI DASAR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2016

STUDI PERILAKU MAMALIA (Macaca fascicularis) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE FOCAL ANIMAL SAMPLING


STUDI PERILAKU MAMALIA (Macaca fascicularis) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE FOCAL ANIMAL SAMPLING
Ratna Lestyana Dewi1), Ria Suci Anisa1), Eko Jatmiko1), Rizky Hastuti Purwaningsih1), Ferial Hamedan1), Dara Mutiara Fiesca1), Arman Gaffar1)
1) Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Uin Syarif Hidayatullah Jakarta 
Abstract
Research on behaviour of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) populations was conducted in Telaga Warna Nature Recreational Park, Bogor West Java. The research aim to study animal behaviour of long-tailed monkey population by using focal animal sampling method. This research was conducted in November 2014. Observation was done by observing long-tailed monkey population until 120 minutes with 5 minutes intervals. Result of this research showed that daily activities percentage of longtailed monkeys populations were: moving (35%), grooming (25%), playing (15%), inactive (10%), eating (6.8%). The frequency of long-tailed macaques activity was dominated by moving behavior, then followed by eating, resting, social, and eliminating while behavior that rarely conducted was mating. Based on gender of adult individuals, resting, eating, moving, and mating were dominated by the adult males, while embracing, cuddling, and grooming were dominated by adult females.
Key word : long-tailed macaques, behaviour, Telaga Warna, focal animal sampling  

ANALISIS VEGETASI DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM DAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE KUADRAT ( QUADRAT SAMPLING TECHNIQUE )


ANALISIS VEGETASI  DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM DAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE KUADRAT ( QUADRAT SAMPLING TECHNIQUE )

Ratna Lestyana Dewi1), Ria Suci Anisa1), Eko Jatmiko1), Rizky Hastuti Purwaningsih1), Ferial Hamedan1), Dara Mutiara Fiesca1), Arman Gaffar1)


1)Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Abstract

Vegetation analysis is a way of studying the arrangement (component type) and form (structure) of vegetation or plant communities. The purpose to study forest stands items, namely the level of the tree and stand levels of regeneration and studying the undergrowth, is the undergrowth is a basic type of vegetation found under forest stands except the regeneration of forest trees, grasslands or reeds and vegetation semakbelukar. Activity vegetation analysis was conducted in Telaga Color, Tugu Village, District Cisarua, Bogor Regency. On the day Saturday, November 21, 2015. The materials used and Became the object of analysis of vegetation is forest stands Natural Park and Nature Reserve Telaga color. Tool used for vegetation analysis of data retrieval is using raffia rope (60 x 20 m), meter tape, plastic samples, cutter, gloves, thermometers, Global Positioning System (GPS), soil moisture testerdan stationery and tabulation of the data. The method used is the least square method (Quadrat Sampling Technique). Results of the analysis of a broad swath of vegetation that is the determination of minimum may use nested plots (plot-rise) According to the method used, the minimum plot represents the community to be Analyzed. Determination of dominance of a species can be determined by calculating INP (Importance Value Index). Conclusion Altingia excelsa species (tree vegetation) had the highest INP value of 193.91%. Diversity of a species can be calculated by the formula H ': -Σ PI. Ln PI. Based on the assessment category of the species diversity, the vegetation seedlings, saplings, poles and trees in the Nature Telaga Warna Including medium category (H '= 1-3).


Keywords: Analysis of Vegetation, Quadrat Sampling Technique, Nested plot, Importance Value Index, Species Diversity



Senin, 11 April 2016

LAPORAN HASIL FIELDTRIP EKOLOGI DASAR

KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI KAWASAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR


Ratna Lestyana Dewi1), Ria Suci Anisa1), Eko Jatmiko1), Rizki Hastuti Purwaningsih1),  Ferial Hamedan1), Dara Mutiara Fiesca1), Arman Gafar
1)Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Abstract
A bird is a wildlife which could be found almost in any vegetated environment. The existence of a bird in one area is very important because it could affect the presence and distribution of plant species. The research aims to identify species diversity, distribution of bird species, habitat and analyze the relationship of bird species diversity to habitat in Natural heritage dan Telaga Warna paek of nature. The research was conducted on November, 21. All bird data were collected using a point count method. The vegetation data collected included species, composition and structure by forming a plot measuring. It was found 45 species , 25 families and 231 individuals. The bird species diversity indices (H’) is 3,31, the bird average indices (E) is 0,9 because there is dominance of Collocalia fuiphaga.

Keywords: bird, diversity, dominance

Minggu, 27 Maret 2016

DAUR KARBON

    DAUR KARBON

Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan Ismail S Alaydrus2)
1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstract
The aim of the practical work of this time is to study cycle biogeokimia in ecosystem especially about the cycle carbon. The methods used to make the environment and simple abiotic and biotic to done in two separate places the bright spot exposed sunlight and the dark using Lymnea sp. and Hydrilla sp . This observation done seven days and the conclusion is Carbon cycle was a process reciprocal photosynthesis and respiration cellular responsible for the change and the movement of the main carbon . Levels of oxygen in which it is dissolved in water affect the activity of an organism in carrying out its role at a ecosystem. As for the flow of energy on the ecosystem is sunlight and CO2 absorbed by Hydrilla sp . to photosynthesis , then be consumed by Lymnea sp. and used for respiration.

Key words : Ecosystem, carbon cycle, respration

PENDAHULUAN


            Karbon merupakan unsur yang penting bagi kehidupan organisme, karena semua molekul organiknya berbasiskan pada unsur karbon. Karbon beredar di dalam biosfer dalam bentuk karbondioksida (CO2) yang berupa gas, sehingga siklusnya tergolong ke dalam siklus tipe gas. Terdapat tiga sumber karbon utama yaitu di dalam atmosfer (dalam bentuk karbondioksida), di dalam larutan (dalam bentuk terlarut), dan di dalam bumi (batuan kapur atau minyak fosil). Adapun proses peredarannya mencakup wilayah yang sangat luas yang meliputi atmosfer, bumi, dan lautan (Indriyanto, 2006)
Karbon dapat dijumpai dimana-mana. Karbon dapat dijumpai didalam atmosfer sebagai CO2 dalam jaringan semua mahluk hidup dan terbesar dijumpai dalam batuan endapan serta bahan bakar fosil yang terdapat dalam perut bumi. Tumbuhan hijau dan hewan serta organisme yang lain berperan aktif dalam kelangsungan siklus karbon. CO2 merupakan salah satu komponen pokok untuk berlangsungnya fotosintesis, dengan bantuan energi cahaya maka CO2 merupakan salah satu komponen pokok untuk berlangsungnya fotosintesis (Hanafiah, 2005)
Reaksi fotosintesis terjadi dihutan-hutan, dipadang rumput dan juga di rumput laut di lautan. Dalam daur karbon, karbondioksida dibutuhkan tumbuhan, yang kemudian akan dikonsumsi hewan, ikan atau manusia untuk kebutuhan sel dan energi. Dalam bentuk karbon dioksida dikembalikan ke alam, bila hewan atau tumbuhan tersebut mati akibat kerja mikroorganisme karbon akan dikembalikan ke bumi (Hanafiah, 2005)

Karbon tersimpan dalam bentuk molekul karbondioksida (CO2) dan oksigen dalam betuk molekul oksigen yaitu O2. Karbon diikat oleh tanaman dalam proses fotosintesis dan dihasilkan bahan organik. Bila bahan ini dioksidasikan akan menghasilkan kembali karbon dioksida. Dari proses fotosintesis diatas selain dihasilkan bahan organik berupa karbohidrat juaga dihasilkan oksigen. Bahan organik hasil fotosintesis berpindah ke herbivora dan pemangsa dan kembali ke cadangan melalui respirasi dan kegiatan bakteri. Sisa bahan organik yang tidak dilapuk melalui proses-proses geologi lainnya akan membentuk gambut, batu bara dan minyak bumi. Gambut dan batu bara mengandung karbon terikat, besarnya kandungan tergantung pada tingkat pelapukannya. Bahan tambang ini akan menghasilkan karbon ke udara bebas setelah dibakar (Irwan, 1992).

Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).
Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer (Suwasono, 2007).

Daur karbon merupakan bagian dari daur energi. Reaksi fotosintesis sangat esensial untuk daur karbon maupun daur energi, melalui proses fotosintesis tersebut karbon dioksida berhubungan dengan mahluk hidup. Melalui proses fotosintesisnya tumbuhan hijau berperan dalam daur karbon, karbon diubah menjadi karbohidrat dengan bantuan energi matahari dan pigmen klorofil. Saat daur karbon, karbon dioksida dibutuhkan tumbuhan yang kemudian akan dikonsumsi hewan, ikan dan manusia untuk kebutuhan sel dan energi. Dalam bentuk karbon dioksida dikembalikan kealam, bila hewan atau tumbuhan tersebut .mati akibat kerja mikroorganisme karbon akan dikembalikan kebumi (Suwasono, 2007)
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mempelajari daur biogeokimia pada ekosistem khususnya daur karbon.

METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan Brom Timol Blue, air, Lymnea sp., dan Hydrilla sp.,. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah 8 buah botol dengan penutup (toples) dan DO meter atau WQC.
Cara Kerja
            Adapun cara kerja dari praktikum ini yaitu dengan menyiapkan dua percobaan yaitu A dan B, masing – masing terdiri dari 4 botol yang telah diberi tanda (A1, A2, A3, A4, dan B1, B2, B3, dan B4). Kemudian botol diisi dengan air sebanyak 100 ml atau sampai di bawah mulut botol, lalu ditambahkan sebanyak 5 tetes brom timol blue pada masing – masing botol. Botol A-1 dan B1 lalu diisi dengan Hydrilla sp., botol A3 dan B3 diisi dengan Lymnea sp. dan Hydrilla sp., botol A4 dan B4 sebagai kontrol atau tidak diisi dengan hewan dan tumbuhan. Selanjutnya, botol ditutup rapat kemudian ditempatkan di ruang gelap untuk botol A dan ruang yang terkena cahaya untuk botol B. Setelah 24 jam, diamati semua tabung dan dihitung kadar oksigen dengan DO meter atau WQC.








HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil pengamatan mengenai daur karbon, didapat hasil yang disajikan dalam tabel berikut :


                                                         Tabel 1. Data Pengukuran Daur Karbon

Kelompok
Perlakuan
DO (mg/l)
pH
Kondisi
Lymnea
Hydrilla
Lymnea Hydrilla
Warna air
1
A4
28.8
6
-
-
-
Biru bening
A4
41
7
-
-
-
Biru bening
B4
36
7
-
-
-
Biru bening
B4
67.7
8
-
-
-
Biru bening
2
A1
60.6
6
Mati
-
-
Kuning keruh
A2
9.8
7
-
Layu
-
Kuning keruh
A3
57.8
6
-
-
Lymnea mati Hydrilla layu
Kuning keruh
3
B1
54.4
6
Hidup
-
-
Biru bening
B2
8.9
6
-
Segar
-
Biru bening
B3
85.4
6
-
-
Lymnea hidup Hydrilla segar
Biru bening
4
B1
100
8
Hidup
-
-
Biru bening
B2
78.6
8
-
Segar
-
Biru bening
B3
97.1
7
-
-
Lymnea hidup Hydrilla segar
Biru bening
5
A1
44.7
6
Mati
-
-
Kuning keruh
A2
48.1
6
-
Layu
-
Kuning keruh
A3
90.9
6
-
-
Lymnea mati Hydrilla layu
Kuning keruh



Berdasarkan pada praktikum  ini dilakukan percobaan mengenai daur karbon yang bertujuan untuk mempelajari daur biogeokimia pada ekosistem khususnya daur karbon. Percobaan dilakukan di dua tempat yang berbeda yaitu di tempat terang dan di tempat gelap. Hal itu dimaksudkan untuk melihat perbedaan proses fotosintesis dan respirasi yang dilakukan oleh Hydrilla sp. serta proses respirasi dan metabolisme yang dilakukan oleh siput pada tempat yang berbeda, dimana pada tempat terang cahaya matahari didapat untuk melakukan proses fotosintesis Hydrilla sp. serta untuk membandingkan apakah cahaya berpengaruh terhadap siklus karbon pada ekosistem aquatik (Jumin, 2008).
Adapun pada praktikum ini digunakan Lymnea sp. dan Hydrilla sp. yang bertujuan untuk mengetahui peristiwa daur karbon yang terjadi pada suatu bentuk ekosistem buatan yang sederhana yakni di dalam tabung biakan tertutup. Hydrilla sp. melakukan proses fotosintesis dan  menghasilkan oksigen (O2) dan glukosa (C6H12O6), dimana O2 tersebut akan dimanfaatkan oleh Lymnea sp. untuk respirasi dan glukosa sebagai sumber energi (Jumin, 2008).
Berdasarkan pada percobaan ini diukur CO2 yang didaur dalam suatu toples berisi Hydrilla sp. Dan Lymnea sp. dengan menggunakan larutan indikator (brom timol blue). Larutan indikator akan berwarna biru dalam larutan basa dan kuning kemerahan dalam larutan asam. Gas CO2 akan membentuk larutan asam bila dilarutkan dengan air. Bila wadah ditempatkan di tempat yang terang, CO2 di air digunakan untuk fotosintesis tanaman, sebaliknya bila diletakkan di tempat yang gelap maka tidak terjadi fotosintesis oleh karenanya akan terjadi perbedaan konsentrasi CO2 pada wadah yang diletakkan di tempat yang terang dan tempat gelap (Setyo, 2007).
Hasil yang diperoleh berdasarkan tabel 1. di atas dapat diketahui bahwa produsen dan konsumen berinteraksi. Terdapat dua perlakuan pada praktikum ini yaitu gelap dan terang dimana tiap perlakuan dibagi empat perlakuan lagi yaitu A1, A2, A3, A4 dan B1, B2, B3, B4. Pada tiap-tiap perlakuan tersebut megalami perubahan. Apabila dilihat berdasarkan tabel, pada tabung A4 dan B4 yang digunakan sebagai kontrol dan mendapat perlakuan yang sama dengan tabung yang lain namun hanya berisi air dan 10 tetes larutan Brom timol Blue , warnanya dari pengamatan pertama sampai pengamatan terakhir warnanya tidak berubah yaitu biru bening (Setyo, 2007).
Kemudian pada perlakuan A1 dapat terlihat bahwa Lymnea lama kelamaan mati dan warna air berubah menjadi kuning keruh. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya proses respirasi yang dilakukan siput menghasilkan kadar CO2 yang cukup tinggi. Respirasi adalah proses pemecahan glukosa dengan menggunakan oksigen (O2) dan menghasilkan CO2 dan H2O serta energi, dimana siput mengambil O2 dari air dan udara yang ada di dalam tabung. Selanjutnya menghasilkan CO2, sehingga warna pada larutan menjadi berwarna agak kekuningan (Muslimin, 1996).
Berdasarkan pada tabel 1, dapat diketahui pula bahwa Hydrilla sp pada perlakuan A2 menjadi layu dan warna air berubah menjadi kuning keruh. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya proses daur karbon yang melibatkan antara Lymnea sp. dan Hydrilla sp. dalam tabung tersebut. Pada botol A2 menunjukkan proses daur karbon. Daur karbon ini berlangsung secara terus menerus. Daur dalam botol ini diketahui bahwa Hydrilla sp.membutuhkan COdalam fotosintesis dan mengeluarkan O2 yang dibutuhkan oleh Lymnea sp. dalam respirasi yang menghasilkan CO2. selanjutnya CO2 yang dihasilkan digunakan oleh Hydrilla sp. untuk fotosintesis, dan begitu selanjutnya. Kandungan CO2 lebih kecil bila diletakkan pada tempat terang karena adanya Hydrilla sp. yang menggunakannya untuk proses fotosintesis. Tetapi kadar CO2 lebih banyak pada tempat gelap karena tidak adanya cahaya untuk fotosintesis (Leksono, 2007).
Kemudian, pada botol B3 merupakan reaksi fotosintesis, dimana terjadi pembentukan oksigen melalui proses fotosintesis. Kandungan oksigen yang tinggi pada wadah ini ditunjukan dengan air berwarna biru, terutama pada saat botol diletakkan pada tempat terang. Tetapi, pada tempat gelap, air tidak berubah menjadi biru karena tumbuhan menghasilkan CO2. Hal ini dikarenakan tidak adanya cahaya yang digunakan untuk fotosintesis oleh Hydrilla sp., sehingga Hydrilla sp. melakukan respirasi yang menggunakan oksigen dan menghasilkan karbon dioksida (CO2) (Leksono, 2007).

KESIMPULAN
Daur karbon merupakan proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Kadar oksigen yang terlarut dalam air mempengaruhi aktivitas organisme dalam melaksanakan perannya pada suatu ekosistem. Adapun aliran energi pada ekosistem adalah cahaya matahari dan CO2 diserap oleh Hydrilla sp. untuk berfotosintesis, kemudian dikonsumsi oleh Lymnea sp. dan digunakan untuk respirasi.

 DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Biologi Tanah    Ekologi dan Mikrobologi Tanah. PT.  raja Grafindo. Jakarta.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT Bumi    Aksara. Jakarta
Irwan, Z.D. 1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan          Organisasi: Ekosistem, Komunitas,    dan Lingkungan. Bumi Aksara. Jakarta

Jumin, H. 2008. Ekologi Tanaman. Rajawali Press. Jakarta
Leksono, A. 2007. Ekologi Pendekatan         Deskriptif dan Kuantitatif.     Banyumedia. Malang
Muslimin.L.W.1996. Mikrobiologi     Lingkungan. Jakarta : UI Press.

Setyo, L. 2007. Ekologi. Bayomedia  Publishing. Malang
Suwasono. 2007. Biologi dan Pertanian.       Rajawali Press. Jakarta