Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Sabtu, 18 Juni 2016

    STUDI PERILAKU MAMALIA (Macaca fascicularis) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE FOCAL ANIMAL SAMPLING


    STUDI PERILAKU MAMALIA (Macaca fascicularis) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE FOCAL ANIMAL SAMPLING
    Ratna Lestyana Dewi1), Ria Suci Anisa1), Eko Jatmiko1), Rizky Hastuti Purwaningsih1), Ferial Hamedan1), Dara Mutiara Fiesca1), Arman Gaffar1)
    1) Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Uin Syarif Hidayatullah Jakarta 
    Abstract
    Research on behaviour of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) populations was conducted in Telaga Warna Nature Recreational Park, Bogor West Java. The research aim to study animal behaviour of long-tailed monkey population by using focal animal sampling method. This research was conducted in November 2014. Observation was done by observing long-tailed monkey population until 120 minutes with 5 minutes intervals. Result of this research showed that daily activities percentage of longtailed monkeys populations were: moving (35%), grooming (25%), playing (15%), inactive (10%), eating (6.8%). The frequency of long-tailed macaques activity was dominated by moving behavior, then followed by eating, resting, social, and eliminating while behavior that rarely conducted was mating. Based on gender of adult individuals, resting, eating, moving, and mating were dominated by the adult males, while embracing, cuddling, and grooming were dominated by adult females.
    Key word : long-tailed macaques, behaviour, Telaga Warna, focal animal sampling  

    PENDAHULUAN
    Monyet ekor panjang (M. fascicularis) memiliki habitat alami di daerah tropis Asia Tenggara. Sebaran geografis dari monyet ekor panjang meliputi daerah paling selatan Bangladesh, Semenanjung Malaka, Filipina, Kalimantan, Sumatra, Jawa, sampai dengan Timor. Monyet ekor panjang hidup pada daerah dengan ketinggian yang bervariasi walaupun mereka kebanyakan berada di daerah dataran rendah. Namun, di beberapa daerah M. fascicularis hidup di dataran tinggi dengan ketinggian 1200 mdpl di Malaysia, 1800 mdpl di Kalimantan, 2000 mdpl di Sumatra dan Jawa (Fooden 1995).
    Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai beragam spesies primata, dimana 20% dari spesies primata di dunia dapat ditemukan di kepulauan Indonesia (Supriatna dan Wahyono, 2000). Monyet ekor panjang umumnya ditemukan di hutan tropis, namun spesies ini dapat pula dijumpai di habitat lainnya (Rowe et al., 1996; Supriatna dkk., 1996). Beberapa habitat yang biasanya dihuni oleh monyet ekor panjang seperti pengunungan, dataran terbuka dan hutan tropis (Collinge, 1993).
    M. fascicularis hidup dalam kelompok sosial yang terdiri atas banyak jantan dan banyak betina dengan struktur sosial yang berhirarki. Setiap kelompok umumnya terbagi ke dalam tiga kelompok umur yaitu dewasa, juvenile, dan bayi (infant). Monyet jantan dewasa memiliki panjang tubuh rata-rata sebesar 465.6 mm dan betina dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 412 mm, sedangkan juvenile memiliki panjang tubuh sekitar 361.3 mm. Monyet juvenile memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari monyet dewasa tetapi memiliki warna rambut yang hampir sama yaitu coklat keabu-abuan. Bayi memiliki panjang tubuh sekitar 254.8 mm dan memiliki rambut berwarna hitam kecuali pada bagian muka yang berwarna kemerahan (Fooden 1995).
    M. fascicularis dikenal sebagai hewan opportunistic omnivore, yaitu hewan yang memakan segala jenis makanan, misalnya (buah-buahan, daun, daging, serangga dan lain sebagainya). Sebagai hewan diurnal, M. fascicularis hewan yang aktif mencari makan pada pagi hari hingga menjelang siang hari. Diantara bagian tumbuhan yang paling disukai adalah bagian buah (Kemp dan Burnett, 2003). Jenis ini juga diketahui memakan umbi, bunga dan biji tumbuhan (Hasanbahri, et al., 1996).
    Telaga Warna merupakan kawasan Cagar Alam dengan luas 368.25 Ha dengan sebagian kawasan seluas 5 Ha berubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam. Telaga Warna memiliki ketinggian kurang dari 1400 m dpl dengan curah hujan rata-rata 3380 mm/tahun (Dishutjabar 2007). Taman Wisata yang berada kawasan Cagar Alam yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Populasi satwa liar berupa monyet ekor panjang (M. Fascicularis) memiliki perilaku yang sudah tidak alamiah. Kondisi alam yang telah banyak dikunjungi oleh manusia tercipta interaksi diantara keduanya, sehingga perilaku yang ditunjukkan merupakan perubahan perilaku terhadap lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan dapat mempraktikan metode sampling perilaku hewan, serta mengamati perilaku hewan secara langsung di lapangan.

    METODOLOGI
                 Pengamatan dilakukan pada hari Jum’at tanggal 20 November 2015 selama 120 menit dengan interval waktu pengamatan 5 menit, di Taman Wisata Alam (TWA) Telaga Warna, Bogor Jawa Barat (Gambar 1).


    Gambar 1. Peta kawasan Telaga Warna, Bogor, Jawa Barat tampak dari atas. Lingkaran kuning menunjukkan titik lokasi pengamatan
    Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain kamera, arloji, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah populasi Macaca fascicularis yang ada dan diamati di TWA Telaga Warna.
    Data perilaku kera ekor panjang (M. fascicularis) diambil dengan metode Focal Animal Sampling yaitu dengan cara mengamati satu individu sebagai objek pengamatan (individu focal) dan prilakunya dicatat setiap interval waktu (Peterson, 2001). Metode Focal Animal Sampling dilakukan dengan memilih satu individu sebagai fokus utama pengamatan, dicatat semua perilaku dari individu tersebut selama periode waktu tertentu. Dicatat juga durasi pengamatan jumlah waktu yang dihabiskan oleh satu individu untuk melakukan suatu perilaku. Metode ini memberikan data yang spesifik mengenai perilaku individu dan data yang dihasilkan lebih representatif dan informatif dibandingkan metode Ad Libitum (Altmann, 1973). Ditentukan objek M. fascicularis yang menjadi fokus pengamatan, lalu keseluruhan perilaku yang dilakukan oleh objek dicatat selama 120 menit dalam interval waktu 5 menit. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif baik kuantitatif maupun kualitatif. Data hasil pencatatan perilaku monyet ekor panjang kemudian dianalisis dengan metode persentase. Kemudian persentase tersebut dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Analisis Data Persentase Total Perilaku Macaca fascicularis di Taman Wisata Alam Telaga Warna
    Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan terdapat beberapa macam aktifitas yang teramati dari populasi monyet ekor panjang menggunakan metode focal animal sampling yaitu Moving, feeding, resting, social, eliminating, and nesting. Hasil pengamatan aktifitas Macaca fascicularis yang teramati pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1.
    Tabel 1. Persentase Total Aktifitas Macaca fascicularis
    Objek
    Moving
    Feeding
    Resting
    Social
    Eliminating
    Nesting
    Jantan dewasa
    30%
    23%
    27%
    18%
    1%
    1%
    Betina dewasa
    30%
    20%
    24%
    24%
    1%
    1%
    Betina dewasa dan anak
    25%
    13%
    23%
    36%
    2%
    2%
    Juvenil
    41%
    30%
    13%
    14%
    1%
    2%











    Gambar 2. Grafik total persentase aktifitas Macaca fascicularis
    Hasil pengamatan perilaku populasi monyet ekor panjang di TWA Telaga Warna dengan metode focal animal sampling pada Tabel 1 dan grafik diatas menunjukkan bahwa kecenderungan aktifitas tertinggi yang teramati pada populasi monyet ekor panjang adalah mooving (41%) pada juvenile, dan Social (41%) pada betina dewasa dan anak. Bergerak menurut Lee (2012), merupakan kegiatan berjalan, memanjat, melompat, dan berpindah tempat. Jika dilihat dari cara bergerak maka monyet ekor panjang merupakan salah satu satwa primata yang menggunakan kaki depan dan belakang dalam berbagai variasi untuk berjalan dan berlari (quandrapedalisme).
    Berdasarkan hasil observasi langsung di TWA Telaga Warna, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memiliki kebiasaan untuk melakukan aktivitas makan di daratan. Monyet ekor panjang lebih sering membawa makanannya berupa buah atau dedaunan dan memakannya di darat. Monyet ekor panjang juga tidak merasa canggung ketika meminta makanan kepada para pengunjung di TWA Telaga Warna. Pengunjung biasanya memberikan makanan berupa kacang rebus, jagung, buah-buahan dan makanan ringan. Monyet ekor panjang akan menghabiskan makanannya di daratan bersama kelompoknya sebelum akhirnya kembali ke atas pepohonan. Penelitian dari Djuwantoko dkk (2008) menunjukkan, bahwa monyet ekor panjang jantan dewasa menunjukkan perilaku agresif yang paling intensif dibanding kelompok jenis kelamin dan kelompok umur yang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa monyet ekor panjang memiliki perilaku agresif terhadap pengunjung wisatawan terutama ketika ingin memperoleh makanan. Namun karena interaksi dengan manusia inilah yang membuat monyet ekor panjang tidak lagi memiliki sifat alamiah sesuai di habitat hutan aslinya. Perilaku yang ditunjukkan oleh objek terlihat adanya keagresifan kepada pengunjung TWA Telaga Warna. Hal ini membuktikan tidak adanya rasa takut monyet ekor panjang terhadap manusia, yang pada dasarnya monyet ekor panjang memiliki sifat alamiah takut terhadap ancaman manusia. Perilaku monyet ekor panjang secara alami menurut Djuwantoko, dkk. (2008) tidak meresahkan masyarakat, jika populasi monyet ekor panjang hidup pada habitat aslinya dan relatif tidak berdampingan dengan kehidupan masyarakat. Perilaku monyet ekor panjang mungkin mengalami perubahan ketika kehidupan monyet ekor panjang pindah pada kawasan lain atau berdampingan dengan kehidupan masyarakat, termasuk pada kawasan Hutan Wisata Alam. Monyet ekor panjang termasuk jenis primata sosial yang dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari interaksi sosial atau hidup bersama dengan yang lain (Suwarno, 2014). Interaksi sosial yang dilakukan oleh monyet ekor panjang menimbulkan munculnya berbagai aktifitas yang berbeda antar individu dalam populasi.
    Aktifitas makan merupakan aktifitas rutinitas harian yang dilakukan oleh monyet ekor panjang. Aktifitas makan terdiri dari aktifitas mengambil makanan, memasukkan makanan ke dalam mulut, menyimpan dalam kantung pipi, dan mengunyah serta menelan makanan (Lee, 2012; Melfi & Feiltner, 2002). Feeding tertinggi berada pada tingkat juvenile, dimana dalam pada tingkat ini monyet ekor panjang berada pada fase pertumbuhan. Faktor ini yang membuat perilaku juvenile lebih aktif dari tingkat yang lainnya, dari mulai bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya untuk mendapatkan makanannya. Kera ekor panjang merupakan salah satu jenis satwa pemakan buah (frugivorous). Penggolongan ini didasarkan pada banyaknya bagian tumbuhan yang dimakan oleh monyet ekor panjang tersebut. Namun demikian hasil penelitian Sugiharto dalam Misbah (2010) menunjukkan, bahwa komposisi bagian vegetasi yang dimakan oleh kera ekor panjang terdiri atas : bagian daun sebanyak 49,93 %, buah 38,54%, bunga 6,60% dan lain-lain sebanyak 5,94%. Monyet ekor panjang mempunyai kebiasaan makan yang sangat selektif. Mereka memakan buah dan daun-daun muda dari jenis Ficus, Dillenia Diospyros, Koordersio dendron, Draconto melon, Bambusa sp. dan beranekaragam jenis lainnya (Kurland dalam Misbah, 2010). Berdasarkan data vegetasi tumbuhan yang telah didapat pada penelitian Analisis Vegetasi di TWA Telaga Warna, nilai INP tertinggi terdapat pada tumbuhan Altingia excelsa (193,91%), Ficus ribes (102,19%), Cartanopsis argentea (116,51%) dan Schima wallichii (106,64%), sehingga merupakan pohon yang memiliki peranan penting dalam komunitas. Hal ini menjadi faktor pakan yang sangat mendukung bagi M. fascicularis, dimana pada saat pengamatan terlihat kelompok-kelompok monyet ekor panjang menyukai buah dari tanaman saninten (Cartanopsis argentea). Pengamatan difokuskan pada cara objek memakan buah-buahan, cara makan yang ditunjukkan diawali dengan memegang makanan dengan kedua tangannya selayaknya mengambil dan membuka kulit pada buah, mencium, menggigit sebagian daging buah, mengunyah dan menelannya. Perilaku ini umum dilakukan oleh objek, namun akan terjadi perebutan makanan ketika ada objek lain yang mendekati. Perilaku agresif disini kebanyakan dilakukan oleh individu jantan dewasa terhadap individu monyet ekor panjang yang lebih lemah pada saat pembagian jatah makan. Individu jantan dewasa terlihat ingin menguasai makanan terlebih dahulu. Perilaku agresif akan muncul bila ada monyet lain yang ingin mengambil makanan pada saat individu monyet jantan sedang makan. Pernyataan ini sesuai dengan Watiniasih (2002) dan Tarigan (2009), yang menyatakan bahwa perilaku agresif banyak dilakukan oleh kera jantan dewasa.

    Menurut Wahyuni (2014), biasanya individu dalam kelompok akan menyebar dalam kelompok-kelompok kecil di kawasan wisata alam dan memposisikan diri dekat dengan pengunjung untuk menunggu diberi makanan. Selain itu kegiatan istirahat memiliki proporsi tinggi akibat dari tingginya aktivitas lokomosi sehingga kelompok membutuhkan lebih banyak waktu untuk istirahat. Cuaca buruk seperti hujan deras dan kabut yang sering terjadi di kawasan Telaga Warna juga membuat kelompok lebih sering beristirahat.
    Kondisi habitat berpengaruh terhadap kerapatan populasi monyet. Kepadatan populasi

    hutan sekunder umumnya lebih tinggi daripada hutan primer. monyet ekor panjang jarang sekali berpindah tempat. M.fascicularis akan berpindah ketika sumber pangan yang ada di dekatnya akan habis. Monyet adalah satwa terrestrial dan analisis rata-rata posisi ketinggian aktivita menunjukkan bahwa monyet cenderung menempati strata tajuk pohon yang lebih rendah daripada populasi primata lainnya. Habitat monyet ekor panjang pada umumnya tersebar mulai dari hutan hujan tropika, hutan musim, hutan rawa mangrove. monyet banyak dijumpai di habitat habitat yang terganggu, khususnya daerah riparian (tepi sungai, tepi danau, atau sepanjang pantai) dan hutan sekunder dekat dengan areal perladangan. Selain itu juga terdapat di rawa mangrove yang kadang kadang monyet hanya satu-satunya spesies dari anggota primata yang menempati daerah tersebut. Di daerah pantai kadang-kadang monyet terdapat secara bersamaan dengan spesies lain seperti lutung (Presbytis cristata) (Nugroho, 2015).
    Analisis Data Persentase Total Perilaku dalam Tingkatan Hirarki Macaca fascicularis


    Gambar 2. Persentase total aktifitas jantan dewasa

    Berdasarkan data pada kedua diagram diatas menunjukkan aktifitas tertinggi pada jantan dewasa            berupa mooving, feeding dan resting. Jantan dewasa lebih sering menghabiskan waktunya untuk beristirahat, namun aktifitas ini akan dilakukannya setelah aktif untuk bergerak mencari makan dari satu pohon ke pohon lainnya. Perilaku jantan dewasa lebih agresif dibandingkan dengan tingkat yang lainnya pada saat perebutan makanan. Terlihat ketika pengunjung memberikan makanan untuk monyet ekor panjang yang lainnya, jantan dewasa langsung mendekati dan bersikap agresif untuk merebut makanan tersebut. Pernyataan ini sesuai dengan Watiniasih (2002) dan Tarigan (2009), yang menyatakan bahwa perilaku agresif banyak dilakukan oleh kera jantan dewasa.
    Ada hal lain yang dilakukan oleh jantan dewasa yang terus aktif bergerak selain untuk mencari pakan, yaitu untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Jantan dewasa banyak terlihat aktif untuk melakukan pendekatan (courtship) dan kawin (mating). Hillyar (2001); Grassi (2002); dan Andrews (2003) menyatakan bahwa inisiasi untuk aktivitas kawin banyak dilakukan oleh jantan dewasa. Pada musim kawin pejantan kawin dengan beberapa betina, begitu pula sebaliknya yang betina kawin dengan beberapa pejantan. Kehidupan poligami dan poliandri berlaku di kelompok mereka dan dalam satu kelompok ada satu pejantan yang dominan (Nugroho, 2015). Jantan dewasa lebih banyak beristirahat setelah pergerakan mencari makan dan kebutuhan makannya terpenuhi. Objek manipulasi dengan menggunakan batu atau ranting yang berada didekatnya terlihat banyak dilakukan oleh monyet ekor panjang.


    Gambar 3. Persentase total aktifitas betina dewasa

    Diagram diatas menunjukkan persentase aktifitas betina dewasa, aktifitas tertinggi terdapat pada mooving, feeding. Namun pada setiap aktifitas cenderung seimbang dengan angka persentase yang tidak terpaut jauh. Betina dewasa dalam setiap aktifitas sering untuk mencari makan, hal ini dilakukan untuk membantu tingkat kesuksesan reproduksinya. Karena untuk membantu proses reproduksi, nutrisi yang dibutuhkan harus terpenuhi. Aktifitas yang dilakukan betina dewasa pada saat musim kawin tiba lebih sering beristirahat untuk menunggu lawan jenisnya, dan perilaku grooming dilakukan erat kaitannya untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan lawan jenisnya. Terlihat pada beberapa objek saat pengamatan, betina dewasa selalu berjalan beriringan dengan pejantan dewasa dan diikuti dengan aktifitas grooming. Grooming merupakan kegiatan social affiliation yang dilakukan oleh individu dalam populasi monyet. Grooming dilakukan dengan mengambil, membelai, dan menjilati bulu pasangan (Lee, 2012). Menurut Kamilah dkk (2013), grooming merupakan perilaku sosial dalam bentuk sentuhan yang umum dilakukan dalam populasi primata. Perilaku ini dilakukan dengan tujuan untuk merawat dan mencari kutu di semua rambutnya. Ada dua macam cara grooming yaitu allogrooming (grooming yang dilakukan secara berpasangan atau dilakukan dengan individu lain), dan autogrooming (grooming yang dilakukan sendiri atau tidak berpasangan). Allogrooming yang dilakukan secara berpasangan diasumsikan sebagai perilaku kooperatif bergabung yang akan menghasilkan keuntungan bagi kedua pihak. Allogrooming juga merupakan satu cara untuk mempererat hubungan antar individu.
    Perilaku grooming paling sedikit dilakukan di kelompok depan dibandingkan kelompok tengah dan belakang. Perilaku ini merupakan perilaku sosial yang dapat dilakukan oleh kera baik antar usia dan antar jenis kelamin (Chalmers, 1979), oleh karena itu perilaku ini akan dipengaruhi oleh besarnya jumlah anggota kelompok. Semakin besar jumlah anggota kelompok maka perilaku grooming akan semakin jarang dilakukan dan sebaliknya jika jumlah anggota kelompok sedikit (Kusumo, 2007).




    Gambar 4. Persentase total aktifitas betina dewasa dan anak

    Perilaku sosial paling banyak dilakukan pada betina dewasa dan anak yaitu perilaku feeding dan social. Betina induk yang mendekap anaknya di dada, dilakukan sebagai bentuk perlindungan betina induk terhadap anak-anaknya yang masih dibawah umur (infant). Intensitas perilaku sosial paling banyak dilakukan pada saat anak berusia lebih tua, karena sudah cenderung berani untuk melakukan sosial dengan teman seumurannya atau melakukan grooming dengan betina dewasa lain selain induknya. Ketika betina induk berjalan lalu mendekati makanan, anak yang dibawanya berusaha sendiri untuk mencoba mencari makanannya sendiri yang berada di sekitar betina induk makan. Namun terkadang, karena keterbatasan makanan betina induk memberikan makanannya kepada sang anak yang terlebih dahulu telah dirasakan oleh betina induk. Anak monyet lebih banyak melakukan aktivitas mendapatkan makan dari pemberian induknya. Anak monyet merupakan monyet yang lebih lemah dari monyet dewasa atau remaja, sehingga anak monyet lebih memilih untuk mendapatkan makan dari alam atau diberi monyet lainnya (Tarigan, 2009).           

    Gambar 5. Persentase total aktifitas Juvenile

    Pada masa juvenile persentase untuk bersosialisasi sangat kecil, hal ini karena pada saat masa juvenil merasa bahwa individu lain merupakan pesaing. Maka dari itu mereka lebih sering hidup dengan cara individual, sehingga pada masa juvenile ini sangat sering melakukan moving hal ini sekaligus dalam rangka mencari makanan. Aktifitas makan merupakan aktifitas rutinitas harian yang dilakukan oleh monyet ekor panjang. Pada pengamatan juvenile aktifitas makan teramati sebanyak (24%) dan (36%), dari total keseluruhan aktifitas yang teramati. Aktifitas makan ini menurut Widarteti dkk. (2009) berpengaruh langsung terhadap kelangsungan hidup individu monyet ekor panjang. Ada beberapa cara monyet ekor panjang dalam aktivitas makan. Hal itu tergantung dari lokasi makan, jika mereka makan di atas pohon akan meraih dan memetik kemudian memasukkan makan tersebut. Apabila aktivitas makan dilakukan di atas tanah maka mereka akan mengambil dan mengendus-endus terlebih dahulu kemudian memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut ( Pombo 2004 ).
    Keaktifan monyet ekor panjang pada masa juvenile merupakan yang paling tinggi. Hal ini ditunjukkan pada saat pengamatan sangat sulit dapat terus diamati karena pergerakannya yang lincah. Mooving dari satu pohon ke pohon lainnya dengan banyak cara yang dilakukan yaitu bergelantungan pada akar-akar gantung pohon dengan kedua tangannya, berjalan dengan empat kaki (quandrapedalisme) yang dilakukan diatas tanah maupun pada dahan-dahan pohon, dan memanjat batang pohon.  Perilaku sosial pada juvenil biasanya dilakukan dengan betina dewasa yaitu grooming (allogrooming) ataupun yang dilakukan sendiri (autogrooming).

    Gambar 6. Persentase total aktifitas Jantan alpha

    Persentase total aktifitas yang dilakukan oleh pejantan alpha tertinggi pada mooving dan resting. Hal dilihat dari seringnya pejantan alpha untuk melakukan mooving, lalu berdiam diri pada suatu tempat. Aktifitas inaktif atau resting merupakan aktifitas monyet ekor panjang ketika istirahat. Sinaga (2010), menyatakan bahwa aktifitas ini sering dilakukan di tajuk-tajuk pohon karena tajuk pohon yang rindang merupakan tempat yang disukai monyet ekor panjang. Aktifitas inaktif menurut Lee (2012) merupakan aktifitas nonsosial yang terjadi dalam suatu populasi berupa aktifitas duduk, berdiri, berbaring, dan menatap sekeliling. Widarteti, dkk (2009) menyatakan bahwa aktifitas istirahat merupakan aktifitas yang penting dilakukan oleh individu setelah melakukan aktifitas makan. Kurangnya perilaku social yang dilakukan oleh pejantan alpha terlihat dengan seringnya untuk menyendiri dan menjauh dari monyet ekor panjang lainnya. Namun ketika mulai aktif untuk mencari makan maka pejantan alpha akan bertindak lebih agresif terhadap monyet ekor panjang yang sedang melakukan aktifitas yang sama.
    Monyet ekor panjang hidup dalam suatu kawanan, bersosialisasi satu dengan yang lainnya. Satu kera jantan dewasa merupakan monyet terkuat yang disebut dengan individu Alpha, memimpin suatu kelompok dan mendominasi anggota lainnya (Engelhardt et al., 2004). Dengan demikian individu ini terlihat sangat banyak melakukan pergerakan dan biasanya lebih banyak melakukan perilaku agresif (Watiniasih, 2002) untuk melindungi kelompoknya.

               



















    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 14.06.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, EKOLOGI DASAR

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.