Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Sabtu, 18 Juni 2016

    ANALISIS VEGETASI DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM DAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE KUADRAT ( QUADRAT SAMPLING TECHNIQUE )


    ANALISIS VEGETASI  DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM DAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU UTARA, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR DENGAN METODE KUADRAT ( QUADRAT SAMPLING TECHNIQUE )

    Ratna Lestyana Dewi1), Ria Suci Anisa1), Eko Jatmiko1), Rizky Hastuti Purwaningsih1), Ferial Hamedan1), Dara Mutiara Fiesca1), Arman Gaffar1)


    1)Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


    Abstract

    Vegetation analysis is a way of studying the arrangement (component type) and form (structure) of vegetation or plant communities. The purpose to study forest stands items, namely the level of the tree and stand levels of regeneration and studying the undergrowth, is the undergrowth is a basic type of vegetation found under forest stands except the regeneration of forest trees, grasslands or reeds and vegetation semakbelukar. Activity vegetation analysis was conducted in Telaga Color, Tugu Village, District Cisarua, Bogor Regency. On the day Saturday, November 21, 2015. The materials used and Became the object of analysis of vegetation is forest stands Natural Park and Nature Reserve Telaga color. Tool used for vegetation analysis of data retrieval is using raffia rope (60 x 20 m), meter tape, plastic samples, cutter, gloves, thermometers, Global Positioning System (GPS), soil moisture testerdan stationery and tabulation of the data. The method used is the least square method (Quadrat Sampling Technique). Results of the analysis of a broad swath of vegetation that is the determination of minimum may use nested plots (plot-rise) According to the method used, the minimum plot represents the community to be Analyzed. Determination of dominance of a species can be determined by calculating INP (Importance Value Index). Conclusion Altingia excelsa species (tree vegetation) had the highest INP value of 193.91%. Diversity of a species can be calculated by the formula H ': -Σ PI. Ln PI. Based on the assessment category of the species diversity, the vegetation seedlings, saplings, poles and trees in the Nature Telaga Warna Including medium category (H '= 1-3).


    Keywords: Analysis of Vegetation, Quadrat Sampling Technique, Nested plot, Importance Value Index, Species Diversity



     

    PENDAHULUAN

    Struktur vegetasi dapat didefinisikan sebagai organisasi individu – individu tumbuhan dalam ruang yang membentuk tegakan dan secara lebih luas membentuk tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang biasanya terdiri dari berbagai jenis yang menempati habitat tertentu seperti hutan.
    Pengertian hutan oleh Dengler merupakan suatu kumpulan pohon-pohon atau tumbuhan berkayu lainnya yang pada kerapatan dan luas tertentu mampu menciptakan iklim setempat serta keadaan ekologis berbeda dengan di luarnya. Hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan hutan, margasatwa dan lingkungannya begitu erat sehingga hutan dapat dipandang suatu sistem ekologi atau ekosistem. Hutan merupakan suatu ekosistem yang merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor biotik dan abiotik. Terjadinya perubahan pada faktor-faktor tersebut di atas akan membawa pengaruh terhadap keadaan struktur dan komposisi tumbuhan (Arief, 2001).
    Kawasan Hutan Telaga Warna memiliki tipe vegetasi hutan hujan pegunungan yang terdiri dari berbagai macam jenis pepohonan. Telaga Warna terletak di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Kawasan Telaga Warna meliputi Taman Wisata Alam seluas 5 hektar dan Cagar Alam seluas 368,25 hektar serta Cagar Alam Telaga Warna memiliki keadaan topografi yang bergelombang dengan ketinggian 1.400-1.887 meter di atas permukaan laut dan.
    Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis Vegetasi dalam Ekologi tumbuhan  berguna untuk mengetahui berbagai jenis vegetasi dalam suatu komunitas atau populasi tumbuhan yang berkembang dalam skala waktu dan ruang. Analisis ini meliputi pengamatan habitus yang terdapat didalam petak/plot yang telah ditentukan. Habitus tersebut terdiri atas semak, pancang, tiang dan pohon yang tumbuh di Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Talaga Warna.
    Analisis vegetasi hutan antara lain ditunjukkan untuk mengetahui komposisi jenis dan struktur suatu hutan. Data tersebut berguna untuk mengetahui keseimbangan komunitas hutan, menjelaskan interaksi didalam dan antar spesies, dan memprediksi kecenderungan komposisi tegakan di masa mendatang.
    Keanekaragaman spesies (H’) pada suatu vegetasi menunjukkan jumlah total proporsi suatu spesies relatif terhadap jumlah total individu yang ada. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies. Semakin banyak jumlah spesies dengan proporsi yang seimbang menunjukkan keanekaragaman yang semakin tinggi. Sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman spesies yang rendah jika komunitas itu disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya ada sedikit saja spesies yang dominan.    Komunitas tumbuhan hutan memiliki dinamika atau perubahan, baik yang disebabkan oleh adanya aktivitas alamiah maupun manusia (Baker & Wilson,1999).
    Indeks Nilai Penting (INP) adalah parameter kuantitatif yang dapat digunakan untuk menyatakan tingkat dominansi spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan.Kategori penilaian untuk keanekaragaman spesies adalah :
                H’ <1               : Keanekaragaman rendah, penyebaran rendah, kestabilan komunitas rendah
                1 <H’<3          : Keanekaragaman sedang, penyebaran sedang, kestabilan komunitas sedang
                H’>3                : Keanekaragaman tinggi, penyebaran tinggi, kestabilan komunitas tinggi
    Analisis vegetasi (anveg) dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan, diantaranya:
    1)      Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
    2)      Mempelajari tegakan tumbuhan bawah, yang dimaksud dengan tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput atau alang-alang, dan vegetasi semak belukar.
    METODOLOGI

    Waktu dan Lokasi Penelitian
               
    Kegiatan analisis vegetasi ini dilaksanakan di Telaga Warna, Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Tepatnya di Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Telaga Warna pada hari  Sabtu, 21 November  2015 pukul 15.00-17.00 WIB.
     















    Bahan dan Alat
    Bahan yang digunakan dan menjadi objek analisis vegetasi adalah tegakan hutan Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Telaga Warna.
    Alat yang di gunakan untuk pengambilan data analisis vegetasi adalahmenggunakan tali raffia (60 x 20 m), pita meter, plastik sampel,  cutter, sarung tangan, termometer, Global Positioning System (GPS), soil moisture testerdan alat tulis serta tabulasi data.

    Cara Kerja
    Metode kuadrat (Quadrat Sampling Technique) merupakan teknik survey vegetasi yang paling umum dilakukan untuk semua tipe komunitas tumbuhan.Bentuk plot yang dibuat tergantung dari kondisi vegetasi dan efisiensi sampling pola penyebarannya. Pada kegiatan analisis vegetasi ini digunakan pembuatan plot bertingkat (nested plot) yang umum digunakan untuk mengetahui komposisi vegetasi dari seluruh stratifikasi tumbuhan mulai dari semai dan tumbuhan bawah (2 x 2 m), pancang (5 x 5 m), tiang (10 x 10 m) serta pohon dewasa (20 x 20 m). Pertama menentukan lokasi pengamatan. Kemudian dibuat plot seperti Gambar 1.



                                                   














               
                            Gambar 1. Plot bertingkat (nested plot)




    Pengamatan pada setiap vegetasi dengan karakteristik:
    •    Semai dan tumbuhan bawah (Permudaan tingkat kecambah sampai setinggi <1.5 m
    •    Pancang (Permudaan dengan >1,5 m sampai pohon muda berdiameter <10 cm
    •    Tiang (Pohon Muda berdiameter 10cm sampai 20 cm)
    •    Pohon dewasa (diameter >20 cm
    Semua jenis vegetasi yang ada di dalam plot dicatat nama jenis ( lokal dan ilmiah), jumlah individu suatu jenis, dan persentase cover pada tabulasi data yang tersedia. Untuk pancang, tiang dan pohon data yang dicatat juga meliputi DBH (Diameter Breast High).
    Jika ada sampel yang belum teridentifikasi, maka sampel tumbuhan tersebut diambil untuk dijadikan herbarium atau didokumtasikan menggunakan kamera. Pengukuran faktor fisik juga dilakukan pada masing-masing plot.








    Analisa Data

    Data vegetasi yang telah didapat dianalisis dengan formulasi metode kuadrat untuk menghitung besarnya Frekuensi Jenis (Fi), Frekuensi Relatif Jenis (FR), Kerapatan Jenis (Ki), Kerapatan Relatif Jenis (KR), Dominansi Jenis (Di), Dominansi Relatif Jenis (DR), Indeks Nilai Penting (INP),dan Keanekaragaman Jenis (H’).
    ·         Frekuensi Jenis (Fi)
    Fi = Jumlah plot ditemukannya jenis-i
                Jumlah seluruh plot sampel
    ·         Frekuensi Relatif Jenis (FR)
    FR =              Frekuensi jenis-i              X 100%
                Frekuensi total seluruh jenis
    ·         Kerapatan Jenis (Ki)
    Ki =          Jumlah individu jenis-i
                Luas plot sampel

    ·         Kerapatan Relatif Jenis (KR)
    KR =            Kerapatan jenis-I            X 100%
                Kerapatan total  seluruh jenis
    ·         Dominansi Jenis (Di)
    Fi = Rata-rata luas basal area jenis-i
                Luas plot sampel
    ·         Dominansi Relatif Jenis (DR)
    Fi =                Dominansi jenis-I         X 100%
            Dominansi total seluruh jenis
    ·         Indeks Nilai Penting (INP)
    INP = FR + KR (untuk semai dan tumbuhan bawah)
    INP = FR + KR + DR (untuk tiang, pancang dan pohon)
    ·         Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’)
    s
    H’ = -∑ Pi ln Pi
              i=1
    Keterangan : Pi : Kelimpahan suatu jenis yang diperoleh dengan (ni/N)
    ni : Jumlah individu suatu jenis-i
    N: Jumlah seluruh individu

               


    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Tabel 1. Hasil Pengukuran Faktor Fisik

    Plot
    pH tanah
    Suhu tanah
    (oC)
    Kelembaban tanah
    Suhu udara
    (oC)
    Kelembaban udara (%)
    2
    6,8
    24
    1
    22,4
    75
    5
    6,9
    22
    1
    19,9
    81


    Berdasarkan hasil pengukuran faktor fisik yang dilakukan di dua lokasi yaitu, pada plot 2 memiliki pH tanah 6,8, suhu tanah 24 oC, kelembaban tanah 1, suhu udara 22,4 oC, dan kelembaban udara 75 %. Sedangkan pada plot 5 memiliki pH tanah 6,9, suhu tanah 22 oC, kelembaban tanah 1, suhu udara 19,9 oC, dan kelembaban udara 81 %.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan jenis adalah faktor fisik, faktor biotik, dan faktor kimia. Keberhasilan setiap jenis untuk mengokupasi suatu area dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi secara optimal terhadap seluruh faktor fisik (temperatur, cahaya, struktur tanah, kelembaban dan lain-lain), faktor biotik (interaksi antar spesies, kompetisi, parasitisme, dan lain-lain) dan faktor kimia yang meliputi ketersediaan air, oksigen, pH, nutrisi dalam tanah, dan lain-lain (Krebs, 1994).







    Tabel 2. Data Analisis Vegetasi Tiang
    Keterangan :Fi=Kerapatan Jenis, FR=Frekuensi Relatif Jenis, Ki=Kerapatan Jenis, KR=Kerapatan Relatif Jenis, Di=Dominansi Jenis, DR=Dominansi Relatif Jenis, INP=Indeks Nilai Penting


    Berdasarkan hasil data yang diperoleh jumlah spesies yang berada di dalam plot dan termasuk ke dalam jenis tiang bejumlah 5 spesies. Nilai Frekuensi Jenis (Fi) dan Frekuensi Relatif Jenis (FR) terbesar pada Musa paradisiaca dan  Villebrunea rubescens sebesar 25%. Musa paradisiacal di Cagar Alam Telaga Warna merupakan tumbuhan terna yang berukuran besar yang memiliki diameter 10,5 cm sehingga termasuk kategori tiang. Berkaitan dengan nilai frekuensi suatu jenis, Kershaw (1979) dan Crawley (1986) mengemukakan bahwa frekuensi suatu jenis dalam komunitas tertentu besarannya ditentukan oleh metode sampling, ukuran kuadrat, ukuran tumbuhan dan distribusi spasialnya. Nilai frekuensi suatu jenis dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi hanya dapat memberikan informasi tentang kehadiran tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu pada masing-masing plot. Distribusi tumbuhan pada suatu komunitas tertentu dibatasi oleh kondisi lingkungan dalam arti luas. Beberapa jenis dalam hutan tropika teradaptasi dengan kondisi di bawah kanopi, tengah dan diatas kanopi yang intensitas cahanya berbeda-beda (Balakrishnan et al., 1994). Nilai Kerapatan Jenis (Ki) dan Kerapatan Relatif Jenis (KR) terbesar pada Ficus ribes dan Musa paradisiaca. Nilai Dominansi Relatif Jenis (DR) tertinggi terdapat pada jenis Ficus ribes yaitu sebesar 25,47% sedangkan dominasi relatif terendah terdapat pada jenis Musa paradisiacal yaitusebesar 11,93%. Nilai Dominansi Relatif menunjukkan proporsi antara luas tempat yang tertutupi oleh pohon dengan luas total habitat menunjukkan jenis tumbuhan yangdominan di dalam komunitas (Indriyanto, 2006). Odum (1971) menyebutkan bahwa jenis yang dominan mempunyai produktivitas yang besar. Nilai dominasi masing-masing jenis dihitung berdasarkan besarnya nilai diameter batang setinggi dada sehingga besarnya nilai dominasi ditentukan oleh kerapatan jenis dan ukuran rata-rata diameter batang. Keberadaan jenis dominan menjadi suatu indikator bahwa jenis tersebut berada pada habitatyang sesuai dalam mendukung pertumbuhannya.
    Indeks nilai penting merupakan hasil penjumlahan nilai relatif ketiga parameter (kerapatan, frekuensi dan dominasi) yang telah diukur sebelumnya, sehingga nilainya juga bervariasi. Nilai INP yang tertinggi pada tabel yaitu pada tanaman Musa paradisiaca  yaitu sebesar 77,09% dan Ficus ribes sebesar 71,30%. Hal ini disebabkan oleh kemampuan tanaman pada genus untuk memperoleh sumber cahaya sangat baik. Pada Musa paradisiaca, sifat pertumbuhannya yang dimiliki bersifat pioner yang akan selalu tumbuh dan mampu beradaptasi pada iklim yang ektrim, baik suhu tinggi maupun suhu rendah. Besarnya indeks nilai penting menunjukkan peranan jenis yang bersangkutan dalam komunitasnya atau pada suatu daerah (lokasi penelitian).






    Tabel 3. Data Analisis Vegetasi Pancang

    Keterangan : Fi=Kerapatan Jenis, FR=Frekuensi Relatif Jenis, Ki=Kerapatan Jenis, KR=Kerapatan Relatif Jenis, Di=Dominansi Jenis, DR=Dominansi Relatif Jenis, INP=Indeks Nilai Penting


    Hasil pengamatan menunjukan jumlah jenis yang ditemukan di tingkat pancang pada plot adalah 9 spesies dengan nilai INP tertinggi pada jenis Villebrunea rubescens sebesar 185,60%. Nilai INP tertinggi yang didapat dikarenakan jumlah individu yang ditemukan paling banyak diantara jenis yang yang lain. Hal ini dikarenakan tanaman  Villebrunea rubescens mampu beradaptasi dengan berbagai jenis tanah. Selain itu, tanaman ini dikenal dapat tumbuh dengan cepat dan dapat memperbaiki kondisi kimia dan fisika tanah melalui kemampuanya menyediakan pupuk hijau.
    Nilai FR tertinggi yaitu jenis Villebrunea rubescens sebesar 23,08 % dan Ficus ribes sebesar 15,38%.  Nilai kerapatan
    relatif jenis tertinggi Ficus ribes dengan nilai KR yaitu 45,16%. Nilai ini menunjukkan jumlah individu spesies bersangkutan pada satuan luas tertentu, maka nilai kerapatan merupakan gambaran mengenai jumlah spesies tersebut pada lokasi penelitian. Semakin banyak jumlah individu spesies tersebut di suatu daerah (lokasi penelitian) maka akan semakin tinggi nilai kerapatan relatifnya, dan sebaliknya jika di suatu daerah (lokasi penelitian) sedikit jumlah individunya makan akan semakin rendah nilai kerapatan relatifnya.





    Tabel 4. Data Analisis Pohon

    Keterangan : Fi=Kerapatan Jenis, FR=Frekuensi Relatif Jenis, Ki=Kerapatan Jenis, KR=Kerapatan Relatif Jenis, Di=Dominansi Jenis, DR=Dominansi Relatif Jenis, INP=Indeks Nilai Penting


    Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 4, jenis vegetasi yang termasuk ke dalam tingkat pohon pada plot terdapat 10 jenis. Nilai INP tertinggi berada pada tanaman jenis Altingia excels atau rasamala yaitu dengan nilai INP 193,91% sehingga merupakan pohon yang memiliki peranan penting dalam komunitas. Tanaman berbunga inimerupakan sumber makanan bagi burung-burung pemakan serangga (insectivora). Serangga-serangga yang hinggap pada bunga Altingia excelsa menjadi sumber makanan untuk para burung di Cagar Alam Telaga Warna. Indeks Nilai Penting (INP) adalah indeks kepentingan yang menggambarkan pentingnya peranan suatu jenis vegetasi dalam ekosistemnya. Apabila nilai INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi, maka jenis itu sangat mempengaruhi kestabilan dalam ekosistem tersebut. Selain itu INP juga berguna untuk menentukan dominansi jenis tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya , karena dalam komunitas suatu komunitas yang bersifat heterogen data parameter vegetasi sendiri-sendiri dari nilai frekuensi, kerapatan, dan dominansinya tidak dapat menggambarkan secara menyeluruh, maka untuk menentukan nilai pentingnya yang mempunyai kaitan dengan struktur komunitasnya dapat diketahui dari indeks nilai pentingnya (Ferianita, 2007).
    Nilai kerapatan relatif (KR) tertinggi terdapat pada jenis Acer laurinum dengan nilai sebesar 45,71%. Loveless (1989) mengemukakan bahwa sebagian tumbuhan berhasil tumbuh dalam kondisi lingkungan yang beraneka ragam sehingga tumbuhan tersebut cenderung tersebar luas. Nilai frekuensi relatif (FR) tertinggi juga terdapat pada jenis  Altingia excelsa, Castanopsis argentea, Castanopsis javanica dan Ficus ribes dengan nilai sebesar 14,29%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa jenis tersebut merupakan jenis pohon yang dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan pegunungan yang cukup kritis. Berdasarkan nilai FR, maka dapat dilihat proporsi antara jumlah pohon dalam suatu jenis dengan jumlah jenis lainnya di dalam komunitas dan juga dapat menggambarkan penyebaran individu di dalam komunitas. Penyebaran dan pertumbuhan pohon sangat dipengaruhi oleh daya tumbuh biji, topografi, keadaan tanah, dan faktor lingkungan lainnya. Pohon memegang peranan yang sangat penting sebagai penyususun komunitas hutan dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan, baik dalam mencegah erosi, siklus hidrologi, menjaga stabilitas iklim global, dan sebagai penyimpan karbon.


    Tabel 5. Data Analisis Semai



    Keterangan : Fi=Kerapatan Jenis, FR=Frekuensi Relatif Jenis, Ki=Kerapatan Jenis, KR=Kerapatan Relatif Jenis, Di=Dominansi Jenis, DR=Dominansi Relatif Jenis, INP=Indeks Nilai Penting

               

    Hasil pengamatan menunjukan terdapat 22 jenis semai yang ditemukan di seluruh plot pada lokasi pengamatan. Menurut Dombois & Ellenberg (1974) struktur vegetasi dalam analisis vegetasi hutan dapat dinyatakan dalam bentuk nilai indeks. Indeks nilai penting menunjukan tingkat penguasaan suatu jenis terhadap jenis-jenis lain dalam suatu komunitas. Semakin tinggi nilai INP suatu jenis, berarti semakin besar dominansi jenis tersebut pada temoat tumbuhnya. INP merupakan nilai yang paling representatif dalam memberikan gambara dominansi suatu jenis pada tempat tumbuhnya. INP merupakan penjumlah dari nilai kerapatan Relatif (KR) dan Frekuensi Relatif (FR). Skala INP yang sering dijadikan sebagai perhitungan adalah berkisar antara 0-300. Nilai INP juga memberikan gambara tentang seberapa besar peranan suatu jenis pada ekosistem tersebut. Hasil perhitungan INP pada tingkat semai diatas menunjukan bahwa Diplazium esculentum mempunyai nilai INP tertinggi dengan nilai 28,70 %. Nilai Frekuensi Relatif Jenis (FR) tertinggi pada Eleiodoxa confertayaitu sebesar 11,11 %. Nilai Kerapatan Relatif Jenis (KR) terbesar pada Diplazium esculentum yaitu 25 %.


    Grafik 1. Tiga Spesies Tumbuhan dengan INP Tertinggi pada Setiap Habitus
     


















    INP(Indeks Nilai Penting) digunakan untuk menetapkan dominansi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain INP menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. INP dihitung berdasarkan penjumlahan nilai relatif ketiga parameter (kerapatan, frekuensi dan dominansi) (Soerianegara dan Indrawan,2005). INP memiliki nilai yang bervariasi.Berdasarkan hasil pengamatan analisis vegetasi yang telah dilakukan, diketahui dari INP terdapat 3 spesies tertinggi dalam setiap habitus. Pada habitus semai, terdapat Diplazium esculentum dengan INP sebesar 28,7%, lalu yang kedua terdapat  Cornus florida dengan INP sebesar 19,91% dan Eleiodoxa conferta dengan INP sebesar 18,52%. Kemudian pada habitus pancang, terdapat Villebrunea rubescens%, Laportea stimulans dan Ficus ribes dengan masing-masing INP sebesar 185.6%, 151.83% dan 143.03%. Selanjutnya terdapat Musa paradisiaca dengan INP 77.09%, Ficus ribes dengan INP 52.39%, dan Villebrunea rubescens dengan INP 51.22% pada habitus tiang. Lalu selanjutnya pada habitus terakhir yaitu habitus pohon terdapat Altingia excelsa dengan INP 193.91%, Macropanax concinnus dengan INP 146.89% dan Castanopsis javanica dengan INP 139.03%.
                Besarnya INP menunjukkan peranan jenis yang bersangkutan dalam komunitasnya atau dalam lokasi pengamatan. Sehingga dari pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa vegetasi dominan yang tersebar pada hutan Cagar Alam Telaga Warna adalah jenis Altingia excelsa.  Tumbuhan yang memiliki INP terbesar dapat digunakan untuk menentukan penanaman untuk vegetasi tersebut (Surasana, 1990). INP menyatakan peran suatu tumbuhan di dalam komunitas. Makin besar INP suatu jenis tumbuhan maka makin besar pula peranan tumbuhan tersebut terhadap komunitas yang diukur. Jika INP merata pada banyak jenis, dapat dikatakan keanekaragaman hayati pada daerah tersebut semakin tinggi.Tumbuhan-tumbuhan dengan nilai INP tertinggi memiliki peranan pada lingkungan seperti habitat berbagai serangga, penghasil sumber pangan bagi burung, serta tempat tumbuh untuk tumbuhan epifit.



    Grafik 2. Keanekaragaman dari Setiap Vegetasi



    Menurut Barbour et al., (1987),indeks keanekaragaman spesies merupakan informasi penting tentang suatu komunitas. Semakin luas areal sampel dan semakin banyak spesies yang dijumpai, maka nilai indeks keanekaragaman spesies cenderung akan lebih tinggi. Berdasarkan kategori penilaian keanekaragaman spesies, maka vegetasi semai, pancang, tiang dan pohon di Cagar Alam Telaga Warna termasuk kategori keanekaragaman sedang (H’ = 1-3) dengan penyebaran sedang dan kestabilan komunitas sedang. Tingginya keanekaragaman spesies vegetasi semai dikarenakan jumlah spesies yang lebih banyak (22 spesies) dibandigkan dengan vegetasi  pancang (9 spesies), tiang (6 spesies) dan pohon (10 spesies).
    Semakin besar keanekaragaman suatu komunitas maka semakin besar kompleksitas komunitas tersebut, karena dalam komunitas tersebut terjadi interaksi spesies yang tinggi pula. Keanekaragaman yang makin tinggi merupakan cerminan dari stabilnya suatu komunitas, artinya setiap spesies atau bahkan individu telah memiliki tempat tersendiri dalam habitatnya (niche), sehingga jika terdapat gangguan sekecil apapun akan menyebabkan terganggunya stabilitas tersebut. Semakin tinggi nilai indeks H’ maka semakin tinggi pula keanekaragaman spesies, produktivitas ekosistem, tekanan pada ekosistem, dan kestabilan ekosistem.





    KESIMPULAN


    Kesimpulan dari praktikum lapangan mengenai analisis vegetasi yang dilaksanakan di Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Telaga Warna antara lain: penentuan luas petak minimum dapat menggunakan nested plot (plot bertingkat) sesuai metode yang digunakan, petak minimum tersebut mewakili komunitas yang akan dianalisis. Penetapan dominansi suatu jenis dapat ditetapkan dengan menghitung INP (Indeks Nilai Penting). Berdasarkan hasil pengamatan, spesies Altingia excelsa (vegetasi pohon) memiliki INP tertinggi dengan nilai 193.91. keanekaragaman suatu jenis dapat dihitung dengan rumus H’ : -∑ PI. Ln PI. Berdasarkan kategori penilaian keanekaragaman spesies tersebut, maka vegetasi semai, pancang, tiang dan pohon di Cagar Alam Telaga Warna termasuk kategori sedang (H’ = 1-3). Jenis vegetasi pada tingkat semai, Diplazium esculentum mempunyai nilai INP tertinggi dengan nilai 28,70 %. Jenis vegetasi pada tingkat pancang INP tertinggi pada jenis Villebrunea rubescens sebesar 185,60%. Jenis vegetasi pada tingkat tiang,  tumbuhan yang memiliki nilai INP tertinggi adalah Musa paradisiaca  yaitu sebesar 77,09%. Jenis vegetasi pada tingkat pohon,  tumbuhan yang memiliki nilai INP tertinggi adalah Altingia excelsa atau rasamala yaitu dengan nilai INP 193,91%.



    DAFTAR PUSTAKA

    Arief, A, 2001. Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius, Jakarta
    Baker, J.P & J.S. Wilson. 1994. A quantitive technique for the identification of canopy stratification and temperate of forest. Journal of Forest Ecology and Management 127 (2000):77-86
    Balakrishan, M., R. Borgstrom and S. W. Bie. 1994. Tropical Ecosystem, a Synthesis of Tropical Ecology and Conservtion. New York: International Science Publisher USA.
    Babrbour, et al. 1987. Terrestrial Plant Ecology. The Benjamin/ Cumming Publishing Company Ins, California
    Crawley, M.J. 1986. Plant Ecology. Cambridge: Blackwell Scientific Publication
    Feranita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. PT Bumi Aksara. Jakarta
    Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara
    Kershaw, K.A. 1979. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology.London: Edward Arnold Publisher.
    Krebs, C.J. 1994. Ecology, The Experimental Analysis of Distribution and Abundance. New York: Addision-Wesley Educational Publishers.
     Loveless, A.R. 1989. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia. Jakarta.
    Mueller-Dombois, D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York: John Wiley & Sons.
    Odum, E. P., 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
    Soerianegara I dan A. Indrawan. 2005. Ekosistem Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.Bogor.
    Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB. Bandung.
    Wijayanti, F. 2015. Modul Praktikum Ekologi Dasar. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta
    Wirakusumah, S. 2003. Dasar-Dasar Ekologi. UI Press. Jakarta






    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 14.03.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, EKOLOGI DASAR

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.