Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Senin, 11 April 2016

    LAPORAN HASIL FIELDTRIP EKOLOGI DASAR

    KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI KAWASAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA, DESA TUGU, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR


    Ratna Lestyana Dewi1), Ria Suci Anisa1), Eko Jatmiko1), Rizki Hastuti Purwaningsih1),  Ferial Hamedan1), Dara Mutiara Fiesca1), Arman Gafar
    1)Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


    Abstract
    A bird is a wildlife which could be found almost in any vegetated environment. The existence of a bird in one area is very important because it could affect the presence and distribution of plant species. The research aims to identify species diversity, distribution of bird species, habitat and analyze the relationship of bird species diversity to habitat in Natural heritage dan Telaga Warna paek of nature. The research was conducted on November, 21. All bird data were collected using a point count method. The vegetation data collected included species, composition and structure by forming a plot measuring. It was found 45 species , 25 families and 231 individuals. The bird species diversity indices (H’) is 3,31, the bird average indices (E) is 0,9 because there is dominance of Collocalia fuiphaga.

    Keywords: bird, diversity, dominance


    PENDAHULUAN



    Burung merupakan satwa liar yang mudah ditemukan hampir pada setiap lingkungan bervegetasi. Habitatnya dapat mencakup berbagai tipe ekosistem, mulai dari ekosistem alami sampai ekosistem buatan. Penyebaran yang luas tersebut menjadikan burung sebagai salah satu sumber kekayaan hayati Indonesia yang potensial. Keberadaan burung dapat berperan dalam keseimbangan ekosistem dan dapat dijadikan sebagai indikator perubahan lingkungan (Alikodra, 2002).
    Keberadaan suatu spesies di suatu tempat tergantung dari adanya sumber pakan dan kondisi habitat yang sesuai. Lingkungan yang berubah akan akan mengakibatkan perubahan kondisi ekologis yang ditandai dengan menurunnya potensi keanekaragaman hayati, khususnya satwa liar. Indonesia memiliki keanekaragaman burung yang cukup tinggi. Tingginya keanekaragaman jenis burung di suatu wilayah didukung oleh tingginya keanekaragaman habitat karena habitat bagi satwa liar secara umum berfungsi sebagai tempat untuk mencari makan, minum, istirahat, dan berkembang biak. Berdasar pada fungsi tersebut, maka keanekaragaman jenis burung juga berkaitan erat dengan keanekaragaman tipe habitat serta beragamnya fungsi dari setiap tipe habitat yang ada di hutan kota. Kelestarian burung dapat dipertahankan dengan melakukan konservasi jenis yang didahului dengan berbagai studi atau penelitian tentang satwa tersebut, antara lain mengenai populasi, habitat dan lingkungan yang mempengaruhinya (Alikodra, 2002).
    Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna merupakan suatu kawasan yang memiliki banyak fungsi salah satunya adalah sebagai habitat burung. Kawasan hutan Telaga Warna ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 481/Kpts/Um/6/1981 tanggal 9 Juni 1956, seluas 268,25 Ha. Kemudian sebagian areal yang meliputi sebuah telaga, berubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) seluas 5 Ha. Dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada, lokasi tersebut mampu mendukung keberlangsungan hidup dari berbagai jenis burung (Bibby, 2000)
    Burung merupakan salah satu komponen ekosistem yang memiliki peranan penting dalam mendukung berlangsungnya suatu siklus kehidupan organisme. Keadaan ini dapat dilihat dari rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan yang membentuk sistem kehidupannya dengan komponen ekosistem lainnya seperti tumbuhan dan serangga. Oleh karena itu keberadaan burung di suatu kawasan sangatlah penting, karena dapat mempengaruhi keberadaan dan persebaran jenis tumbuhan. (Wisnubudi, 2009).
    Persebaran dan keanekaragaman burung pada setiap wilayah berbeda, hal tersebut dipengaruhi oleh luasan habitat, struktur vegetasi, serta tingkat kualitas habitat di masing-masing wilayah (Ferianita, 2007). Burung dapat digunakan sebagai indikator perubahan ekosistem pada suatu lingkungan hal ini dikarenakan burung adalah satwa dengan mobilisasi tinggi dan dinamis sehingga dapat dengan cepat merespon perubahan yang terjadi di lingkungan (Bibby, 2000).
                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung serta mengetahui kelimpahan dari masing-masing jenis burung yang terdapat di Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna.



    METODE PENELITIAN


    1.      Lokasi dan Waktu Penelitian


    Penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 November 2015, di dua lokasi yaitu di kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna, terletak di Kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Lokasi ini berada di dekat perkebunan Teh PTP VII Gunung Mas yang dilatar belakangi persawahan dan perkampungan penduduk dengan gunung yang menjulang tinggi serta terdapat pula sebuah telaga dengan dikelilimgi beraneka jenis pepohonan yang terlihat begitu rindang dan tumbuh sumbur mengelilingi area kawasan taman wisata ini.

    2.      Alat dan Bahan
                Bahan yang digunakan adalah burung yang dijadikan objek pengamatan. Alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah binokuler, stopwatch, alat tulis, dan SKJB.
     
    3.      Metode Pengumpulan Data Burung
    Metode Pengumpulan Data Burung Seluruh data burung diambil dengan menggunakan metode titik hitung (point count) (Bibby, 2000) dengan bentuk plot bulat sirkular dengan diameter plot ± 40 meter pada titik yang telah ditentukan. Pengambilan data dilakukan dengan mengobservasi burung di lokasi penelitian dengan mencatat seluruh data jenis burung, jumlah individu, ciri-ciri, waktu perjumpaan, perilaku dan aktivitas burung.
    Pengamatan dilakukan pada waktu pagi hari pukul 06.00 – 09.00 WIB dalam cuaca yang cerah atau baik, dalam jalur pengamatan yang telah ditentukan dengan waktu pengamatan setiap 10 menit. Pencatatan jenis burung dilakukan dengan metode kombinasi langsung dan tidak langsung. Metode pencatatan secara langsung dilakukan dengan melihat burung (baik kasat mata maupun dengan menggunakan teropong) dengan bantuan Buku Panduan Lapangan Pengenalan Burung (Holmes, 1999; Sukmantoro 2007: MacKinnon 1991, 2010) dan secara tidak langsung dengan didasarkan pada suara burung dan sarangnya. Jumlah titik pengamatan sebanyak 7 (tujuh) titik, untuk masing-masing lokasi.




    4.      Analisis Data
    Data yang diperoleh, diolah dalam bentuk tabel dan grafik untuk mendapatkan nilai indeks keanekaragaman Shannon- Wiener (H’) dan indeks kemerataan Evennes (E). Kelimpahan merupakan total jumlah individu burung yang ditemukan selama pengamatan. Kelimpahan tiap jenis ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
    Pi = ni / N                               (1)
    Dengan :
    Pi = nilai kelimpahan burung
    ni = jumlah individu jenis i
    N = jumlah total individu

    Nilai keanekaragaman diperoleh dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner. Untuk melihat Keanekaragaman jenis dapat dilakukan dengan menggunakan rumus :
    H’ = - Σ (ni / N) ln(ni / N)      (2)
    Dengan : H’= nilai indeks keanekaragaman jenis
    ni = jumlah individu jenis i
    N = jumlah total individu

    Untuk mengetahui penyebaran individu burung diukur nilai kemerataan antar jenis burung [5] dengan rumus :

    E = H’/ln S                 (3)
    Dengan :
    S = banyaknya jenis burung tiap plot
    E = nilai kemerataan antara jenis









    HASIL DAN PEMBAHASAN                                    


               


    Berdasarkan hasil pengamatan terhadap burung yang berada di dua lokasi yaitu pada kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna didapat sebanyak 45 jenis dengan total sebanyak 231 individu yang berasal dari 25 famili. Famili yang mendominasi yaitu famili Cuculidae yang mendominasi jumlah jenis (5 jenis), dan kemudian diikuti oleh famili Muscapidae sebanyak 4 jenis, serta famili Accicipitridae, famili Apodidae, famili Dicaidae, famili Timallidae masing-masing sebanyak 3 jenis, sebagaimana yang terdapat pada Tabel 1.



    Tabel 1. Jumlah Jenis Burung dan Individu di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna

    No
    Famili
    Nama Ilmiah
    Jumlah Individu
    1
    Accicipitridae
    Nisaetus bartelsi
    4


    Pernis ptilorhynchus
    8


    Spilomis cheela
    2
    2
    Alcedinidae
    Halycon cyanoventris
    3
    3
    Apodidae
    Collocalia fuciphaga
    32


    Collocalia linchi
    25


    Collocalia vulcanorum
    10
    4
    Cettiidae
    Tesia superciliaris
    1
    5
    Chioropseidae
    Chloropsis cochinchinensis
    2
    6
    Cisticolidae
    Prinia atrogularis
    2


    Prinia polychroa
    1
    7
    Columbidae
    Streptopelia chinensis
    3
    8
    Cuculidae
    Cacomantis merulinus
    9


    Cacomantis sunneratii
    2


    Cuculus saturatus
    2


    Cuculus sepulcrolis
    2


    Sumiculuc lugubris
    13
    9
    Dicaidae
    Dicaeum everetti
    4


    Dicaeum sanguinolentum
    9


    Dicaeum trochileum
    2
    10
    Estrildidae
    Lonchura leucogastroides
    14


    Lonchura punctulata
    3
    11
    Hirundinidae
    Delichon dasypus
    1
    12
    Motacillidae
    Motacilla cinerea
    2


    Motacilla flava
    1
    13
    Muscapidae
    Copsychus caularis
    2


    Culiciapa ceylonensis
    6


    Eumyas indigo
    3


    Ficedula westermanni
    6
    14
    Orlolidae
    Oriolus erventus
    1
    15
    Psittaculidae
    Psittacula alexandri
    1
    16
    Pycnonotidae
    Pycnonotus aurigaster
    4


    Pycnonotus brunneus
    1
    17
    Rallidae
    Amaurornis phoenicurus
    1
    18
    Rhipiduridae
    Rhipidura phoenicura
    3
    19
    Sittidae
    Sitta azurea
    7
    20
    Strigidae
    Bubo sumatranus
    1
    21
    Stumidae
    Acridotheres javanicus
    1
    22
    Sylviidae
    Orthomus sutorius
    3
    23
    Timallidae
    Malacocincia sepiarium
    5


    Pteuthrius aenobarbus
    6


    Stachyris melanothorax
    7
    24
    Turdidae
    Turdus poliocephalus
    1
    25
    Zosteropidae
    Zosterops montanus
    3


    Zosterops palpebrosus
    12


    Total
    231





    Indeks Nilai Penting (INP) burung untuk keseluruhan lokasi didominasi oleh Walet Sarang Putih (Collocalia fuciphaga) dan Walet Linchi (Collocalia linchi) masing-masing sebesar 24,4% dan 19,8%, diikuti oleh Kedasi Hitam (Surniculus lugubris) sebesar 18,8% dan Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus) sebesar 15,7%, seperti terinci pada Tabel 2.




    Tabel 2. Indeks Nilai Penting Burung di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna
    No
    Nama Ilmiah
    Nama Daerah
    Jml
    Jml
    F
    FR
    D
    DR
    INP



    Individu
    Plot

    (%)

    (%)
    (%)
    1
    Acridotheres javanicus
    Jalak Hitam
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    2
    Amaurornis phoenicurus
    Kareo Padi
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    3
    Bubo sumatranus
    Beluk Jampuk
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    4
    Cacomantis merulinus
    Wiwik Kelabu
    9
    8
    1,6
    12
    1,3
    4
    15,7
    5
    Cacomantis sunneratii
    Wiwik Uncuing
    2
    2
    0,4
    2,9
    0,3
    0,9
    3,8
    6
    Chloropsis cochinchinensis
    Cica Daun Sayap Biru
    2
    1
    0,2
    1,4
    0,3
    0,9
    2,3
    7
    Collocalia fuciphaga
    Walet Sarang Putih
    32
    7
    1,4
    10
    4,6
    14
    24,4
    8
    Collocalia linchi
    Walet Linchi
    25
    6
    1,2
    8,7
    3,6
    11
    19,8
    9
    Collocalia vulcanorum
    Walet Gunung
    10
    4
    0,8
    5,8
    1,4
    4,5
    10,2
    10
    Copsychus caularis
    Kucica Kampung
    2
    1
    0,2
    1,4
    0,3
    0,9
    2,3
    11
    Cuculus saturatus
    Kangkok Ranting
    2
    2
    0,4
    2,9
    0,3
    0,9
    3,8
    12
    Cuculus sepulcrolis
    Wiwik Dada-Karat
    2
    2
    0,4
    2,9
    0,3
    0,8
    3,8
    13
    Culiciapa ceylonensis
    Sikatan Kepala Abu
    6
    4
    0,8
    5,8
    0,8
    2,7
    8,4
    14
    Delichon dasypus
    Layang-Layang Rumah
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    15
    Dicaeum everetti
    Cabai Tunggir Coklat
    4
    1
    0,2
    1,4
    0,6
    1,7
    3,2
    16
    Dicaeum sanguinolentum
    Cabai Gunung
    9
    4
    0,8
    5,8
    1,2
    4
    9,8
    17
    Dicaeum trochileum
    Cabai Jawa
    2
    1
    0,2
    1,4
    0,3
    0,9
    2,3
    18
    Eumyas indigo
    Sikatan Ninon
    3
    3
    0,6
    4,3
    0,4
    1,3
    5,7
    19
    Ficedula westermanni
    Sikatan Belang
    6
    5
    1
    7,2
    0,9
    2,6
    9,9
    20
    Halcyon cyanoventris
    Cekakak Jawa
    3
    3
    0,6
    4,3
    0,4
    1,3
    5,7
    21
    Lonchura leucogastroides
    Bondol Jawa
    14
    3
    0,6
    4,3
    2
    6,2
    10,6
    22
    Lonchura punctulata
    Bondol Peking
    3
    1
    0,2
    1,4
    0,4
    1,3
    2,8
    23
    Malacocincla sepiarium
    Pelanduk Semak
    5
    5
    1
    7,2
    0,7
    2,2
    9,4
    24
    Motacilla cinerea
    Kicuit Batu
    2
    2
    0,4
    2,9
    0,2
    0,9
    3,8
    25
    Motacilla flava
    Kicuit Kerbau
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    26
    Nisaetus bartelsi
    Elang Jawa
    4
    4
    0,8
    5,8
    0,6
    1,8
    7,6
    27
    Oriolus erventus
    Kepudang Dada Merah
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    28
    Orthotomus sutorius
    Cinenen Pisang
    3
    3
    0,6
    4,3
    0,4
    1,3
    5,7
    29
    Pernis ptilorhynchus
    Elang Sikep Madu Asia
    8
    3
    0,6
    4,3
    1,1
    3,6
    7,9
    30
    Prinia atrogularis
    Prenjak Gunung
    2
    2
    0,4
    2,9
    0,3
    0,9
    3,8
    31
    Prinia polychroa
    Prenjak Coklat
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    32
    Psittacula alexandri
    Betet Biasa
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    33
    Pteruthius aenobarbus
    Ciu Kunyit
    6
    2
    0,4
    2,9
    0,8
    2,7
    5,5
    34
    Pycnonotus aurigaster
    Cucak Kutilang
    4
    2
    0,4
    2,9
    0,6
    1,7
    4,7
    35
    Pycnotus brunneus
    Merbah Mata Merah
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    36
    Rhipidura phoenicura
    Kipasan Ekor Merak
    3
    2
    0,4
    2,9
    0,4
    1,3
    4,2
    37
    Sitta azurea
    Munguk Loreng
    7
    3
    0,6
    4,3
    1
    3,1
    7,4
    38
    Spilornis cheela
    Elang Ular Bido
    2
    2
    0,4
    2,9
    0,2
    0,9
    3,8
    39
    Stachyris melanothorax
    Tepus Pipi Perak
    7
    4
    0,8
    5,8
    1
    3,1
    8,9
    40
    Streptopelia chinensis
    Tekukur Biasa
    3
    3
    0,6
    4,3
    0,4
    1,3
    5,7
    41
    Surniculus lugubris
    Kedasi Hitam
    13
    9
    1,8
    13
    1,9
    5,9
    18,8
    42
    Tesia superciliaris
    Tesia Jawa
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    43
    Turdus poliocephalus
    Anis Gunung
    1
    1
    0,2
    1,4
    0,1
    0,4
    1,9
    44
    Zosterops montanus
    Kacamata Gunung
    3
    2
    0,4
    2,9
    0,4
    1,3
    4,2
    45
    Zosterops palpebrosus
    Kacamata Biasa
    12
    4
    0,8
    5,8
    1,7
    5,3
    11,1



    Total


    100

    100
    200
                                                                                                                                      


    Tingkat pertemuan burung di berbagai tipe habitat untuk skala “melimpah” adalah Walet Sarang Burung (Collocalia fuciphaga) dan Walet Linchi (Collocalia linchi). Hal ini disebabkan karena kedua jenis burung ini memiliki kebiasaan untuk terbang pada kondisi yang lapang sehingga pada saat pengamatan burung pada daerah Taman Wisata didominasi oleh kehadiran kedua jenis burung tersebut.






    Gambar 1. Grafik Indeks Keanekaragaman dan Indeks Kemerataan Jenis Burung




    Indeks Keanekaragaman (Diversitas) Burung merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil keanekaragaman jenis burung yang terdapat pada suatu lokasi atau wilayah tersebut. Adapun struktur vegetasi merupakan salah satu kunci kekayaan jenis burung pada tingkat lokal. Indeks Keanekaragaman (Diversitas) Burung dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kekayaan jenis dan kemerataan jenis (Hernowo, 1989).  Indeks Keanekaragaman jenis (H’) pada kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna menunjukkan angka 3,31, dimana hasil ini menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman pada kawasan ini tergolong tinggi. Hal ini ditinjau dari banyaknya jenis burung yang didapat pada saat pengamatan di 5 plot sebanyak 45 jenis burung dengan 231 jumlah individu.   Adapun kisaran keanekaragaman jenis (H’) antara 1-3.
    Tinggi  : H’ > 3
    Rendah  : H’ < 3
    Sedang            : 1 < H < 3
                Keanekaragaman jenis tidak hanya berarti kekayaan atau banyaknya jenis, akan tetapi juga kemerataan dari kelimpahan setiap individu. Pada suatu komunitas, kemerataan jenis dibatasi antara 0-1.0, dimana nilai 1.0 menunjukkan kondisi semua jenis sama-sama melimpah (merata). Sebaliknya jika angka mendekati 0, maka jenis
    yang terdapat dalam komunitas tersebut semakin tidak merata atau adanya jenis yang jumlahnya mendominasi.
    Berdasarkan pada gambar 1.  diketahui bahwa indeks kemerataan jenis (E) pada kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna menunjukkan angka 0,8720. Hasil ini menyatakan bahwa kemerataan burung di semua lokasi tidak merata karena memiliki nilai kurang dari 1. Hal tersebut didominasi oleh satu spesies, artinya dalam lokasi tersebut terdapat satu atau beberapa spesies yang memiliki jumlah individu yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah yang lain, yaitu jenis dari Walet Sarang Burung (Collocalia fuciphaga).
    Collocalia fuciphaga dapat dikatakan menjadi spesies yang mendominasi pada habitat yang terdapat di Cagar Alam dikarenakan spesies ini pada umumnya hidup pada vegetasi yang tidak terlalu rapat, dengan kondisi lahan yang tidak terlalu lembab yang menjadikan cagar alam sebagai lahan untuk mendapatkan makanan bagi spesies tersebut.  Adanya tebing bebatuan di sekitar hutan menjadi faktor pendukung tempat hidup bagi Collocalia fuciphaga.






    Gambar 2. Grafik Fungsional Grup





    Burung memiliki jenis makanan yang berbeda-beda yang disesuaikan pada bentuk paruhnya. Adapun jenisnya yaitu Frugivora atau jenis burung pemakan buah-buahan, granivora atau jenis burung pemakan biji-bijian, karnivora atau jenis burung pemakan daging, insektivora atau jenis burung pemakan serangga, dan omnivora atau jenis burung pemakan segala jenis makanan (Hernowo, 1989).
    Berdasarkan pada Gambar 1. Yaitu mengenai grafik fungsional grup dapat diketahui bahwa jenis burung yang terdapat pada lokasi Cagar Alam dan Taman Wisata didominasi oleh burung yang memakan serangga (insektivora). Hal tersebut dipengaruhi oleh jenis makanan yang dapat ditemukan pada hampir setiap lahan yang bervegetasi. Sebagian besar burung tersebut memakan serangga yang ada sekitar pohon dan vegetasi lainnya. Selain itu hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yaitu vegetasi serta jenis-jenis tumbuhan yang terdapat pada lokasi tersebut, Lebih dari sekitar 24 jenis tumbuhan yang telah didata pada analisis vegetasi merupakan tumbuhan berbunga sehingga jenis burung pemakan serangga ini mampu mendominasi dibandingkan dengan yang lainnya.


    Banyaknya serangga terbang karena faktor vegetasi yang mendominasi berupa tumbuhan berbunga membuat kelimpahan serangga terbang meningkat. Hal ini menjadikan Collocalia fuciphaga mendapat pakan yang mendukung bagi kehidupannya, serta keanekaragaman jenis vegetasi yang tinggi dapat merupakan tempat sebagai sumber pakan, tempat berlindung maupun tempat bersarang dari jenis-jenis burung.
    Berdasarkan hasil penelitian, burung di kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam cukup berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekitar. Penyebaran anakan pohon di lokasi penelitian yang tumbuhnya jauh dari pohon induk merupakan salah satu peran burung dalam menyebarkan biji-bijian. Penyebaran biji cukup efektif karena burung hanya memakan buah yang sudah cukup matang, sehingga bijinya relatif dapat tumbuh apabila jatuh ke tanah. Semakin banyak burung yang menyebarkan biji dapat membantu penyebaran vegetasi pohon di tempat lain. Hal ini akan membantu regenerasi kondisi lingkungan terutama yang gersang menjadi bervegetasi. Makin tinggi keanekaragaman jenis burung akan semakin banyak peluang jenis-jenis tumbuhan yang berbiji dapat tersebar ke tempat lain. Hal ini akan memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan sekitar dengan makin banyaknya biji-biji (Holmes, 1999).
    Burung mempunyai andil yang cukup besar dalam membantu regenerasi hutan tropika terutama pada proses penyebaran biji dan penyerbukan bunga. Biasanya burung-burung tersebut memakan buah-buahan yang berdaging bersama bijinya, biji tersebut tidak hancur melalui sistem pencernaan burung, sehingga apabila dikeluarkan biji itu utuh dan mampu tumbuh pada tempat yang sesuai (MacKinnnon, 2010). Apabila ditinjau dari banyak jenis burung yang memakan serangga dan besarnya porsi makan burung, maka fungsi utama burung di suatu lingkungan adalah pengontrol serangga sebagai hama. Pada lokas Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna telah diketahui bahwa  jenis burung pemakan serangga mencapai 24 jenis. Mulai dari lantai hutan sampai tajuk atas bahkan di udara, serangga-serangga yang ada merupakan makanan burung (Soerianagara, 1995).
     Seekor burung dapat memakan setiap hari kurang lebih sepertiga dari berat tubuhnya (Hernowo, 1989). Makin tinggi keanekaragaman jenis burung pemakan serangga akan membantu pengendalian hama secara alami.  Burung merupakan salah satu sumber kekayaan alam yang bermanfaat bagi manusia sejak dulu hingga sekarang yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Manusia memanfaatkan burung dari mulai suaranya/kicau, gerakan, perilaku, daging dan bulunya. Dari nilai rekreasi kegiatan berburu, burung dapat dijadikan objek rekreasi berburu yang sangat menarik. Kegiatan ini di negara maju dapat dijadikan sebagai objek rekreasi yang sangat diminati masyarakat (Sukmantoro, 2007)

    KESIMPULAN

    Hasil pengamatan pada dua habitat Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Telaga Warna, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor berdasarkan metode point count ditemukan 45 Spesies dengan jumlah 233 individu. Tergolong dalam 25 Famili.

    Kemerataan jenis burung (E’) yang didapat pada pengamatan ornit sebesar 0.90 yang menandakan bahwa kemerataan jenis burung yang terdapat pada Cagar Alam Telaga Warna tergolong ke dalam kategori tidak merata karena adanya dominansi jenis Collocalia fuciphaga.
    Kekayaan jenis burung (D) yang didapat pada pengamatan ornit sebesar 9.4 yang menandakan bahwa kekayaan jenis burung yang terdapat pada Cagar Alam Telaga Warna tergolong ke dalam kategori baik.

    Keanekaragaman jenis burung (H’) yang didapat pada pengamatan ornit sebesar 3.31 yang menandakan bahwa keanekaragaman jenis burung yang terdapat pada Cagar Alam Telaga Warna tergolong ke dalam kategori tinggi.

    UCAPAN TERIMAKASIH

    Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini, dan tak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih kepada Dinda Rama Hribowo, S.Si, Khoirul Hidayah S.Si selaku dosen mata kuliah praktikum Ekologi Dasar serta Dara Mutiara Fiesca dan Arman Gaffar selaku asisten praktikum mata kuliah Ekologi Dasar atas arahan dan bimbingannya dalam menyelesaikan penelitian ini.

    DAFTAR PUSTAKA

    Alikodra, HS. 2002. Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Yayasan Penerbit Fakultas
    Kehutanan IPB. Bogor.
    Bibby, C., M. Jones, dan S. Marsden. 2000.
    Teknik-teknik Ekspedisi Lapangan Survei Burung. SMKG Mardi Yuana. Bogor
    Hernowo, JB. 1989. Suatu Tinjauan terhadap            Keanekaragaman Jenis Burung dan
    Peranannya di Hutan Lindung Bukit  Suharto, Kalimantan Timur. Media    Konservasi. Vol.II (2), Januari 1989.   Jurusan Konservasi Sumberdaya        Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.        Bogor.
    Holmes, D., dan S. Nash. 1999. Burung        burung di Sumatera dan Kalimantan. Puslitbang Biologi – LIPI. Bogor
    MacKinnon, J., K. Philip dan V. Balen. 2010.           Seri panduan Lapangan Burung         Burung Sumatera, Kalimantan, Jawa        dan Bali. Puslitbang Biologi – LIPI.  Bogor
    Soerianegara, I dan A. Indrawan. 1995.         Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas    Kehutanan Institut Pertanian Bogor.         Bogor.
    Sukmantoro, W., M. Irham, W. Novarino, F. Hasudungan, N. Kemp dan M. Muhtar.         2007. Daftar Burung Indonesian No.2.        Ornithologists Union. Bogor
    Wisnubudi, G. 2009. Penggunaan Strata        Vegetasi oleh Burung di Kawasan     Wisata Taman Nasional Gunung           Halimun-Salak. Vis Vitalis, Vol. 02   No. 2





















    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 08.04.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, EKOLOGI DASAR

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.