Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Minggu, 27 Maret 2016

    MAKRO FAUNA TANAH

           MAKRO FAUNA TANAH

    Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan Ismail S Alaydrus2)
    1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
    2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
    Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id

    Abstract
    The aim of the practical work of this time is to knowledge of  the type macro fauna land  which is found  in some ecosystem land. Methods used the method pit fall trap who was done in two vegetation on campus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta is at the cannopied and not cannopied.   Before, conducted a physical factors on the first day and to seven . This observation done seven days and every day observed macro fauna what is in the trap and identified . The conclusion is the diversity of species macro fauna land were identified with do the pit fall trap in the area which considered to have adequate organic elements. Factors physical temperature, moisture, the intensity of light and ph the land as well it is affecting diversity macro fauna that is in it.
    Key words : macro fauna, pit fall trap, diversity




    PENDAHULUAN


    Organisme yang hidup di dalam suatu lingkungan masing-masing memiliki  kualitas organisme penghuni di setiap habitat yang berbeda. Tanah tersusun atas empat bahan yaitu mineral, bahan organik, air. Selain itu juga terdapat lingkungan tanah  yang merupakan lingkungan yang terdiri dari gabungan antara lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. Gabungan dari kedua lingkungan ini menghasilkan suatu wilayah yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal bagi beberapa jenis makhluk hidup seperti makro fauna tanah (Buckman, 2002).
    Makro fauna tanah merupakan kelompok hewan – hewan hewan besar penghuni tanah yang merupakan bagian dari biodiversitas tanah yang berperan penting dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Saat proses dekomposisi bahan organik, makro fauna tanah lebih banyak berperan dalam proses fragmentasi serta memberikan fasilitas lingkungan yang baik bagi proses dekomposisi lebih lanjut yang dilakukan oleh kelompok mikro fauna tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi. Peran makro fauna lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan dan hewan mati, pengangkutan materi organik dari permukaan ke tanah, perbaikan struktur tanah dan proses pembentukan tanah. Hal ini menjelaskan bahwa kehadiran makro fauna tanah berperan penting dalam proses-proses ekologis yang terjadi di dalam tanah, seperti dekomposisi, siklus unsur hara dan agregasi tanah (Buckman, 2002).
    Makro fauna tanah meliputi : herbivora seperti Annelida (cacing tanah), Moluska (bekicot), Crustacea (kepiting), Chilopoda (kelabang), Diplopoda (kaki seribu), dan Insecta (belalang sembah), ular tanah, dan tikus tanah. Kehidupan makro fauna tanah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang merupakan tempat hidupnya. Faktor yang memepengaruhi itu diantaranya pH tanah, temperatur tanah, temperatur udara, kelembaban tanah, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Perbedaan kondisi lingkungan menyebabkan adanya perbedaan jenis makro fauna tanah dan juga yang mendominasinya (Buckman, 2002).
    Penyebaran makro fauna tanah lingkungan merupakan suatu sistem kompleks yang berada diluar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme yang hidup dalam lingkungan masing-masing. Begitu pula jumlah dan kualitas organisme penghuni di setiap habitat tidak sama. Perbedaan yang paling mencolok adalah pada ukuran tumbuhan hijau, karena akan mempengaruhi penyebaran makrofauna disekitarnya. Lingkungan juga merupakan salah satu bagiannya (Irwan, 2002).
               Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode Pit fall trap merupakan metode yang umum dan sangat sederhana serta cukup efektif dalam mengetahui keberadaan makrofauna tanah. Adapun praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis makro fauna tanah yang terdapat pada beberapa ekosistem tanah.

    METODE PENELITIAN
    Bahan dan Alat
    Bahan yang  digunakan  pada praktikum ini adalah alkohol 70%, minyak tanah, aquadest, larutan  PK, dan larutan sabun pekat. Alat  yang digunakan pada praktikum ini adalah botol aqua gelas, sumpit, fiber glass, botol koleksi, soil tester, thermometer, dan lux meter.
    Cara Kerja
    1.      Penentuan Titik Lokasi
    Lokasi pengamatan berada di wilayah kampus UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta yang terbagi menjadi dua titik lokasi, yaitu lokasi yang berada di bawah kanopi dan lokasi yang tidak berkanopi. Setiap titik lokasi terdiri dari tiga plot yang berukuran 20 cm dengan jarak antar plot lebih dari 30 cm.


    2.      Pit Fall Trap
    Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu dengan metode Pit Fall Trap. Pertama-tama pada masing – masing lokasi ditentukan tiga plot yang diperkirakan mempunyai kandungan bahan organik tinggi.  Lalu dibuat sejumlah tiga lubang pada tanah sedalam 20 cm dengan jarak antar lubang lebih dari 30 cm, dengan ukuran diameter sama dengan diameter botol aqua gelas. Setelah itu, dimasukkan botol aqua gelas tersebut ke dalam masing –masing lubang. Lalu pada masing-masing plot yang sudah dibuat diberi cairan yang berbeda-beda yaitu minyak tanah, air PK, dan larutan sabun pekat. Kemudian  fiber glass dipotong dengan ukuran 30 cm x 30 cm, dam disiapkan sumpit dengan panjang 20 cm. Fiber glass ditata untuk menutupi botol aqua gelas lalu diberi cagak dengan sumpit supaya terhindar dari air hujan. Plot tersebut didiamkan selama 7 hari.
    3.      Pengamatan Sampel
    Setiap harinya selama 7 hari tersebut dilakukan pengamatan makro fauna tanah apa saja yang terperangkap ke dalam plot dan dimasukkan ke dalam botol koleksi yang sebelumnya telah diberikan alkohol 70% dengan metode Hand sorting. Pada hari pertama dan hari ke tujuh dilakukan pengukuran fisik tanah yang meliputi pH tanah, suhu tanah, dan intensitas sinar yang sampai pada tanah.
    4.      Identifikasi Sampel
    Setelah selesai hingga hari pengamatan ke tujuh, sampel yang telah diperoleh kemudian di bawa ke Laboratorium untuk dilakukan proses identifikasi jenis – jenis makro fauna tanah yang sudah disimpan dalam botol koleksi  tersebut. Spesimen yang telah ditemukan tersebut diidentifikasikan berdasarkan kesamaan ciri morfologinya lalu dihitung jumlah spesimen yang ditemukan.



    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Pengamatan kali ini dilakukan dengan menggunakan metode pit fall trap, yaitu dengan membuat perangkap berupa lubang dari botol mineral sedalam 10 cm yang didalamnya diisi dengan larutan minyak tanah, larutan PK dan larutan detergen masing – masing pada setiap plot. 
                Berdasarkan pada hasil pengamatan mengenai makro fauna tanah, didapatkan hasil yang ditampilkan pada tabel berikut  :




    No.
    Jenis

    Jumlah Individu

    Total


    Mnyak Tanah
    Larutan Detergen
    Larutan PK

    1
    Pheidole sp.
    155 individu
    19 individu
    24 individu
    198 individu
    2
    Kumbang
    0
    0
    0
    0
    3
    Trigoniulus sp.
    0
    0
    0
    0
    4
    Diptera (Nyamuk)
    1 individu
    0
    0
    1 individu
    5
    Heterometrus sp.
    0
    0
    0
    0
    6
    Gryllus sp.
    0
    0
    0
    0
    7
    Molusca
    0
    0
    0
    0
    8
    Drosophilla (Lalat)
    0
    0
    0
    0
    9
    Apis sp.
    0
    0
    0
    0
    10
    Jentik nyamuk
    5 individu
    21 individu
    9 individu
    35 individu
    11
    Blaberidae sp.
    0
    0
    0
    0
    12
    Larva kecoa
    0
    0
    1 individu
    1 individu
    13
    Archotermopsis sp.
    3 individu
    0
    0
    3 individu
    14
    Leptocorisa acuta sp.
    0
    0
    1 individu
    1 individu
    15
    Scolopendra sp.
    4 individu
    0
    0
    4 individu
    16
    Araneus diadematus
    0
    0
    1 individu
    1 individu

    RATA-RATA
    10.5
    2.5
    2.25

    Tabel 1. Jenis Makro Fauna Tanah di Daerah Berkanopi



    Berdasarkan pada Tabel 1. Spesies yang didapatkan selama 7 hari di lokasi daerah yang berkanopi yaitu sebanyak 8 spesies dengan jumlah individu yang beragam. Jumlah individu yang terbanyak didominasi oleh Pheidole sp. dengan total 198 individu. Kemudian jumlah terbesar kedua yaitu jentik nyamuk dengan total sebanyak 35 individu. Selain itu, terdapat pula Scolopendra sp. Sebanyak 4 individu, Archotermopsis sp. Sebanyak 3 individu. Kemudian, Araneus diadematus, Leptocorisa acuta sp. , larva kecoa beserta nyamuk masing – masing hanya berjumlah satu individu saja.
    Berdasarkan pada hasil tersebut, hal ini membuktikan bahwa semut (Pheidole sp.) merupakan makro fauna tanah yang dominan pada daerah lokasi yang berkanopi. Ditemukan tiga jenis semut pada lokasi daerah yang berkanopi yaitu semut hitam besar, semut merah besar dan semut hitam kecil. Semut mendominasi daerah ini dikarenakan sifat semut merupakan predator dan pemakan sisa-sisa tanaman yang jatuh di tanah (Hanafiah, 2005).
    Kemudian, spesies lainnya yang terdapat pada daerah yang berkanopi ini rata-rata terdapat dari kelas insecta (jentik nyamuk, Leptocorisa acuta sp. dll) dikarenakan pada lokasi yang berkanopi ini terdapat banyak makanan bagi spesies tersebut dibandingkan di lokasi yang tidak berkanopi. Umumnya makro fauna yang banyak terdapat pada lokasi daerah yang berkanopi menyukai daerah yang cahayanya tidak langsung masuk ke dalam dan kelembaban tanahnya lebih tinggi (Hanafiah, 2005).


    Tabel 2. Jenis Makro Fauna Tanah di Daerah Tidak Berkanopi
    No.
    Jenis

    Jumlah Individu

    Total


    Mnyak Tanah
    Larutan Detergen
    Larutan PK

    1
    Pheidole sp.
    100 individu
    36 individu
    29 individu
    165 individu
    2
    Kumbang
    0
    0
    1 individu
    1 individu
    3
    Trigoniulus sp.
    0
    1 individu
    0
    1 individu
    4
    Diptera (Nyamuk)
    1 individu
    1 individu
    2 individu
    4 individu
    5
    Heterometrus sp.
    0
    1 individu
    0
    1 individu
    6
    Gryllus sp.
    0
    1 individu
    1 individu
    2 individu
    7
    Molusca
    0
    0
    1 individu
    1 individu
    8
    Drosophilla (Lalat)
    0
    0
    1 individu
    1 individu
    9
    Apis sp.
    0
    0
    1 individu
    1 individu
    10
    Jentik nyamuk
    0
    1 individu
    0
    1 individu
    11
    Blaberidae sp.
    0
    2 individu
    0
    2 individu
    12
    Larva kecoa
    0
    0
    0
    0
    13
    Archotermopsis sp.
    0
    0
    0
    0
    14
    Leptocorisa acuta sp.
    0
    0
    0
    0
    15
    Scolopendra sp.
    0
    0
    0
    0
    16
    Araneus diadematus
    0
    0
    0
    0

    RATA-RATA
    6.3125
    2.6875
    2.25




    Kemudian, berdasarkan pada Tabel 2. yaitu mengenai jenis makro fauna tanah di lokasi daerah yang tidak berkanopi terdapat 11 spesies dengan jumlah pada masing – masing individu yang beragam. Berdasarkan pada tabel 2. tersebut dapat diketahui bahwa spesies yang paling mendominasi yaitu Pheidole sp atau yang lebih familiar dikenal dengan nama semut dengan total 165 individu. Berdasarkan pada daerah lokasinya, pada tempat yang tidak berkanopi ini memiliki jenis spesies makro fauna yang lebih banyak dibandingkan dengan lokasi daerah yang berkanopi. Dominannya semut pada daerah yang tidak berkanopi ini dikarenakan sifat semut merupakan predator dan pemakan sisa-sisa tumbuhan. Wilayah yang tidak berkanopi atau berumput ini merupakan tempat strategis bagi semut membuat sarang untuk koloninya. Namun secara keseluruhan, jumlah individu yang didapatkan lebih sedikit pada daerah yang tidak berkanopi dibandingkan dengan daerah yang berkanopi (Leksono, 2007).
    Berdasarkan pada tabel 2.makro fauna tanah lainnya yang terdapat pada lokasi yang tidak berkanopi ini rata-rata merupakan filum arthropoda. Hal ini disebabkan karena pada lokasi yang tidak berkanopi ini merupakan lokasi yang baik yang memudahkan untuk aktivitas dari setiap makro fauna karena tidak terhalang oleh kanopi. Sehingga aktivitas dari makro fauna ini dapat lebih leluasa, dan maka dari itu pada lokasi yang tidak berkanopi ini biasanya spesies makro faunanya lebih beragam (Leksono, 2007).





    Gambar 1. Grafik Jumlah Jenis Individu pada Setiap Larutan
               


    Berdasarkan pada gambar 1. Mengenai grafik jumlah jenis individu pada setiap larutan dapat diketahui bahwa individu yang paling banyak terkena oleh pit fall trap yaitu pada larutan minyak tanah. Beberapa larutan yang telah dipergunakan ini, karena minyak tanah merupakan molekul organik yang digunakan untuk bahan bakar yng berasal dari minyak bumi. Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawa hidrogen dan karbon. Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll. Minyak digunakan untuk mendatangkan makro fauna tanah di sekitar tempat pengamatan dengan bau yang dihasilkan. Kemudian pada larutan detergen, larutan ini berfungsi sebagai cairan yang dapat meurunkan tegangan permukaan air, karena terdapat beberapa jenis serangga dapat berdiri diatas air karena tingginya tegangan permukaan air, dan begitu pula halnya dengan larutan PK yang mampu mendatangkan makro fauna (Maria, 20008)





    Tabel 3. Faktor Fisik


    Vegetasi
    Intensitas Cahaya (Klx)
    Kelembaban Tanah (%)
    pH tanah
    Suhu
    Awal
    Akhir
    Awal
    Akhir
    Awal
    Akhir
    Awal
    Akhir
    Berkanopi
    5,125
    5,04
    1,03
    1,4
    6,9
    6,83
    29
    29
    Tidak Berkanopi
    56
    53,25
    1
    1,25
    6,5
    6,8
    30
    28











    Berdasarkan Tabel 3. dilakukan pengukuran faktor fisik lingkungan pada lokasi daerah yang berkanopi dan tidak berkanopi. Intensitas cahaya rata-ratanya diawal dan diakhir pada daerah yang berkanopi lebih besar dibandingkan dengan daerah yang tidak berkanopi. Hal ini dikarenakan pada daerah yang berkanopi menyebabkan masuknya cahaya terhalang oleh pohon sehingga intensitas cahayanya lebih kecil di bandingkan cahaya pada daerah yang tidak berkanopi.
    Kelembaban tanah rata-rata di awal dan akhir pada daerah yang berkanopi lebih tinggi yaitu 1,03 % dibandingkan daerah yang tidak berkanopi. Hal ini dikarenakan pada lokasi yang berkanopi di bawah pohon banyak menghasilkan oksigen dan air dari dalam akar tanaman besar. Kelembaban udara diawal dan diakhir pada daerah yang berkanopi dibandingkan daerah yang tidak berkanopi. Hal ini disebabkan karena pada daerah yang berkanopi oksigen yang dihasilkan lebih banyak karena di bawah pohon dibandingkan daerah yang tidak berkanopi (Suin, 2006).
    Kemudian, pH tanah diawal dan diakhir pada daerah yang berkanopi juga lebih tinggi dibandingkan di daerah yang tidak berkanopi. Hal ini dikarenakan pada daerah yang berkanopi terdapat pohon-pohon besar yang pH nya bersifat netral sehingga mampu menyerap unsur hara dengan baik. pH tanah berfungsi untuk menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman dan umumnya unsur hara mudah diserap akar tanaman besar pada pH tanah sekitar nertal (7), karena pada pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air dan berdasarkan pada tabel 3. Diketahui bahwa pH tanah di daerah yang berkanopi bersifat netral (6,9) (Hardjowigeno, 2007).
    Suhu udara rata-rata diawal pada daerah yang berkanopi dengan tidak berkanopi memiliki kesamaan kisaran suhu yaitu 290 C. Namun, pada rata-rata di akhir pada daerah yang tidak berkanopi memiliki suhu yang sedikit lebih besar yaitu 300 C, dibandingkan pada suhu yang berkanopi yaitu 290 C. Perbedaan suhu yang terjadi ini disebabkan karena suhu udara dipengaruhi oleh cahaya matahari. Panasnya sinar matahari dalam pengaplikasian kanopi tentunya akan membuat sinar matahari tidak akan dapat secara langsung masuk. Berbeda dengan area yang tidak berkanopi, cahaya matahari akan secara langsung masuk karena tidak terhalang oleh media yang ada di area tersebut. Selain itu, perbedaan suhu ini dikarenakan pada daerah vegetasi tanahnya lebih lembab sehingga suhu tanahnya lebih rendah dibandingkan pada daerah non vegetasi. Begitupun suhu tanah diakhir pada daerah vegetasi lebih rendah juga yaitu 26ºC daripada daerah non vegetasi yaitu 27ºC (Sugiyarto, 2007).
    Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup dan ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu (Hardjowigeno, 2007).

    KESIMPULAN
                Keanekaragaman jenis makro fauna tanah dapat diketahui dengan melakukan uji Pit Fall Trap pada daerah yang dianggap memiliki unsur-unsur organik yang memadai. Faktor-faktor fisik seperti suhu, kelembaban, intensitas cahaya serta pH tanah juga sangatlah mempengaruhi keanekaragaman makro fauna yang terdapat di dalamnya.

    DAFTAR PUSTAKA
    Buckman, H. 2002. Ilmu Tanah. Bhratara `                Karya Aksara. Jakarta
    Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Biologi Tanah    Ekologi dan Mikrobologi Tanah. PT.  raja Grafindo. Jakarta.
    Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah.  Akademika Pressindo. Jakarta
    Irwan, Z. 2002. Prinsip – Prinsip Ekologi dan            Organisasi. Bumi Aksara. Jakarta
    Leksono, A. 2007. Ekologi Pendekatan         Deskriptif dan Kuantitatif.     Banyumedia. Malang
    Masria. 2008. Buku Ajar Dasar - Dasar Ilmu Tanah, Politeknik Pertanian Negeri    Kupang
    Sugiyarto, M. 2007. Preferensi Berbagai Jenis           Makrofauna Tanah Terhadap Sisa      Bahan Organik Tanaman pada Intensitas Cahaya Berbeda.    Biodiversitas. Volume 7, Nomor        4.  April 2007. Halaman: 96-100
    Suin, N.M. 2006. Ekologi Hewan Tanah. Bumi         Aksara. Jakarta

                
    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 10.03.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: EKOLOGI DASAR

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.