MAKRO FAUNA TANAH
Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan
Ismail S Alaydrus2)
1.
Mahasiswa
Program Studi Biologi
2.
Asisten Dosen
Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstract
The aim of the practical work of this time is to knowledge of the type macro fauna land which is found in some ecosystem land. Methods used the
method pit fall trap who was done in two vegetation on campus UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta is at the cannopied and not cannopied. Before, conducted a physical factors on the
first day and to seven . This observation done seven days and every day
observed macro fauna what is in the trap and identified . The conclusion is the
diversity of species macro fauna land were identified with do the pit fall trap
in the area which considered to have adequate organic elements. Factors
physical temperature, moisture, the intensity of light and ph the land as well
it is affecting diversity macro fauna that is in it.
Key
words : macro fauna, pit fall trap, diversity
PENDAHULUAN
Organisme yang hidup di dalam suatu lingkungan
masing-masing memiliki kualitas organisme penghuni di setiap
habitat yang berbeda. Tanah tersusun atas empat bahan yaitu mineral,
bahan organik, air. Selain itu juga terdapat lingkungan tanah yang merupakan
lingkungan yang terdiri dari gabungan antara lingkungan abiotik dan lingkungan
biotik. Gabungan dari kedua lingkungan ini menghasilkan suatu wilayah yang
dapat dijadikan sebagai tempat tinggal bagi beberapa jenis makhluk hidup
seperti makro fauna tanah (Buckman, 2002).
Makro fauna tanah merupakan kelompok
hewan – hewan hewan besar penghuni tanah yang merupakan bagian dari
biodiversitas tanah yang berperan penting dalam memperbaiki sifat fisik, kimia
dan biologi tanah. Saat proses dekomposisi bahan organik, makro fauna tanah
lebih banyak berperan dalam proses fragmentasi serta memberikan fasilitas
lingkungan yang baik bagi proses dekomposisi lebih lanjut yang dilakukan oleh
kelompok mikro fauna tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi. Peran makro fauna
lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan dan hewan mati, pengangkutan
materi organik dari permukaan ke tanah, perbaikan struktur tanah dan proses
pembentukan tanah. Hal ini menjelaskan bahwa kehadiran makro
fauna tanah berperan penting dalam proses-proses ekologis yang terjadi di dalam
tanah, seperti dekomposisi, siklus unsur hara dan agregasi tanah (Buckman,
2002).
Makro fauna tanah meliputi : herbivora seperti Annelida (cacing
tanah), Moluska (bekicot), Crustacea (kepiting), Chilopoda (kelabang),
Diplopoda (kaki seribu), dan Insecta (belalang sembah), ular tanah, dan tikus
tanah. Kehidupan makro fauna tanah dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan yang merupakan tempat hidupnya. Faktor yang memepengaruhi itu
diantaranya pH tanah, temperatur tanah, temperatur udara, kelembaban
tanah, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Perbedaan kondisi lingkungan
menyebabkan adanya perbedaan jenis makro fauna tanah dan juga yang
mendominasinya (Buckman, 2002).
Penyebaran makro fauna tanah lingkungan merupakan suatu sistem
kompleks yang berada diluar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan organisme yang hidup dalam lingkungan masing-masing. Begitu pula
jumlah dan kualitas organisme penghuni di setiap habitat tidak sama. Perbedaan
yang paling mencolok adalah pada ukuran tumbuhan hijau, karena akan
mempengaruhi penyebaran makrofauna disekitarnya. Lingkungan juga merupakan
salah satu bagiannya (Irwan, 2002).
Metode
yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode Pit fall trap merupakan
metode yang umum dan sangat sederhana serta cukup efektif dalam mengetahui
keberadaan makrofauna tanah. Adapun praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
jenis-jenis makro fauna tanah yang terdapat pada beberapa ekosistem tanah.
METODE
PENELITIAN
Bahan
dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alkohol 70%, minyak
tanah, aquadest, larutan PK, dan larutan
sabun pekat. Alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah botol aqua gelas, sumpit, fiber glass, botol koleksi, soil
tester, thermometer, dan lux meter.
Cara Kerja
1.
Penentuan Titik
Lokasi
Lokasi pengamatan berada di wilayah kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang terbagi menjadi dua
titik lokasi, yaitu lokasi yang berada di bawah kanopi dan lokasi yang tidak
berkanopi. Setiap titik lokasi terdiri dari tiga plot yang berukuran 20 cm
dengan jarak antar plot lebih dari 30 cm.
2.
Pit Fall Trap
Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu dengan metode Pit
Fall Trap. Pertama-tama pada masing – masing lokasi ditentukan tiga plot yang
diperkirakan mempunyai kandungan bahan organik tinggi. Lalu dibuat sejumlah tiga lubang pada tanah
sedalam 20 cm dengan jarak antar lubang lebih dari 30 cm, dengan ukuran
diameter sama dengan diameter botol aqua gelas. Setelah itu, dimasukkan botol
aqua gelas tersebut ke dalam masing –masing lubang. Lalu pada masing-masing
plot yang sudah dibuat diberi cairan yang berbeda-beda yaitu minyak tanah, air
PK, dan larutan sabun pekat. Kemudian
fiber glass dipotong dengan ukuran 30 cm x 30 cm, dam disiapkan sumpit
dengan panjang 20 cm. Fiber glass ditata untuk menutupi botol aqua gelas lalu
diberi cagak dengan sumpit supaya terhindar dari air hujan. Plot tersebut
didiamkan selama 7 hari.
3.
Pengamatan
Sampel
Setiap harinya selama 7 hari tersebut dilakukan pengamatan makro
fauna tanah apa saja yang terperangkap ke dalam plot dan dimasukkan ke dalam
botol koleksi yang sebelumnya telah diberikan alkohol 70% dengan metode Hand
sorting. Pada hari pertama dan hari ke tujuh dilakukan pengukuran fisik tanah
yang meliputi pH tanah, suhu tanah, dan intensitas sinar yang sampai pada
tanah.
4.
Identifikasi
Sampel
Setelah selesai hingga hari pengamatan ke tujuh, sampel yang telah
diperoleh kemudian di bawa ke Laboratorium untuk dilakukan proses identifikasi
jenis – jenis makro fauna tanah yang sudah disimpan dalam botol koleksi tersebut. Spesimen yang telah ditemukan
tersebut diidentifikasikan berdasarkan kesamaan ciri morfologinya lalu dihitung
jumlah spesimen yang ditemukan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pengamatan kali ini dilakukan dengan menggunakan metode pit fall
trap, yaitu dengan membuat perangkap berupa lubang dari botol mineral sedalam
10 cm yang didalamnya diisi dengan larutan minyak tanah, larutan PK dan larutan
detergen masing – masing pada setiap plot.
Berdasarkan
pada hasil pengamatan mengenai makro fauna tanah, didapatkan hasil yang
ditampilkan pada tabel berikut :
No.
|
Jenis
|
Jumlah Individu
|
Total
|
||
Mnyak Tanah
|
Larutan Detergen
|
Larutan PK
|
|||
1
|
Pheidole
sp.
|
155
individu
|
19
individu
|
24
individu
|
198
individu
|
2
|
Kumbang
|
0
|
0
|
0
|
0
|
3
|
Trigoniulus
sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
4
|
Diptera
(Nyamuk)
|
1
individu
|
0
|
0
|
1
individu
|
5
|
Heterometrus
sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6
|
Gryllus
sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
7
|
Molusca
|
0
|
0
|
0
|
0
|
8
|
Drosophilla
(Lalat)
|
0
|
0
|
0
|
0
|
9
|
Apis
sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
10
|
Jentik
nyamuk
|
5
individu
|
21
individu
|
9
individu
|
35
individu
|
11
|
Blaberidae
sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
12
|
Larva
kecoa
|
0
|
0
|
1
individu
|
1
individu
|
13
|
Archotermopsis
sp.
|
3
individu
|
0
|
0
|
3
individu
|
14
|
Leptocorisa
acuta sp.
|
0
|
0
|
1
individu
|
1 individu
|
15
|
Scolopendra
sp.
|
4
individu
|
0
|
0
|
4
individu
|
16
|
Araneus
diadematus
|
0
|
0
|
1
individu
|
1
individu
|
RATA-RATA
|
10.5
|
2.5
|
2.25
|
||
Tabel 1. Jenis Makro Fauna Tanah di Daerah Berkanopi
Berdasarkan pada Tabel 1. Spesies yang didapatkan selama 7 hari di
lokasi daerah yang berkanopi yaitu sebanyak 8 spesies dengan jumlah individu
yang beragam. Jumlah individu yang terbanyak didominasi oleh Pheidole sp.
dengan total 198 individu. Kemudian jumlah terbesar kedua yaitu jentik
nyamuk dengan total sebanyak 35 individu. Selain itu, terdapat pula Scolopendra
sp. Sebanyak 4 individu, Archotermopsis sp. Sebanyak 3 individu.
Kemudian, Araneus diadematus, Leptocorisa acuta sp. , larva kecoa
beserta nyamuk masing – masing hanya berjumlah satu individu saja.
Berdasarkan pada hasil tersebut, hal ini membuktikan bahwa semut (Pheidole
sp.) merupakan makro fauna tanah yang dominan pada daerah lokasi yang
berkanopi. Ditemukan tiga jenis semut pada lokasi daerah yang berkanopi yaitu
semut hitam besar, semut merah besar dan semut hitam kecil. Semut mendominasi
daerah ini dikarenakan sifat semut merupakan predator dan pemakan sisa-sisa
tanaman yang jatuh di tanah (Hanafiah, 2005).
Kemudian, spesies lainnya yang terdapat pada daerah yang berkanopi
ini rata-rata terdapat dari kelas insecta (jentik nyamuk, Leptocorisa acuta
sp. dll) dikarenakan pada lokasi yang berkanopi ini terdapat banyak makanan
bagi spesies tersebut dibandingkan di lokasi yang tidak berkanopi. Umumnya
makro fauna yang banyak terdapat pada lokasi daerah yang berkanopi menyukai
daerah yang cahayanya tidak langsung masuk ke dalam dan kelembaban tanahnya
lebih tinggi (Hanafiah, 2005).
Tabel 2. Jenis Makro Fauna Tanah di Daerah Tidak Berkanopi
No.
|
Jenis
|
Jumlah Individu
|
Total
|
||
Mnyak Tanah
|
Larutan Detergen
|
Larutan PK
|
|||
1
|
Pheidole sp.
|
100 individu
|
36 individu
|
29 individu
|
165 individu
|
2
|
Kumbang
|
0
|
0
|
1 individu
|
1 individu
|
3
|
Trigoniulus sp.
|
0
|
1 individu
|
0
|
1 individu
|
4
|
Diptera (Nyamuk)
|
1 individu
|
1 individu
|
2 individu
|
4 individu
|
5
|
Heterometrus sp.
|
0
|
1 individu
|
0
|
1 individu
|
6
|
Gryllus sp.
|
0
|
1 individu
|
1 individu
|
2 individu
|
7
|
Molusca
|
0
|
0
|
1 individu
|
1 individu
|
8
|
Drosophilla (Lalat)
|
0
|
0
|
1 individu
|
1 individu
|
9
|
Apis sp.
|
0
|
0
|
1 individu
|
1 individu
|
10
|
Jentik nyamuk
|
0
|
1 individu
|
0
|
1 individu
|
11
|
Blaberidae sp.
|
0
|
2 individu
|
0
|
2 individu
|
12
|
Larva kecoa
|
0
|
0
|
0
|
0
|
13
|
Archotermopsis sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
14
|
Leptocorisa acuta sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
15
|
Scolopendra sp.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
16
|
Araneus diadematus
|
0
|
0
|
0
|
0
|
RATA-RATA
|
6.3125
|
2.6875
|
2.25
|
Kemudian, berdasarkan pada Tabel 2. yaitu mengenai jenis makro
fauna tanah di lokasi daerah yang tidak berkanopi terdapat 11 spesies dengan
jumlah pada masing – masing individu yang beragam. Berdasarkan pada tabel 2. tersebut
dapat diketahui bahwa spesies yang paling mendominasi yaitu Pheidole sp
atau yang lebih familiar dikenal dengan nama semut dengan total 165 individu. Berdasarkan
pada daerah lokasinya, pada tempat yang tidak berkanopi ini memiliki jenis
spesies makro fauna yang lebih banyak dibandingkan dengan lokasi daerah yang
berkanopi. Dominannya semut pada daerah yang tidak berkanopi ini
dikarenakan sifat semut merupakan predator dan pemakan sisa-sisa tumbuhan.
Wilayah yang tidak berkanopi atau berumput ini merupakan tempat strategis bagi
semut membuat sarang untuk koloninya. Namun secara keseluruhan, jumlah
individu yang didapatkan lebih sedikit pada daerah yang tidak
berkanopi dibandingkan dengan daerah yang berkanopi (Leksono, 2007).
Berdasarkan pada tabel 2.makro fauna tanah lainnya yang terdapat
pada lokasi yang tidak berkanopi ini rata-rata merupakan filum arthropoda. Hal
ini disebabkan karena pada lokasi yang tidak berkanopi ini merupakan lokasi
yang baik yang memudahkan untuk aktivitas dari setiap makro fauna karena tidak
terhalang oleh kanopi. Sehingga aktivitas dari makro fauna ini dapat lebih
leluasa, dan maka dari itu pada lokasi yang tidak berkanopi ini biasanya
spesies makro faunanya lebih beragam (Leksono, 2007).
Gambar
1. Grafik Jumlah Jenis Individu pada Setiap Larutan

Berdasarkan pada gambar 1. Mengenai grafik jumlah jenis individu
pada setiap larutan dapat diketahui bahwa individu yang paling banyak terkena
oleh pit fall trap yaitu pada larutan minyak tanah. Beberapa larutan yang telah
dipergunakan ini, karena minyak tanah merupakan molekul organik yang digunakan
untuk bahan bakar yng berasal dari minyak bumi. Minyak bumi terdiri dari
hidrokarbon, senyawa hidrogen dan karbon. Komponen kimia dari minyak bumi
dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian, setelah diolah lagi, menjadi
minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll. Minyak digunakan untuk mendatangkan
makro fauna tanah di sekitar tempat pengamatan dengan bau yang
dihasilkan. Kemudian pada larutan detergen, larutan ini berfungsi sebagai
cairan yang dapat meurunkan tegangan permukaan air, karena terdapat beberapa
jenis serangga dapat berdiri diatas air karena tingginya tegangan permukaan air,
dan begitu pula halnya dengan larutan PK yang mampu mendatangkan makro fauna (Maria,
20008)
Tabel 3. Faktor Fisik
Vegetasi
|
Intensitas
Cahaya (Klx)
|
Kelembaban
Tanah (%)
|
pH
tanah
|
Suhu
|
||||
Awal
|
Akhir
|
Awal
|
Akhir
|
Awal
|
Akhir
|
Awal
|
Akhir
|
|
Berkanopi
|
5,125
|
5,04
|
1,03
|
1,4
|
6,9
|
6,83
|
29
|
29
|
Tidak Berkanopi
|
56
|
53,25
|
1
|
1,25
|
6,5
|
6,8
|
30
|
28
|
Berdasarkan Tabel 3. dilakukan pengukuran faktor fisik lingkungan
pada lokasi daerah yang berkanopi dan tidak berkanopi. Intensitas cahaya
rata-ratanya diawal dan diakhir pada daerah yang berkanopi lebih besar dibandingkan
dengan daerah yang tidak berkanopi. Hal ini dikarenakan pada daerah yang
berkanopi menyebabkan masuknya cahaya terhalang oleh pohon sehingga intensitas
cahayanya lebih kecil di bandingkan cahaya pada daerah yang tidak berkanopi.
Kelembaban tanah rata-rata di awal dan akhir pada daerah yang
berkanopi lebih tinggi yaitu 1,03 % dibandingkan daerah yang tidak berkanopi. Hal
ini dikarenakan pada lokasi yang berkanopi di bawah pohon banyak menghasilkan
oksigen dan air dari dalam akar tanaman besar. Kelembaban udara diawal dan
diakhir pada daerah yang berkanopi dibandingkan daerah yang tidak berkanopi. Hal
ini disebabkan karena pada daerah yang berkanopi oksigen yang dihasilkan lebih
banyak karena di bawah pohon dibandingkan daerah yang tidak berkanopi (Suin,
2006).
Kemudian, pH tanah diawal dan diakhir pada daerah yang berkanopi
juga lebih tinggi dibandingkan di daerah yang tidak berkanopi. Hal ini dikarenakan
pada daerah yang berkanopi terdapat pohon-pohon besar yang pH nya bersifat netral
sehingga mampu menyerap unsur hara dengan baik. pH tanah berfungsi untuk menentukan
mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman dan umumnya unsur hara mudah
diserap akar tanaman besar pada pH tanah sekitar nertal (7), karena pada pH
tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air dan berdasarkan pada tabel
3. Diketahui bahwa pH tanah di daerah yang berkanopi bersifat netral (6,9)
(Hardjowigeno, 2007).
Suhu udara rata-rata diawal pada daerah yang berkanopi dengan tidak
berkanopi memiliki kesamaan kisaran suhu yaitu 290 C. Namun, pada
rata-rata di akhir pada daerah yang tidak berkanopi memiliki suhu yang sedikit
lebih besar yaitu 300 C, dibandingkan pada suhu yang berkanopi yaitu
290 C. Perbedaan suhu yang terjadi ini disebabkan karena suhu udara
dipengaruhi oleh cahaya matahari. Panasnya sinar matahari dalam pengaplikasian
kanopi tentunya akan membuat sinar matahari tidak akan dapat secara langsung
masuk. Berbeda dengan area yang tidak berkanopi, cahaya matahari akan secara
langsung masuk karena tidak terhalang oleh media yang ada di area tersebut. Selain itu, perbedaan suhu ini
dikarenakan pada daerah vegetasi tanahnya lebih lembab sehingga suhu tanahnya
lebih rendah dibandingkan pada daerah non vegetasi. Begitupun suhu tanah
diakhir pada daerah vegetasi lebih rendah juga yaitu 26ºC daripada daerah non
vegetasi yaitu 27ºC (Sugiyarto, 2007).
Suhu
berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan
organisme untuk hidup dan ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada
kisaran suhu tertentu (Hardjowigeno, 2007).
KESIMPULAN
Keanekaragaman
jenis makro fauna tanah dapat diketahui dengan melakukan uji Pit Fall Trap pada
daerah yang dianggap memiliki unsur-unsur organik yang memadai. Faktor-faktor
fisik seperti suhu, kelembaban, intensitas cahaya serta pH tanah juga sangatlah
mempengaruhi keanekaragaman makro fauna yang terdapat di dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. 2002. Ilmu Tanah. Bhratara ` Karya Aksara. Jakarta
Hanafiah,
Kemas Ali. 2005. Biologi Tanah Ekologi
dan Mikrobologi Tanah. PT. raja Grafindo.
Jakarta.
Hardjowigeno,
S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo.
Jakarta
Irwan, Z.
2002. Prinsip – Prinsip Ekologi dan Organisasi.
Bumi Aksara. Jakarta
Leksono,
A. 2007. Ekologi Pendekatan Deskriptif
dan Kuantitatif. Banyumedia. Malang
Masria.
2008. Buku Ajar Dasar - Dasar Ilmu Tanah,
Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Sugiyarto,
M. 2007. Preferensi Berbagai Jenis Makrofauna
Tanah Terhadap Sisa Bahan Organik
Tanaman pada Intensitas Cahaya Berbeda. Biodiversitas. Volume 7, Nomor 4. April 2007. Halaman: 96-100
Suin,
N.M. 2006. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara.
Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar