POPULASI
DEKOMPOSER
Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan
Ismail S Alaydrus2)
1.
Mahasiswa
Program Studi Biologi
2.
Asisten Dosen
Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstract
The aim of the practical work of this time is to find out the
factors of soil physical chemistry and know the diversity of earthworms. The
methods used to determine two places such as the area canopied seat and not
canopied seat in the campus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, and then it would
be the measurement of soil physical chemistry. After then, sought whether there
is the earthworms at the location observed. Based on observations not found
earthworms .The conclusion is the existence of earthworms at a location on the
influence by temperature, pH, moisture, and light intensity. Earthworms will
thrive in such environment factor corresponds to his needs.
Keywords :
earthworms, temperature, soil physicall chemistry
PENDAHULUAN
Berdasarkan fungsinya, dapat dikatakan bahwa semua makhluk hidup
dalam suatu ekosistem dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu produsen, konsumen,
dan dekomposer. Dekomposer adalah mikroorganisme yang berperan menguraikan
tubuh makhluk hidup lain yang mati atau sampah. Adapun proses yang dilakukan
oleh aktivitas dari dekomposer disebut dengan dekomposisi. Tidak sembarang
tempat dapat digunakan sebagai tempat tinggal untuk suatu jenis makhluk hidup.
Sebagai contoh cacing tanah hidup di tempat yang banyak humusnya (Wirakusumah,
2003).
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang menempati suatu
daerah tertentu. Berdasarkan dari waktu ke waktu jumlah populasi mengalami
perubahan. Perubahan yang terjadi dapat mengurangi jumlah populasi dan dapat
menambah jumlah populasi. Perubahan populasi makhluk hidup disebabkan adanya
kematian, kelahiran, dan perpindahan makhluk hidup di suatu tempat. Populasi
makhluk hidup di suatu tempat dapat diketahui melalui penghitungan banyaknya
populasi di tempat tersebut (Wirakusumah, 2003).
Pertumbuhan populasi itu ditentukan oleh daya biak spesies. Semakin
besar daya biak suatu spesies, akan semakin besar populasinya. Semakin besar
populasi itu, semakin banyak kebutuhan makanannya. Demikian pula kebutuhan akan
oksigen, air, dan ruangan (Wirakusumah, 2003).
Dekomposisi pada kondisi lapang merupakan proses yang sangat
kompleks. Proses dekomposisi ini dikendalikan oleh tiga faktor utama yaitu
sifat bahan organik atau kualitas bahan baku, kondisi fisik dan kimia
lingkungan seperti temperatur, kelembaban, pH, unsur mineral dan potensi
redoks, serta komposisi organisme tanah (Hanafiah, 2005).
Dekomposisi (penguraian) oleh dekomposer di dalam ekosistem
merupakan hasil kerjasama antara kelompok mikroflora dan invertebrata. Tanpa
kehadiran invertebrata mikroflora dalam proses dekomposisi sangat lambat.
Invertebrata telah diketahui menstimulasi pertumbuhan mikroba melalui
fragmentasi substrat, merubah sifat fisik dan kimia substrat serta melalui
grazing (memakan mikroba). Hal ini dapat menjelaskan bahwa proses dekomposisi
secara tidak langsung dapat dicerminkan oleh komposisi, dinamika populasi dan
aktivitas lain invertebrata (Djamal, 2007).
Dekomposer (pengurai) merupakan kelompok mikroorganisme berupa
bakteri dan jamur yang bersifat saprofit yang merombak atau menguraikan
sisa-sisa jasad yang mati. Zat-zat organik dari bagian tubuh yang mati
diuraikan kembali menjadi zat-zat anorganik dengan menggunakan enzim pencernaan
yang selanjutnya dikembalikan lagi ke alam. Hasil penguraian oleh kelompok
pengurai ini berupa zat mineral yang akan meresap ke dalam tanah. Zat zat mineral
itulah yang kelak akan diambil oleh tumbuhan untuk disusun menjadi makanan
(Hanafiah, 2005).
Adanya kelompok pengurai ini banyak keuntungan yang didapatkan
yaitu tidak akan ada tumpukan bangkai hewan atau luruhan daun dan ranting
pepohonan, dan tumbuhan dapat memperoleh zat hara yang diperlukan untuk
mensintesis makanan (Hanafiah, 2005).
Kehidupan fauna tanah sangat bergantung pada habitatnya, karena
keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah sangat ditentukan
keadaan daerah itu. Keberadaan kepadatan suatu populasi suatu jenis fauna tanah
sangat bergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan
lingkungan abiotik. Fauna tanah terhadap kedalaman tanah saling mempengaruhi
antara jumlah, distribusi, dan ukuran (Suin, 2006)
Dekomposer seperti cacing tanah,
menghasilkan dekomposisi sisa pencernaan yang merupakan sumber bahan organik
tanah. Sumber makanan cacing tanah berasal dari sisa-sisa tanaman yang
membusuk. Berdasarkan tempat hidupnya, cacing dibedakan menjadi tiga tipe yaitu
tipe epigeik yang mampu hidup di dalam tanah kedalaman +/- 8 cm, tipe
endogeik yang mampu hidup di dalam tanah dengan kedalaman 45 cm, dan tipe
anecigeik yang mampu hidup di dalam tanah dan sekresi di permukaan tanah
(Hanafiah, 2005)
Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mengetahui faktor-faktor kimia fisik tanah serta mengetahui
keanekaragaman cacing tanah.
METODE
PENELITIAN
Bahan
dan Alat
Bahan utama yang digunakan pada
praktikum ini adalah larutan sabun pekat. Alat yang digunakan dalam praktikum
ini adalah sprayer, sekop, plastik clip, tali rafia ukuran 50cm x 50 cm, soil tester,
dan termometer tanah.
Cara
Kerja
1.
Penentuan
titik lokasi
Penentuan
titik lokasi
Gambar
1. Denah Lokasi Pengamatan
Lokasi
pengamatan berada di wilayah kampus UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang terbagi menjadi dua titik lokasi, yaitu lokasi
yang berada di bawah kanopi dan lokasi yang tidak berkanopi. Setiap titik
lokasi terdiri dari dua petak kuadrat yang masing-masing berukuran 50cm x 50cm.
2.
Pengukuran
faktor abiotik lingkungan
Titik
lokasi yang sudah diukur masing-masing 50cm x 50cm kemudian diberi tanda dengan
tali rafia pada masing-masing lokasi yaitu yang berada di bawah kanopi dan
tidak berkanopi. Langkah berikutnya yaitu titik lokasi yang akan diamati
dibersihkan dari serasah dan sebagainya dan digali sedikit pada permukaan atas.
Kemudian dilakukan pengukuran faktor kimia fisik seperti pH tanah, suhu tanah,
kelembaban, dan intesitas cahaya.
3.
Pengamatan
cacing tanah
Setelah
dilakukan pengukuran untuk mengetahui faktor-faktor kimia fisik tanah, langkah
berikutnya yaitu menyemprotkan larutan sabun pekat ke bagian permukaan tanah
dengan sprayer dan didiamkan selama 1 menit, lalu diamati jenis cacing yang ada
pada bagian permukaan. Setelah itu, pada petak yang masing-masing berukuran
50cm x 50 cm digali dengan menggunakan sekop hingga kedalamannya mencapai 50cm.
Ketika menggali pada petak tersebut dilakukan pengamatan jenis-jenis cacing
yang ada pada petak tersebut. Cacing yang ditemukan pada masing- masing lokasi
yaitu lokasi di bawah kanopi dan tidak berkanopi dimasukkan ke dalam plastik
clip yang berbeda, kemudian dilakukan identifikasi.
HASIL
DAN PEMBAHASAN Berdasarkan
hasil pengamatan, maka didapat data berupa tabel berikut :
Kelompok
|
Kanopi
|
Tidak
Berkanopi
|
1
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
3
|
0
|
0
|
4
|
0
|
0
|
5
|
0
|
0
|
Tabel 1. Jumlah cacing yang ditemukan di area
kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di area kampus
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baik lokasi yang berkanopi maupun tidak
berkanopi dapat diketahui bahwa tidak ada jumlah populasi cacing yang ditemukan
dalam setiap kelompoknya. Hal ini dapat terjadi karena lokasi yang dipilih
untuk dilakukan pengamatan memiliki karakteristik tekstur tanah yang berpasir
dan kering, mengandung sedikit unsur hara, tanah yang tidak lembab, yang
menyebabkan populasinya sangat sedikit bahkan tidak ada saat diamati (Manurung,
2011).
Populasi cacing tanah memiliki hubungan yang erat dengan keadaan
habitat cacing tersebut berada, yaitu kondisi fisik, kimia, biotik dan
makanannya. Keberadaan cacing tanah di alam sangat dibatasi oleh kadar air
tanah, karakteristik tanah, curah hujan, tipe penggunaan lahan, penambahan
bahan kimia pada tanah dan temperatur tanah (Manurung, 2011)
Namun, berdasarkan tempat hidupnya cacing tanah dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu epigeik, endogeik, dan anecigeik. Cacing epigeik adalah cacing
yang hidup di lapisan serasah yang letaknya di atas permukaan tanah, memiliki
ukuran yang lebih kecil dan berpigmen, disebut sebagai cacing penghancur
serasah. Cacing epigeik memakan sampah organik yang kasar, serta sejumlah
sampah yang belum terurai. Cacing tipe ini mampu hidup di permukaan tanah +/-
8cm, dan memiliki laju metabolisme dan reproduksi yang tinggi. Hal tersebut
menggambarkan daya adaptasi yang tinggi terhadap perubahan kondisi lingkungan
pada permukaan tanah, contohnya yaitu Dendrobaena octraeda (Manurung,
2011)
Cacing endogeik disebut cacing penggali tanah. Cacing endogeik
hidup di dalam tanah yang lebih dalam dari tipe cacing epigeik yaitu pada
kedalaman 45 cm, dan memakan tanah serta kumpulan bahan-bahan organik. Cacing
tanah jenis ini tidak memiliki pigmen tubuh dan mampu membuat liang horizontal
yang bercabang ke dalam tanah. Kelompok cacing ini berperan penting dalam
mencampur serasah di atas tanah dengan tanah lapisan bawah dan meninggalkan
liang dalam tanah. Hasil kotoran dari cacing ini lebih kaya akan unsur karbon
dan hara untuk tanah di sekitarnya. Cacing endogeik merupakan kelompok yang
paling rentan terhadap perubahan lingkungan yang buruk, sehingga kelompok
cacing ini merupakan jenis bioindikator kesuburan tanah. Pengaruh cacing ini
terlihat lebih cepat terhadap produktivitas tanaman tahunan yang berakar dalam,
contohnya yaitu Lumbricus terrestis. (Manurung, 2011)
Cacing anecigeik hidup di dalam sistem liang vertikal yang lebih
permanen, dapat meluas beberapa meter ke dalam tanah. Cacing jenis ini dapat
ditemukan pada liang yang dangkal atau dalam tergantung pada kondisi tanah yang
baik sebagai habitatnya. Cacing jenis ini mengeluarkan sisa pencernaannya
(kasting) pada permukaan tanah, sehingga berperan penting dalam meningkatkan
kadar biomassa dan kesuburan tanah lapisan atas. Pengaruh cacing ini terlihat
lebih cepat terhadap produktivitas tanaman semusim yang berakar dangkal. Laju
reproduksi cacing jenis ini tergolong lambat, hal ini dapat dilihat dari
produksi kokonnya, salah satu contohnya adalah Octolasium Cyaneum (Manurung, 2011).
Vegetasi
Faktor fisik
|
Suhu (0C)
|
pH
|
Kelembaban
(%)
|
Intensitas
Cahaya (Klx)
|
Berkanopi
|
28,3
|
6,78
|
1,88
|
5,298
|
Tidak
Berkanopi
|
31,6
|
6,74
|
1,14
|
30,348
|
Tabel 2. Faktor
–faktor kimia fisik tanah
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa populasi cacing
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu, pH, kelembaban, dan intensitas
cahaya. Berdasarkan tabel 1.2 diketahui bahwa suhu pada lokasi yang berkanopi
28,3 0C, dan lokasi yang tidak berkanopi 31,6 0C. Hal ini
menyebabkan cacing tidak dapat hidup karena suhu yang terlalu tinggi bagi
kelangsungan hidup cacing. Suhu tanah dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi
iklim dan tutupan vegetasi yang ada pada tanah tersebut. Tutupan vegetasi yang
rapat akan menghalangi cahaya matahari secara langsung menembus tanah yang pada
akhirnya akan mempengaruhi suhu tanah. Suhu tanah mempengaruhi distribusi
cacing di dalam profil tanah. Suhu sangat mempengaruhi aktivitas pertumbuhan,
metabolisme, respirasi dan reproduksi cacing tanah. Setiap jenis cacing tanah
memiliki temperatur yang berbeda untuk kelangsungan hidupnya. Periode
pertumbuhan mulai dari penetasan sampai pada dewasa juga tergantung pada
temperatur tanah. Kisaran suhu optimum cacing misalnya pada tipe epigeik yaitu Lumbricus
rubellus 15-18 °C, dan pada tipe endogeik yaitu Lumbricus
terrestris ± 10 °C (Manurung, 2011).
pH menyatakan banyaknya konsentrasi ion H+ dan ion OH- di dalam
tanah. Cacing tanah sangat sensitif terhadap keasaman tanah, sehingga keasaman
tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktivitas cacing tanah. pH merupakan
faktor pembatas dalam penyebaran cacing tanah dan setiap jenis cacing tanah
memiliki tingkat preferensi yang berbeda terhadap pH tanah. Cacing tanah tumbuh
baik pada pH sekitar 6,0 - 7,2. Hasil yang di dapat saat dilakukan pengukuran
pH berdasarkan tabel 2. yaitu 6,78 pada lokasi yang berkanopi dan 6,74.
Seharusnya cacing dapat hidup karena pH yang diperoleh masih dikatakan netral,
namun dapat diperhatikan pula kadar bahan organik yang terkandung di dalamnya
sedikit (Manurung, 2011)
Kelembaban tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan.
Cacing tanah mengandung air 75 – 90 % dari berat tubuhnya, sehingga kelembaban
adalah faktor pembatas utama bagi pertumbuhan cacing tanah. Cacing tanah selalu
hidup dekat dengan sumber makanannya pada kondisi yang lembab. Laju pertumbuhan
cacing tanah tertinggi terdapat pada kelembaban 75%. Kebutuhan cacing tanah
terhadap kelembaban tanah berbeda setiap spesies. Kelembaban tanah yang terlalu
tinggi ataupun terlalu rendah akan mengakibatkan kematian bagi cacing tanah.
Saat kelembaban terlalu tinggi, cacing tanah berwarna pucat dan kemudian mati,
sedangkan pada kelembaban terlalu rendah, cacing tanah akan masuk kedalam tanah
dan berhenti makan yang kemudian mati. Adapun hasil yang didapat berdasarkan
tabel 2. menyatakan kelembaban udara hanya sebesar 1% pada lokasi yang
berkanopi maupun tidak berkanopi. Hal ini tentu saja menyebabkan cacing tidak
mampu hidup pada lokasi tersebut karena presentase kelembaban yang sangat
rendah yang mampu mengakibatkan kematian bagi cacing tanah (Manurung, 2011)
Berdasarkan data tabel 2. dapat diketahui intesitas cahaya pada
lokasi yang berkanopi sebesar 5,298klx dan yang tidak berkanopi sebesar 30,348klx.
Intensitas cahaya berbanding lurus dengan suhu. Cacing tidak dapat hidup pada
lokasi yang memiliki intensitas cahaya yang tinggi, karena apabila intensitas
cahaya tinggi maka akan tinggi pula suhunya, sedangkan suhu yang optimal hanya
berkisar antara 15-18 0C (Yani, 2008).
KESIMPULAN
Cacing tanah dapat dibedakan menjadi tiga tipe berdasarkan tempat
hidup atau kedalaman tanah yaitu
epigeik, endogeik, dan anecigeik. Keberadaan cacing tanah pada suatu lokasi di
pengaruhi oleh suhu, pH, kelembaban, dan intensitas cahaya. Cacing tanah akan
berkembang dengan baik apabila faktor lingkungan tersebut sesuai dengan
kebutuhannya. Keseimbangan lingkungan akan rusak dan berantakan bila cacing
tanah sampai mengalami kepunahan. Maka dari itu, cacing digunakan sebagai
bioindikator tanah. Adanya vegetasi diperkirakan mempengaruhi kondisi fisik
tanah, dan pada akhirnya mempengaruhi keberadaan dari cacing tersebut.
Pengukuran faktor-faktor kimia fisik tanah dilakukan dengan cara menggali sedikit
pada permukaan atas tanah kemudian diukur menggunakan alat soil tester dan termometer
tanah.
DAFTAR
PUSTAKA
Djamal,
I. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya.
Bumi Aksara. Jakarta
Hanafiah, K. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Pt
Raja Grafindo. Jakarta
Manurung, A. 2011. Cacing Tanah Serta Parameter
Kimia Fisik Tanah. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40105/4/Chapter%20II.pdf)
diakses pada 1 Oktober 2015 pada pukul 14.00 WIB
Suin,
N.M. 2006. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta
Wirakusumah,
S. 2003. Dasar-Dasar Ekologi. UI Press. Jakarta
Yani, R.
2008. Ekosistem Tanah dan Populasi
12/ekosistem-dekomposer.html) diakses pada
1 Oktober
2015 pada pukul 03.00 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar