Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Minggu, 27 Maret 2016

    ALELOPATI

                     ALELOPATI

    Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan Ismail S Alaydrus2)
    1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
    2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
    Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id

    Abstract
    The aim of the practical work of this time is to studying the influence allelopathy of growth plants corn and green beans. The methods used to plant corn ang green beans and given two treatment that is given extract alelopathy and not extract. The extract of allelopathy made from some leaves that have been filtered in such a way and do measurement and observed for a month.The conclusion is the of formation of the compounds allelopathy is a process of interaction to mention interspecies the continuity of his life with the competition, and the influence allelopathy of each affect the growth of plants corn and green beans.
    Keywords       : extract, allelopathy, green beans


    PENDAHULUAN


    Tumbuhan dalam bersaing mempunyai senjata yang bermacam-macam, misalnya duri, berbau, yang kurang bisa diterima sekelilingnya, tumbuh cepat, berakar dan berkarnopi luas dan bertubuh tinggi besar, maupun adanya sekresi zat kimiawi yang dapat merugikan pertumbuhan tetangganya. Uraian berikut ini menjelaskan tentang sekresi kimiawi yang disebut alelopati dan mengakibatkan peristiwa yang disebut alelopat. Alelopati (allelopathy) berasal dari dua kata Yunani “allelo” dan “pathy” yang berarti “mutual harm”, menyatakan bahwa fenomena alam dari suatu tanaman melepaskan zat penghambat pertumbuhan jenis tumbuhan tanaman lain yang berbagi habitat yang sama. Alelopati adalah mekanisme interaksi biokimia yang interaktif, baik merangsang ataupun menghambat perkembangan semua jenis organisme. Jadi, tidak semua alelopati bersifat negatif, ada beberapa senyawa alelopati yang bersifat positif baik secara langsung ataupun tidak langsung (Fitter, 1994).
    Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa alelopati yang merupakan metabolit sekunder di bagian akar, rizoma, daun, serbuk sari, bunga, batang, dan biji. Fungsi dari senyawa alelopati dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa alelopati dari tanaman lainnya dapat mengalami gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta perkembangannya. Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan senyawa alelopati adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji, perpanjangan koleoptil, radikula, tunas, dan akar (Fitter, 1994).
    Tumbuhan lain jenis yang tumbuh sebagai tetangga dapat menjadi kalah. Kekalahan tersebut karena menyerap zat kimiawi yang beracun berupa produk sekunder dari tanaman pertama. Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat berupa gas atau zat cair dan dapat keluar dari akar, batang maupun daun. Hambatan pertumbuhan akibat adanya alelopati dalam peristiwa alelopati misalnya pertumbuhan hambatan pada pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar dari bagian atas tanah berupa gas, atau eksudat yang turun kembali ke tanah dan eksudat dari akar. Jenis yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan fenolat, terpenoid, dan alkaloid (Jumin, 2008).
    Alelopati kebanyakan berada dalam jaringan tanaman, seperti daun, akar,aroma, bunga, buah maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Beberapa contoh zat kimia yang dapat bertindak sebagai alelopati adalah gas-gas beracun, contohnya yaitu Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN, amonia, Ally-lisothio cyanat dan β-fenil isitio sianat sejenis gas diuapkan dari minyak yang berasal dari familia Crusiferae dapat menghambat perkecambahan. Selain gas, asam organik, aldehida, asam aromatik, lakton tak jenuh seserhana, fumarin, kinon,flavanioda, tanin, alkaloida ,terpenoida dan streroida juga dapat mengeluarkan zat (Jumin, 2008).
    Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh alelopati tanaman alang-alang, akasia petai cina, kersen, dan singkong karet terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan kacang hijau.

    METODE PENELITIAN
                Praktikum ini dilakukan pada Senin, 12 Oktober 2015 di Laboratorium Ekologi Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    Alat dan Bahan
                Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air destilasi (aquades), daun alang-alang  (Imperata cylindrica), daun akasia (Acacia mangium), daun petai cina (Leucaena leucocephala), daun kersen (Mutingia calabura L.), daun singkong karet (Manihot glaziovii), biji jagung (Zea mays), biji kacang hijau (Phaseolus radiatus), tanah subur, dan pupuk kandang.
                Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas saring, pipet, mortar dan blender, corong penyaring, gelas ukur 100 cc, gelas piala, pisau atau gunting, neraca analitik atau timbangan, dan polybag.
    Cara Kerja
                Proses dalam pembuatan alelopati ini diawali dengan memilih biji jagung, kacang hijau yang berkualitas baik (besar, tidak rusak, dan tenggelam dalam air).  Setelah itu, biji yang telah dipilih tersebut kemudian direndam dalam air selama 24 jam. Benih yang telah direndam tersebut kemudian benih ditanam di dalam polybag.
    Selanjutnya, untuk membuat ekstrak alelopati dari alang – alang, akasia, petai cina, kersen, dan singkong karet dengan cara menghaluskan daun tumbuhan tersebut dengan blender. Lalu dibuat ekstrak bagian tumbuhan tersebut dengan air (aquades) dengan perbandingan bagian tumbuhan : air yaitu 1 : 7 dan dibiarkan selama 24 jam (larutan ini  digunakan sebagai larutan stock). Setelah 24 jam lalu disaring ekstrak yang telah diperoleh dengan menggunakan kertas saring.  
    Kemudian, setelah itu dilakukan perlakuan terhadap dua jenis tanaman yaitu perlakuan kontrol, tanpa larutan alelopati, dan perlakuan dengan larutan alelopati. Proses  selanjutnya yaitu dengan melakukan  penyiraman dengan cairan   alelopati selama dua kali seminggu secara begiliran sebanyak 40 ml pada masing – masing polybag. Selain penyiraman, dilakukan pula pengukuran tinggi setiap dua minggu sekali selama jangka waktu sebulan. Terakhir, dilakukan pemanenan biomassa,  kemudian diukur panjang dan berat basah dari masing-masing tanaman.






    HASIL DAN PEMBAHASAN
     Berdasarkan pada hasil pengamatan pengaruh alelopati terhadap tanaman kacang hijau dan jagung, maka diperoleh data sebagai berikut :

    Tabel 1. Data Pengaruh Zat Alelopati pada Tanaman
    Zat alelopati
    Perlakuan
    Berat Basah
    A
    B
    C
    D
    Alang-alang
    22.1
    22.4
    26.1
    25.3
    0.45
    Akasia
    28.7
    24.5
    31.5
    28.6
    0.37
    Petai cina
    25.5
    24.4
    30.8
    20.8
    0.35
    Kersen
    31.5
    26.5
    35.4
    24.5
    0.4
    Singkong karet
    26.1
    23.8
    16.7
    33.5
    0.27
    Rata-rata
    26.78
    24.3
    28.1
    26.5
    0.36







    Tabel 2. Fluktuasi Pertumbuhan Tanaman
    Perlakuan
    Minggu ke-
    Berat basah
    1
    2
    3
    4
    A
    25
    27.4
    29.2
    24.6
    0.5
    B
    21.8
    23.3
    22.7
    17.9
    0.4
    C
    26
    23
    22.9
    18.6
    0.5
    D
    26
    26.5
    28.1
    4.5
    0.18

    Keterangan :    A : Kacang hijau(Alelopati)
                            B : Kacang hijau (Kontrol)
                            C : Jagung (Kontrol)
                            D : Jagung (Alelopati)


                            Tabel 3. Berat Basah Tanaman
    Kelompok
    Berat Basah
    A
    B
    C
    D
    1
    0.2
    0.5
    1
    0.1
    2
    1
    0,5
    0
    0
    3
    0.2
    1
    0
    0.2
    4
    0,3
    0
    1
    0.3
    5
    0,8
    0
    0
    0.3

    Tabel 4. Morfologi Tanaman Ekstrak Alelopati
    Zat Alelopati
    Morfologi
    Alang-alang
    Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang hijau (kontrol) mati dan jagung 3 daun primer. Minggu keempat tanaman  layu jagung (alelopati) mati, kacang hijau dan jagung tumbuh 4 daun primer.
    Akasia
    Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua jagung (kontrol) mati, kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang hijau 3 daun primer dan jagung (alelopati) mati. Minggu keempat tanaman  layu, kacang hijau tumbuh 4 daun.
    Petai cina
    Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua, kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang hijau 3 daun primer dan jagung tumbuh 4 daun primer.  Minggu keempat tanaman mati.
    Kersen
    Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang hijau (kontrol) mati dan jagung 3 daun primer. Minggu keempat tanaman  layu, jagung (kontrol) 4 daun primer.
    Singkong karet
    Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua jagung (kontrol) mati, kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang hijau 3 daun primer dan jagung (kontrol) mati. Minggu keempat hanya tersisa kacang hijau (alelopati), selebihnya mati.

    Gambar 1. Grafik Fluktuasi Tanaman






    Berdasarkan pada hasil pengamatan mengenai pengaruh alelopati, dapat terlihat bahwa dari percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa ekstrak tanaman allelopati yang diberikan terhadap kedua tanaman yang dijadikan sebagai objek percobaan yaitu pada tanaman jagung dan kacang hijau sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari biji pada saat perkecambahan ini. Hal ini menandakan bahwa ekstrak dari tanaman alelopati ini sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman percobaan tersebut. Berdasarkan pada prinsipnya, alelopati merupakan pengaruh yang bersifat merusak, menghambat, merugikan dan dalam keadaan kondisi tertentu dapat juga menguntungkan, dimana pengaruh ini terjadi pada perkecambahan, pertumbuhan maupun pada saat metabolisme tanaman. Pengaruh ini disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang di lepaskan oleh suatu tanaman ke tanaman yang lainnya (Leksono, 2007).
                    Berdasarkan hasil percobaan yang telah diketahui bahwa dari data hasil percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa pertumbuhan tertinggi ada pada tanaman kacang hijau yaitu dengan rata – rata sebesar 28,1 cm sedangkan yang terendah adalah pada  biji jagung yaitu sebesar 24,3 cm. Hal ini dapat terjadi demikian, dikarenakan pada tanaman kacang hijau lebih tahan terhadap zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman alelopati tertentu sedangkan tanaman jagung spesiesnya tidak tahan terhadap zat alelopati yang dikeluarkan oleh tanaman tertentu. Berdasarkan pada kejadian ini terlihat bahwa adanya persaingan tanaman untuk mempertahankan hidup dari zat-zat yang bersifat alelopati yang dikeluarkan oleh tanaman lain yang bersifat merusak (Odum, 1998). Ketika persaingan antara individu - individu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhan-kehbutuhan yang sama terhadap faktor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya sendiri. Peristiwa semacam ini disebut alelopati. Alelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme (Junaedi, 2006).
                Adapun jenis tanaman yang dijadikan ekstrak yang diketahui mengandung zat alelopati yaitu ekstrak alang – alang, akasia, petai cina, kersen, dan singkong karet. Bagian tanaman yang digunakan adalah bagian daunnya. Senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Alelopati pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme sasaran melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi. Setiap jenis alelopati dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ pembentuknya dan bentuk atau sifat kimianya. Mekanisme pengaruh alelopati (khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses yang cukup kompleks, proses tersebut diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase (Petelay, 2003). Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran (Setyo, 2007).
                Berdasarkan pada tabel mengenai morfologi dari zat ekstrak alelopati dapat diketahui bahwa pada tanaman singkong karet yang masih bertahan hidup pada perlakuan alelopati saja, pada tanaman yang diberi perlakuan kontrol mati. Hal ini serupa terjadi pada tanaman petai cina. Hal ini membuktikan bahwa alelopati pada tanaman ini bersifat alelopati positif (saling bekerja sama merangsang perkembangan organisme tersebut). Sedangkan pada tanaman akasia,  dan kersen tanaman tersebut bersifat alelopati negatif karena pertumbuhannya merusak yang lama – kelamaan tanaman yang diberi perlakuan alelopati mati. Kemudian, berdasarkan tabel perhitungan berat basah didapat yang terbesar pada singkong karet yang diberi perlakuan alelopati yaitu  0,8 gram sedangkan yang terkecil yaitu 0 gram karena pada saat ditimbang tanaman tersebut sudah mati dan kering (Soejani, 2001).

    KESIMPULAN
    Proses pembentukkan senyawa alelopati merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya. Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain . Alelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme.





    DAFTAR PUSTAKA
    Fitter. AH. 1994. Fisiologi Lingkungan
    Tanaman UGM Press. Semarang
    Jumin, H. 2008. Ekologi Tanaman. Rajawali Press. Jakarta
    Junaedi, A. 2006. Ulasan perkembangan
    terkini kajian alelopati current
    research status of allelopathy. Hayati.
    Vol (13) (2) hlm. 79-84.
    Leksono, A. 2007. Ekologi Pendekatan         Deskriptif dan Kuantitatif.     Banyumedia. Malang

    Odum. 1998. Ekologi Tumbuhan. Rineka      Cipta. Yogyakarta
    Petelay, F. 2003. Pengaruh Allelopathy Acacia
    mangium wild terhadap
    Perkecambahan Benih Kacang Hijau
    (Phaseolus radiatus) dan Jagung (Zea
    mays).(http://www.geocities.com/irwantoshallelopathy_acacia.doc. diakses pada tanggal 12 November 2015 pukul 23.00 WIB
    Setyo, L. 2007. Ekologi. Bayomedia  Publishing. Malang
    Soejani . 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi   Tumbuhan. Malang: Universitas         Negeri Malang.









    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 12.29.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: EKOLOGI DASAR

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.