ALELOPATI
Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan
Ismail S Alaydrus2)
1.
Mahasiswa
Program Studi Biologi
2.
Asisten Dosen
Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstract
The aim of the practical work of this time is to studying the
influence allelopathy of growth plants corn and green beans. The methods used
to plant corn ang green beans and given two treatment that is given extract
alelopathy and not extract. The extract of allelopathy made from some leaves
that have been filtered in such a way and do measurement and observed for a
month.The conclusion is the of formation of the compounds allelopathy is a
process of interaction to mention interspecies the continuity of his life with
the competition, and the influence allelopathy of each affect the growth of
plants corn and green beans.
Keywords : extract,
allelopathy, green beans
PENDAHULUAN
Tumbuhan
dalam bersaing mempunyai senjata yang bermacam-macam, misalnya duri, berbau,
yang kurang bisa diterima sekelilingnya, tumbuh cepat, berakar dan berkarnopi luas
dan bertubuh tinggi besar, maupun adanya sekresi zat kimiawi yang dapat
merugikan pertumbuhan tetangganya. Uraian berikut ini menjelaskan tentang
sekresi kimiawi yang disebut alelopati dan mengakibatkan peristiwa yang disebut
alelopat. Alelopati (allelopathy) berasal dari dua kata Yunani “allelo”
dan “pathy” yang berarti “mutual harm”, menyatakan bahwa fenomena alam dari
suatu tanaman melepaskan zat penghambat pertumbuhan jenis tumbuhan tanaman lain
yang berbagi habitat yang sama. Alelopati adalah mekanisme interaksi biokimia
yang interaktif, baik merangsang ataupun menghambat perkembangan semua jenis
organisme. Jadi, tidak semua alelopati bersifat negatif, ada beberapa senyawa
alelopati yang bersifat positif baik secara langsung ataupun tidak langsung
(Fitter, 1994).
Tumbuhan dapat menghasilkan senyawa alelopati yang merupakan
metabolit sekunder di bagian akar, rizoma,
daun, serbuk sari, bunga, batang,
dan biji. Fungsi dari senyawa alelopati
dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora dan patogen tanaman. Tanaman yang rentan terhadap senyawa
alelopati dari tanaman lainnya dapat mengalami
gangguan pada proses perkecambahan, pertumbuhan, serta perkembangannya.
Perubahan morfologis yang sering terjadi akibat paparan senyawa alelopati adalah perlambatan atau penghambatan perkecambahan biji, perpanjangan
koleoptil, radikula, tunas, dan akar (Fitter, 1994).
Tumbuhan lain jenis yang tumbuh sebagai tetangga dapat menjadi
kalah. Kekalahan tersebut karena menyerap zat kimiawi yang beracun berupa
produk sekunder dari tanaman pertama. Zat kimiawi yang bersifat racun itu dapat
berupa gas atau zat cair dan dapat keluar dari akar, batang maupun daun.
Hambatan pertumbuhan akibat adanya alelopati dalam peristiwa alelopati misalnya
pertumbuhan hambatan pada pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi,
penutupan stomata, sintesis protein, dan lain-lainnya. Zat-zat tersebut keluar
dari bagian atas tanah berupa gas, atau eksudat yang turun kembali ke tanah dan
eksudat dari akar. Jenis yang dikeluarkan pada umumnya berasal dari golongan
fenolat, terpenoid, dan alkaloid (Jumin, 2008).
Alelopati
kebanyakan berada dalam jaringan tanaman, seperti daun, akar,aroma, bunga, buah
maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Beberapa contoh zat
kimia yang dapat bertindak sebagai alelopati adalah gas-gas beracun, contohnya
yaitu Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan
HCN, amonia, Ally-lisothio cyanat dan β-fenil isitio sianat sejenis gas
diuapkan dari minyak yang berasal dari familia Crusiferae dapat menghambat
perkecambahan. Selain gas, asam organik, aldehida, asam aromatik, lakton tak
jenuh seserhana, fumarin, kinon,flavanioda, tanin, alkaloida ,terpenoida dan
streroida juga dapat mengeluarkan zat (Jumin, 2008).
Praktikum
ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh alelopati tanaman alang-alang, akasia
petai cina, kersen, dan singkong karet terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan
kacang hijau.
METODE PENELITIAN
Praktikum
ini dilakukan pada Senin, 12 Oktober 2015 di Laboratorium Ekologi Pusat
Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Alat dan Bahan
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah air destilasi (aquades), daun
alang-alang (Imperata cylindrica),
daun akasia (Acacia mangium), daun petai cina (Leucaena leucocephala),
daun kersen (Mutingia calabura L.), daun singkong karet (Manihot
glaziovii), biji jagung (Zea mays), biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus), tanah subur, dan pupuk kandang.
Alat
yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas saring, pipet, mortar dan
blender, corong penyaring, gelas ukur 100 cc, gelas piala, pisau atau gunting,
neraca analitik atau timbangan, dan polybag.
Cara Kerja
Proses
dalam pembuatan alelopati ini diawali dengan memilih biji jagung, kacang hijau
yang berkualitas baik (besar, tidak rusak, dan tenggelam dalam air). Setelah itu, biji yang telah dipilih tersebut
kemudian direndam dalam air selama 24 jam. Benih yang telah direndam tersebut
kemudian benih ditanam di dalam polybag.
Selanjutnya,
untuk membuat ekstrak alelopati dari alang – alang, akasia, petai cina, kersen,
dan singkong karet dengan cara menghaluskan daun tumbuhan tersebut dengan
blender. Lalu dibuat ekstrak bagian tumbuhan tersebut dengan air (aquades)
dengan perbandingan bagian tumbuhan : air yaitu 1 : 7 dan dibiarkan selama 24
jam (larutan ini digunakan sebagai
larutan stock). Setelah 24 jam lalu disaring ekstrak yang telah diperoleh
dengan menggunakan kertas saring.
Kemudian,
setelah itu dilakukan perlakuan terhadap dua jenis tanaman yaitu perlakuan
kontrol, tanpa larutan alelopati, dan perlakuan dengan larutan alelopati.
Proses selanjutnya yaitu dengan
melakukan penyiraman dengan cairan alelopati selama dua kali seminggu secara
begiliran sebanyak 40 ml pada masing – masing polybag. Selain penyiraman,
dilakukan pula pengukuran tinggi setiap dua minggu sekali selama jangka waktu
sebulan. Terakhir, dilakukan pemanenan biomassa, kemudian diukur panjang dan berat basah dari
masing-masing tanaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pada hasil pengamatan pengaruh
alelopati terhadap tanaman kacang hijau dan jagung, maka diperoleh data sebagai
berikut :
Tabel 1. Data Pengaruh
Zat Alelopati pada Tanaman
|
Zat alelopati
|
Perlakuan
|
Berat Basah
|
|||
|
A
|
B
|
C
|
D
|
||
|
Alang-alang
|
22.1
|
22.4
|
26.1
|
25.3
|
0.45
|
|
Akasia
|
28.7
|
24.5
|
31.5
|
28.6
|
0.37
|
|
Petai cina
|
25.5
|
24.4
|
30.8
|
20.8
|
0.35
|
|
Kersen
|
31.5
|
26.5
|
35.4
|
24.5
|
0.4
|
|
Singkong karet
|
26.1
|
23.8
|
16.7
|
33.5
|
0.27
|
|
Rata-rata
|
26.78
|
24.3
|
28.1
|
26.5
|
0.36
|
Tabel 2. Fluktuasi Pertumbuhan
Tanaman
|
Perlakuan
|
Minggu
ke-
|
Berat
basah
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
A
|
25
|
27.4
|
29.2
|
24.6
|
0.5
|
|
B
|
21.8
|
23.3
|
22.7
|
17.9
|
0.4
|
|
C
|
26
|
23
|
22.9
|
18.6
|
0.5
|
|
D
|
26
|
26.5
|
28.1
|
4.5
|
0.18
|
Keterangan : A : Kacang hijau(Alelopati)
B : Kacang hijau
(Kontrol)
C : Jagung (Kontrol)
D : Jagung (Alelopati)
Tabel 3. Berat Basah Tanaman
|
Kelompok
|
Berat Basah
|
|||
|
A
|
B
|
C
|
D
|
|
|
1
|
0.2
|
0.5
|
1
|
0.1
|
|
2
|
1
|
0,5
|
0
|
0
|
|
3
|
0.2
|
1
|
0
|
0.2
|
|
4
|
0,3
|
0
|
1
|
0.3
|
|
5
|
0,8
|
0
|
0
|
0.3
|
Tabel 4. Morfologi Tanaman Ekstrak Alelopati
|
Zat Alelopati
|
Morfologi
|
|
Alang-alang
|
Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua
daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua kacang hijau dua daun
primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang
hijau (kontrol) mati dan jagung 3 daun primer. Minggu keempat tanaman layu jagung (alelopati) mati, kacang hijau
dan jagung tumbuh 4 daun primer.
|
|
Akasia
|
Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua
daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua jagung (kontrol) mati,
kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman
mulai layu, kacang hijau 3 daun primer dan jagung (alelopati) mati. Minggu
keempat tanaman layu, kacang hijau
tumbuh 4 daun.
|
|
Petai cina
|
Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua
daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua, kacang hijau dua daun
primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang
hijau 3 daun primer dan jagung tumbuh 4 daun primer. Minggu keempat tanaman mati.
|
|
Kersen
|
Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua
daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua kacang hijau dua daun
primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman mulai layu, kacang
hijau (kontrol) mati dan jagung 3 daun primer. Minggu keempat tanaman layu, jagung (kontrol) 4 daun primer.
|
|
Singkong karet
|
Minggu pertama jagung dan kacang hijau segar, kacang hijau dua
daun primer dan jagung dua daun primer. Minggu kedua jagung (kontrol) mati,
kacang hijau dua daun primer dan jagung 3 daun primer. Minggu ketiga tanaman
mulai layu, kacang hijau 3 daun primer dan jagung (kontrol) mati. Minggu
keempat hanya tersisa kacang hijau (alelopati), selebihnya mati.
|
Gambar 1. Grafik Fluktuasi Tanaman

Berdasarkan pada hasil pengamatan mengenai pengaruh alelopati,
dapat terlihat bahwa dari percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa ekstrak
tanaman allelopati yang diberikan terhadap kedua tanaman yang dijadikan sebagai
objek percobaan yaitu pada tanaman jagung dan kacang hijau sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari biji pada saat perkecambahan ini. Hal
ini menandakan bahwa ekstrak dari tanaman alelopati ini sangat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman percobaan tersebut. Berdasarkan pada prinsipnya, alelopati
merupakan pengaruh yang bersifat merusak, menghambat, merugikan dan dalam
keadaan kondisi tertentu dapat juga menguntungkan, dimana pengaruh ini terjadi
pada perkecambahan, pertumbuhan maupun pada saat metabolisme tanaman. Pengaruh
ini disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang di lepaskan oleh suatu tanaman ke
tanaman yang lainnya (Leksono, 2007).
Berdasarkan hasil percobaan yang telah diketahui bahwa dari data
hasil percobaan yang telah dilakukan diketahui bahwa pertumbuhan tertinggi ada
pada tanaman kacang hijau yaitu dengan rata – rata sebesar 28,1 cm sedangkan
yang terendah adalah pada biji jagung yaitu sebesar 24,3
cm. Hal ini dapat terjadi demikian, dikarenakan pada tanaman kacang
hijau lebih tahan terhadap zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman alelopati
tertentu sedangkan tanaman jagung spesiesnya tidak tahan terhadap zat alelopati
yang dikeluarkan oleh tanaman tertentu. Berdasarkan pada kejadian ini terlihat
bahwa adanya persaingan tanaman untuk mempertahankan hidup dari zat-zat yang
bersifat alelopati yang dikeluarkan oleh tanaman lain yang bersifat merusak
(Odum, 1998). Ketika persaingan antara individu - individu dari jenis yang sama
atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhan-kehbutuhan yang sama
terhadap faktor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang suatu jenis tumbuhan
mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anaknya
sendiri. Peristiwa semacam ini disebut alelopati. Alelopati terjadi karena
adanya senyawa yang bersifat menghambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa
sekunder karena tidak berperan dalam metabolisme primer organisme organisme
(Junaedi, 2006).
Adapun jenis tanaman yang dijadikan
ekstrak yang diketahui mengandung zat alelopati yaitu ekstrak alang –
alang, akasia, petai cina, kersen, dan singkong karet. Bagian tanaman yang
digunakan adalah bagian daunnya. Senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
tanaman. Alelopati pada tumbuhan dilepas ke lingkungan dan mencapai organisme
sasaran melalui penguapan, eksudasi akar, pelindian, dan atau dekomposisi.
Setiap jenis alelopati dilepas dengan mekanisme tertentu tergantung pada organ
pembentuknya dan bentuk atau sifat kimianya. Mekanisme pengaruh alelopati
(khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme
(khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses yang cukup kompleks,
proses tersebut diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur,
modifikasi saluran membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase (Petelay,
2003). Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan konsentrasi ion dan air
yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintesis. Hambatan
berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen dan senyawa
karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh
hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran
sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran
(Setyo, 2007).
Berdasarkan pada tabel mengenai
morfologi dari zat ekstrak alelopati dapat diketahui bahwa pada tanaman
singkong karet yang masih bertahan hidup pada perlakuan alelopati saja, pada tanaman
yang diberi perlakuan kontrol mati. Hal ini serupa terjadi pada tanaman petai
cina. Hal ini membuktikan bahwa alelopati pada tanaman ini bersifat alelopati
positif (saling bekerja sama merangsang perkembangan organisme tersebut).
Sedangkan pada tanaman akasia, dan
kersen tanaman tersebut bersifat alelopati negatif karena pertumbuhannya
merusak yang lama – kelamaan tanaman yang diberi perlakuan alelopati mati.
Kemudian, berdasarkan tabel perhitungan berat basah didapat yang terbesar pada
singkong karet yang diberi perlakuan alelopati yaitu 0,8 gram sedangkan yang terkecil yaitu 0 gram
karena pada saat ditimbang tanaman tersebut sudah mati dan kering (Soejani,
2001).
KESIMPULAN
Proses pembentukkan senyawa alelopati merupakan proses interaksi
antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu
organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan
organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal
lainnya. Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi
yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain
. Alelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat menghambat.
Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya sporadis dan tidak
berperan dalam metabolisme primer organisme organisme.
DAFTAR
PUSTAKA
Fitter. AH. 1994. Fisiologi
Lingkungan
Tanaman UGM Press. Semarang
Jumin,
H. 2008. Ekologi Tanaman. Rajawali Press.
Jakarta
Junaedi, A. 2006. Ulasan
perkembangan
terkini
kajian alelopati current
research
status of allelopathy. Hayati.
Vol (13)
(2) hlm. 79-84.
Leksono, A. 2007.
Ekologi Pendekatan Deskriptif dan
Kuantitatif. Banyumedia. Malang
Odum. 1998. Ekologi Tumbuhan.
Rineka Cipta. Yogyakarta
Petelay,
F. 2003. Pengaruh Allelopathy Acacia
mangium wild terhadap
Perkecambahan Benih Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus) dan Jagung (Zea
mays).(http://www.geocities.com/irwantoshallelopathy_acacia.doc. diakses pada tanggal 12 November 2015 pukul 23.00 WIB
Setyo, L. 2007. Ekologi. Bayomedia Publishing. Malang
Soejani
. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar