Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Minggu, 27 Maret 2016

    KOMPETISI INTRASPESIFIK DAN INTERSPESIFIK

        KOMPETISI INTRASPESIFIK DAN INTERSPESIFIK
    Ratna Lestyana Dewi1), Arman Gaffar2), dan Dara Mutiara Fiesca2)
    1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
    2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Dasar Prodi Biologi
    Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id

    Abstract
    The aim of the lab work this time is to observe intraspesific competition and interspesific on the growth of plants green maize and beans and knowledge of the competition in each for treatment. As for methods used namely by plant of the bean plant green and corn on a plot that have been provided in accordance. Were once measurement three days , but the lab work was undertaken during 28 days . Results obtained the growth each day will increase and the green beans and corn will experience in the intraspesific competition or interspesific competition.
               
    Key words : interspesified competition, intraspesified competition, growth



    PENDAHULUAN


    Organisme hidup di dalam suatu ekosistem yang didalamnya saling berinteraksi antar satu spesies dengan spesies lain. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi positif yang saling menguntungkan dapat juga interaksi negatif seperti kompetisi. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu yang bersamaan hingga menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh. Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu terjadi apabila suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak (Setyo, 2007).
    Organisme mungkin bersaing jika masing-masing individu berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif (competitive exclusion principles) (Hanafiah, 2005).
    Kompetisi dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu kompetisi intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama, dan kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama  Kompetisi tumbuhan dalam suatu spesies mampu di lihat pada jarak antar tumbuhan, di mana sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan (Hanafiah, 2005).
    Interaksi yang terjadi antarspesies anggota populasi akan mempengaruhi teerhadap kondisi populasi mengingat keaktifan atau tindakan individu mempengaruhi kecepatan pertimbuhan ataupun kehidupan populasi. Setiap anggota populasi dapat memakan anggota populasi yang lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbal balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antarspesies anggota populasi dapat merupakan interaksi yang positip, negatif, atau nol (Hanafiah, 2005)
    Mekanisme-mekanisme ekstrinsik dari interaksi kompetitif melibatkan aksi-aksi individu yang meningkatkan kemungkinannya untuk hidup dan melibatkan reproduksi dengan mengurangi kesempatan saingannyauntuk memperoleh suatu sumber makanan.Interaksi-interaksi ini pada hewan dan tumbuh-tumbuhan mungkin melibatkan interferensi langsung untuk memperoleh sumber makanna atau suatu penurunan umum kemampuan saingnya untuk menggunakan sumber tersebut (Jumin, 2008).
    Persaingan terjadi ketika organisme baik dari spesies yang sama maupun dari spesies yang berbeda menggunakan sumber daya alam. Di dalam menggunakan sumber daya alam, tiap-tiap organisme yang bersaing akan memperebutkan sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan pertumbuhannya. Persaingan yang dilakukan organisme-organisme dapat memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan, unsur hara, air, sinar, udara, agen penyerbukan, agen dispersal, atau factor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya. (Jumin, 2008).
    Kacang hijau dan jagung merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Akan tetapi, jika keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu interaksi. Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak hanya memperebutkan tempat tumbuh, tetapi juga saling memperebutkan unsur hara, air  dan cahaya matahari untuk berfotosintesis. Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi antara kacang hijau dan jagung (Suwasono, 2007).
    Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati pengaruh kompetisi intraspesifik dan interspesifik terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau dan kedelai serta mengetahui jenis kompetisi pada masing-masing perlakuan.

    METODE PENELITIAN
                 Praktikum dilaksanakan di Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Jumat, 6 November 2015 selama 28 hari.
    Alat dan Bahan
                Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu biji jagung, biji kacang hijau, pupuk kandang, tanah gembur. Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu polybag 17 cm x 25 cm, silet, sekop tanah, penggaris, serta timbangan.
    Cara Kerja
    1.      Persiapan
    Cara kerja pada praktikum ini pertama dipilih tanah subur dan dicampurkan dengan pupuk kandang. Tanah dimasukan kedalam polybag. Biji jagung dan kacang hijau ditanam dalam polybag yang telah disediakan baik secara terpisah maupun bersamaan dengan pola kerapatan tertentu.

    2.      Penanaman
     Sebelum menanam, dilakukan pemilihan biji yang baik untuk ditanam. Untuk perlakuan J, ditanam biji jagung sesuai dengan pola kerapatan pada tabel 1 demikian pula untuk perlakuan K, ditanam biji kacang hijau sesuai dengan pola kerapatan pada tabel 2. Pada perlakuan JK, ditanam biji jagung dan kacang dengan pola bergantian seperti pada tabel 3. Diberi label pada setiap polybag untuk menunjukan perlakuan kerapatan yang diberikan. Jarak masing-masing biji diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu berdekatan. Semua tanaman disiram setiap hari sebanyak 30ml.

    Tabel 1. Pola Penanaman Jagung (Perlakuan J)
    Kode perlakuan
    Jumlah Lubang
    Pola Penanaman
    J-1
    1
                J
    J-2
    2
       J                  J
    J-4
    4
      J                   J
       J                  J
    J-8
    8
                J
       J        J         J
      J         J         J



                J

    Kode perlakuan
    Jumlah Lubang
    Pola Penanaman
    K-1
    1
                K
    K-2
    2
       K                 K
    K-4
    4
      K                   K
       K                 K
    K-8
    8
                 K
      K        K       K
      K        K      K
                 K



    Tabel 2. Pola Penanaman Kacang hijau (Perlakuan K)







    Tabel 3. Pola Penanaman Kacang Hijau dan Jagung (JK)

    Kode perlakuan
    Jumlah Lubang J
    Jumlah Lubang K
    Pola penanaman
    JK-1
    1
    1
         J                K
    JK-2
    2
    2
             J           K
             K         J
    JK-4
    4
    4
                  J
       J         K       J
        K       J        K
                  K





    3.      Pengamatan
    Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 3 hari sekali. Data yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan hari atau tanggal pengamatannya hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen dilakukan pengukuran faktor  fisik akhir seperti yang dilakukan di awal. Tanaman yang dipanen dipisahkan setiap plot dan setiap jenisnya kemudian ditimbang berat basahnya dengan menggunakan timbangan, dicatat data yang diperoleh.

    4.      Analisis Data
    Data hasil pengamatan terhadap tumbuhan disajikan dalam bentuk grafik. Grafik yang disajikan didapat dari hasil pengukuran yang dilakukan secara bertahap, hasil pengukuran di catat dalam bentuk tabel. Data yang di tulis dalam bentuk tabel berasal dari hasil pengukuran pertambahan tinggi tanaman selama kurang lebih 4 minggu. Pemanenan tanaman hanya dilakukan pada bagian tumbuhan diatas permukaan tanah(taruk). Kemudian untuk pengukuran biomassa hasil panen dilakukan dengan menimbang setiap tanaman sesuai dengan perlakuan secara terpisah. Dan dihitung pula jumlah tanaman yang ada untuk menetukan rata-rata biomassa setiap spesies.





    HASIL DAN PEMBAHASAN


    Berdasarkan  pada hasil pengamatan dan pengukuran selama 28 hari, maka diperoleh data sebagai berikut :


                            Tabel 4.  Pengukuran Pertumbuhan Kacang Hijau dan Pertumbuhan Jagung



    Perlakuan
    Perhitungan ke-
    Berat Basah (g)
    1
    2
    3
    4
    5
    6
    7
    8
    9
    10
    11
    12
    JK
    4,5
    10,1
    17,9
    20,9
    23,9
    22,5
    21,2
    19,4
    17,2
    10,1
    6,9
    1,8
    0,41
    J
    1,0
    3,8
    11,1
    13,9
    14,6
    15,6
    12,6
    11,3
    8,8
    4,3
    0,0
    0,0
    0,2
    K
    10,3
    17,7
    20,2
    19,7
    19,9
    20,0
    11,5
    10,6
    11,3
    10,5
    10,7
    4,0
    0,25


    Berdasarkan pada hasil pengamatan yang tertera pada tabel 4, dapat diketahui bahwa pertumbuhan kacang hijau serta jagung mengalami kenaikan pada saat di awal dan berlangsung cukup cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetisi antar tumbuhan dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu kemampuan biji atau tumbuhan tersebut untuk  bertahan hidup berdampingan dengan tumbuhan lain. Faktor eksternal yang menjadi perebutan antar tanaman diantaranya intensitas cahaya, unsur hara, suhu, air, oksigen , dan karbon dioksida. Selain itu, ada juga faktor yang mempengaruhi keadaan fisiologis pertumbuhan tanaman diantaranya kondisi tanah, kelembaban tanah, udara,angin, dan gangguan dari spesies-spesies tertentu di suatu habitat juga dapat  berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan fisiologis tumbuhan (Kastono, 2005).
    Biji suatu tanaman dapat mengakhiri masa dormansinya apabila terdapat faktor-faktor yang mengukung pemutusan dormansi. Beberapa hal yang berpengaruh terhadap pemutusan dormansi biji adalah struktur biji itu sendiri, sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kadar air, kelembaban tanah, suhu tanah, intensitas cahaya dan faktor fisik lainnya. Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan menaggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di bandingkan dengan yang lain (Kastono, 2005).
    Setelah dilakukan pengamatan pertumbuhan tanaman jagung dan kacang hijau selama 28 hari, dilakukan pemanenan dan penimbangan berat basah (biomassa total) dari  masing-masing jenis dan masing-masing plot. Maka dapat diketahui bahwa berdasarkan tabel bahwa pada perlakuan JK memiliki biomassa yang tertinggi dibandingkan hanya dengan perlakuan K atau perlakuan J saja. Hal ini disebabkan karena pada saat proses penimbangan tanaman pada perlakuan J sudah banyak yang layu bahkan mati sebelum dipanen sehingga mengurangi dari total biomassa tersebut (Leksomo, 2007).



                            Gambar 1. Grafik Rata-rata Fluktuasi Pertumbuhan Tanaman


    Berdasarkan pada grafik diatas dapat diamati perbedaan tinggi rata-rata untuk masing-masing pertumbuhan tanaman. Umumnya rata-rata tinggi tanaman bertambah dan sejalan dengan bertambahnya usia tanaman. Pertambahan tinggi tanaman ini dipengaruhi oleh unsur hara yang tersedia di polybag. Berdasarkan pada grafik terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan tanaman kacang dari berbagai formasi tanaman terlihat seimbang, artinya semua tanaman mengalami pertumbuhan kecuali pada pola kompetisi dengan 8 tanaman kacang dalam satu polybag (K8). Pada tanaman di K8 terdapat penambahan tanaman yang mati sehingga rata-rata pertumbuhan mengalami penurunan. Kematian tanaman ini mungkin diakibatkan tanaman tersebut tidak dapat bersaing untuk mendapatkan unsur hara. Setelah pengukuran di hari berikutnya pertumbuhan meningkat kembali.
    Berdasarkan grafik rata-rata pertumbuhan tanaman jagung diatas dapat terlihat bahwa pada seiring bertambahnya usia tanaman maka tanaman mengalami pertambahan pertumbuhan. Umumnya semakin banyak tanaman dalam satu polybag maka tinggi tanaman akan semakin rendah karena terjadi persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas di dalam polybag. Namun pada percobaan kali ini pada pola persaingan dengan satu tanaman dalam satu polybag tidak mengalami pertumbuhan. Hal ini mungkin disebabkan pada kurang baiknya bibit atau biji jagung yang ditanam sehingga biji tersebut tidak mengalami pertumbuhan. Sebaliknya pada pola kompetisi dengan delapan tanaman dalam satu polybag (J8) mengalami prtumbuhan paling pesat. Hal ini mungkin saja terjadi apabila suplai unsur hara di tempat tersebut mencukupi untuk pertumbuhan tanaman di tempat tersebutselama masa pengamatan. Artinya tingkat persaingan di tempat tersebut tidak terlalu besar. Namun bukan tidak mungkin pada hari-hari berikutnya terjadi persaingan yang lebih besar (Irwan, 1992).
    Kemudian pada pengamatan untuk pola persaingan dengan satu, dua tiga dan empat tanaman kacang dan jagung dalam satu polybag dapat terlihat persaingan yang begitu kompleks. Tinggi rata-rata tanaman kacang umumnya lebih tinggi dari tinggi rata-rata tanaman jagung. Adapun rata-rata tanaman kacang yang tinggi rata-ratanya nilainya kecil, diakibatkan terdapat tanaman yang mati pada tempat tersebut. Nilai pertumbuhan tanaman umumnya meningkat, namun pada pola JK tanaman kacang mengalami penurunan rata-rata tinggi tanaman (Kastono, 2005). Hal ini dikarenakan terdapat tanaman yang mati pada pengukuran ke 11. Artinya terjadi persaingan dalam memperebutkan unsur hara.




                                                                                                    
       Gambar 2. Grafik Perbandingan Pertumbuhan Tanaman





    Berdasarkan pada grafik dapat diketahui bahwa pertumbuhan kacang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jagung. Secara umum, pertumbuhan tanaman kacang hijau baik pada pola interaksi kompetisi intraspesifik maupun pola kompetisi interspesifik pertumbuhannya lebih baik dibandingkan dengan tanaman jagung.
    Selain dilihat dari tinggi tanaman juga dapat dilihat dari banyaknya biji yang tumbuh ataupun banayaknya biji yang tidak tumbuh. Tinggi tanaman muda kacang hijau lebih tinggi dibandingkan tinggi tanaman muda jagung. Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Saat biji berada di dalam tanah, sistem-sistem ini akan bersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tidak bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Suwasono, 2007).
    Interaksi yang bersifat persaingan sering melibatkan ruangan, pakar atau hara, sinar, bahan-bahan buangan atau sisa, penyakit dan sebagainya, dan banyak lagi tipe interksi timbal balik atau bersama. Akibat persaingan sangat menarik dan telah banyak dipelajari sebagai salah satu mekanisme seleksi alam (Jumin, 2008).
    Persaingan antarjenis dapat berakibat dalam penyesuaian keseimbangan dua jenis, atau dapat berakibat dalam penggantian populasi jenis satu dengan yang lainnya atau memaksanya yang satunya itu untuk menempati tempat lain atau menggunakan pakar lain, tidak perduli apapun yang menjadi dasar persaingannya itu. Sering kali teramati bahwa organisme-organisme yang dekat hubungannya mempunyai kebiasaan atau bentuk-bentuk hidup yang serupa sering kali tidak terdapat didalam tempat-tempat yang sama. Apabila mereka tinggal ditempat yang sama, mereka menggunakan pakan yang berbeda, mereka aktif yang berbeda, atau kalau tidak mereka menempati relung-relung ekologi yang berbeda (Leksono, 2007).













    KESIMPULAN
    Persaingan intraspesifik dan persaingan interspesifik memberi pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung maupun tanaman kacang hijau. Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan interspesifik adalah kepadatan atau jarak tanaman, luas lahan tanam, jenis tanaman, dan waktu lamanya tanaman hidup. Semakin besar massa tanaman maka tingkat persaingan semaki kecil. Tanaman jagung bersaing secara kompetisi intraspesifik dengan sesama tanaman jagung dan bersaing secara kompetisi interspesifik dengan tanaman kacang hijau

    DAFTAR PUSTAKA
    Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Biologi Tanah    Ekologi dan Mikrobologi Tanah. PT.  raja Grafindo. Jakarta.

    Irwan, Z.D. 1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan          Organisasi: Ekosistem, Komunitas,    dan Lingkungan. Bumi Aksara. Jakarta

    Jumin, H. 2008. Ekologi Tanaman. Rajawali Press. Jakarta
    Kastono. 2005. Ilmu Gulma, Jurusan
    Pengantar Budidaya Pertanian. UGM. Yogyakarta
    Leksono, A. 2007. Ekologi Pendekatan         Deskriptif dan Kuantitatif.     Banyumedia. Malang
    Setyo, L. 2007. Ekologi. Bayomedia  Publishing. Malang
    Suwasono. 2007. Biologi dan Pertanian.       Rajawali Press









    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 12.33.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: EKOLOGI DASAR

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.