Tampilkan postingan dengan label FISIOLOGI HEWAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2016

PENGUKURAN MOLEKUL CO2 HASIL RESPIRASI

Nama   : Ratna Lestyana Dewi
NIM    : 11140950000007

                                                            Praktikum IV
                                    Pengukuran Molekul CO2 Hasil Respirasi
I.                   Dasar Teori
Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Resprirasi juga sering disebut dengan proses bernafas, yaitu proses menghirup O2 untuk proses pembakaran dalam tubuh dan mengeluarkan zat sisa CO2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi antara lain aktivitas tubuh, ukuran tubuh, jenis kelamin, suhu tubuh dan posisi tubuh (Ganong, 2001).
Faktor pertama yaitu aktivitas, semakin banyak aktivitas energi yang dibutuhkan semakin besar menyebabkan laju pembakaran meningkat sehingga jumlah oksigen yang harus dihirup akan meningkat pula dan akhirnya laju respirasi meningkat (Wilson, 1997). Faktor kedua yaitu ukuran tubuh, semakin besar ukuran tubuh dan berat badan seseorang maka kebutuhan oksigen lebih banyak sehingga laju pernapasan meningkat dan kadar CO2 yang dihasilkan meningkat pula. Faktor ketiga yaitu jenis kelamin, pria lebih banyak mempunyai kadar Hb yang lebih besar daripada wanita sehingga O2 yang dibutuhkan lebih besar berarti kadar COyang dihasilkan semakin banyak. Faktor keempat adalah umur, semakin bertambah umur kadar O2 yang dibutuhkan semakin besar. Faktor kelima yaitu suhu tubuh, semakin tinggi suhu tubuh maka laju respirasi semakin cepat yang berkaitan dengan metabolisme (Wilson, 1997). Selain itu, gaya hidup juga berpengaruh pada laju respirasi.
Adanya CO2 yang terlalu banyak di dalam tubuh harus dihindari, oleh karena CO2 itu harus segera dikeluarkan dari tubuh secara terus menerus. Respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disimilasi) dimana energi yang tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan proses–proses kehidupan. Selain itu respirasi merupakan proses oksidasi bahan organik yang terjadi di dalam sel, berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya di ekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies, ukuran badan, dan aktivitas tubuh (Ganong, 2001).

Rabu, 27 April 2016

PENGUKURAN TEKANAN DARAH DAN KADAR HAEMOGLOBIN

Nama               : Ratna Lestyana Dewi
NIM                : 11140950000007
Tanggal           : 13 April 2016

Praktikum III
Pengukuran Tekanan Darah dan Kadar Haemoglobin
Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi. Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostatsis di dalam tubuh. Tekanan darah selalu diperlukan untuk daya dorong mengalirnya darah di dalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena sehingga terbentuklah suatu aliran darah yang menetap. Jika sirkulasi darah  menjadi   tidak  memadai  lagi,   maka   terjadilah   gangguan   pada   sistem   transportasi oksigen, karbondioksida, dan hasil-hasil metabolisme lainnya. Di lain pihak fungsi organ- organ tubuh akan mengalami gangguan seperti gangguan pada proses pembentukan air seni di  dalam  ginjal  ataupun  pembentukan  cairan  cerebrospinalis  dan  lainnya (Campbell, 2004).
Terdapat dua macam kelainan tekanan darah, antara lain yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah. Tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang pertama adalah curah jantung. Tekanan terhadap dinding arteri lebih besar sehingga volume aliran darah meningkat. Faktor kedua yang mempengaruhi tekanan darah resistensi perifer, atau resistensi terhadap aliran darah dalam arteri kecil dari tubuh (arteriol). Resistensi perifer dipengaruhi oleh visikositas (ketebalan) dari sel-sel darah dan jumlah plasma darah. Visikositas darah yang sangat tinggi menghasilkan tekanan darah tinggi. Selain itu, tekanan darah dipengaruhi oleh struktur dinding arteri. Jika dinding telah rusak, jika tersumbat oleh endapan limbah, atau jika telah kehilangan elastisitas, tekanan darah akan lebih tinggi. Tekanan darah tinggi, disebut hipertensi, yaitu akibat curah jantung terlalu tinggi atau resistensi perifer terlalu tinggi (Isnaeni, 2006).

Kamis, 14 April 2016

PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN LEMAK

Nama               : Ratna Lestyana Dewi
NIM                : 11140950000007
Tanggal           : 6 April 2016

                                                             PRAKTIKUM II
PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN KADAR LEMAK

Dasar Teori
Karbohidrat merupakan senyawa yang diperlukan oleh tubuh sebagai sumber energi. Karbohidrat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu monosakarida (glukosa dan fruktosa), disakarida (sukrosa dan maltosa), dan polisakarida (amilum, glikogen, dan selulosa). Ketiga kelompok senyawa karbohidrat tersebut dicerna oleh organ sistem pencernaan secara bertahap. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak dapat langsung menyerap molekul – molekul yang masih kompleks sehingga harus dipecah menjadi monosakarida yang ukuran molekulnya lebih sederhana seperti halnya pada penyerapan glukosa dalam sistem pencernaan (Poedjiadi,1994).
Proses pencernaan karbohidrat dimulai dari rongga mulut. Makanan yang mengandung karbohidrat dikunyah di dalam cavum oris sehingga bercampur dengan saliva yang mengandung enzim amilase yang berfungsi mengurai karbohidrat menjadi glukosa. Setelah melalui pencernaan mekanis, karbohidrat kemudian ditelan masuk dan melewati esofagus. Pada organ ini, proses pencernaan karbohidrat sama sekali tidak terjadi karena saluran esofagus yang sangat licin akibat cairan mucus yang dihasilkan oleh dindingnya (Price, 2006).

Sabtu, 09 April 2016

THERMOREGULASI


Nama      : Ratna Lestyana Dewi
NIM : 11140950000007
Tanggal   : 23 Maret 2016

THERMOREGULASI

Dasar Teori
Thermoregulasi adalah proses dari pengaturan suhu tubuh. Panas tubuh merupakan hasil akhir dari proses oksidasi di dalam tubuh. Pengaturan suhu tubuh (thermoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi merupakan elemen dari homeostasis. Apabila suhu tubuh naik, maka proses oksidasi akan naik mencapai keadaan maksimum pada suhu optimal. Kondisi homeostatis temperatur tubuh bisa tercapai karena adanya keseimbangan antara panas yang dihasilkan serta diterima oleh tubuh (produksi panas) dan panas yang hilang dari tubuh masuk ke lingkungan luar (disipasi panas). Saat produksi panas, tubuh memperoleh panas sebagai akibat dari aktivitas metabolisme jaringan tubuh dan dari lingkungan luar bila lingkungan luar itu lebih tinggi temperaturnya (lebih panas) daripada temperatur tubuh (Soewolo, 2000).
Bentuk penyesuaian fisiologinya yaitu apabila panas yang dihasilkan oleh tubuh akan meningkat dengan menurunnya temperatur luar. Sebaliknya, temperatur sekitar yang tinggi akan menurunkan jumlah panas yang panas yang dihasilkan oleh tubuh. Hal itu dapat dikaitkan melambatnya aktivitas metabolisme. Secara umum, mekanisme yang berlangsung untuk menghasilkan panas meliputi peningkatan aktivitas metabolisme jaringan, peningkatan aktivitas otot, dan produksi panas (thermogenesis) tanpa aktivitas menggigil (Soewolo, 2000).
Panas dari dalam tubuh dapat ditransfer ke lingkungan luar. Demikian juga sebaliknya, panas dari lingkungan luar dapat ditransfer ke dalam tubuh. Kecepatan transfer panas ke dalam atau ke lingkungan luar tergantung pada 3 faktor yaitu luas permukaan, terjadinya perbedaan suhu, serta kondisi panas. Jika luas permukaan per gram jaringan berbanding terbalik dengan peningkatan massa tubuh. Sementara pada perbedaan suhu, semakin dekat seekor hewan memelihara suhu tubuhnya ke lingkungan, maka semakin sedikit panas yang mengalir ke dalam atau ke lingkungan luar. Konduksi panas spesifik permukaan tubuh hewan. Permukaan jaringan poikiloterm memiliki konduktansi panas yang tinggi sehingga hewan ini memiliki suhu tubuh mendekati suhu lingkungannya (Soedjono, 1998).
Berdasarkan pada kemampuannya mengatur suhu tubuh berkaitan dengan produksi panas, hewan dibedakan menjadi 2 golongan yaitu hewan poikiloterm dan hewan homoiterm. Suhu tubuh binatang poikiloterm berubah-ubah tergantung pada suhu sekelilingnya, sehingga peoses-proses vital di dalam tubuhnya dipengaruhi oleh perubahan-perubahan suhu lingkungan (Soewolo, 2000). Adapun yang termasuk hewan poikiloterm yaitu pisces, amphibi, dan reptil. Suhu tubuh dari golongan binatang-binatang ini sedikit diatas suhu lingkungannya. Sedangkan, hewan homoioterm merupakan hewan yang suhu tubuhnya konstan, karena binatang ini mempunyai sentrum pengatur suhu tubuh yang baik. Contohnya yaitu aves dan mamalia.
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya (Syamsiar, 1998).
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah (Soedjono, 1998).