Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Rabu, 12 Juli 2017

    KOMUNITAS TUMBUHAN LUMUT (BRYOPHYTA) ARBOREAL DAN TERESTRIAL DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

    KOMUNITAS TUMBUHAN LUMUT (BRYOPHYTA) ARBOREAL DAN TERESTRIAL DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

    COMMUNITY OF ARBOREAL AND TERRESTRIAL MOSS PLANTS (BRYOPHYTES)
    OF THE MOUNT HALIMUN SALAK NATIONAL PARK

    Ratna Lestyana Dewi*
    *Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

    *Corresponding author: lestyanaratna@gmail.com
     


    Abstrak
    Tumbuhan lumut (bryophyta) merupakan kelompok tumbuhan kecil yang menempati berbagai habitat, menjajah berbagai substrat terestrial, batang pohon, dan kanopi dengan kondisi lingkungan lembab, dan penyinaran yang cukup. Tumbuhan lumut (bryophyta) memberikan konstribusi untuk keanekaragaman hutan, baik dari segi struktur, dan proses di dalam suatu ekosistem hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal dan terestrial di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Secara keseluruhan ditemukan 36 spesies tumbuhan lumut (bryophyta) yang terdiri dari 20 spesies lumut daun (musci), 14 spesies lumut hati (hepaticeae), dan 2 spesies lumut tanduk (anthocerotaceae). Komunitas terestrial memiliki kekayaan yang lebih rendah dibandingkan dengan komunitas arboreal. Beberapa spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal yang paling sering dijumpai dengan frekuensi terjadinya perjumpaan >20% yaitu Syrrhopodon tristrichus, Floribundaria floribunda, Frullania sp., Achanthorrium papillatum, dan Pyrrobryum spiniforme. Sementara untuk spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas terestrial adalah Callicostella papillata, Syrrhopoodon tristrichus, Hypnaceae sp., Schistochila lamellata, dan Isothecium myosuroides.

    Kata kunci: Arboreal; Bryophyta; Musci; Terestrial;


    Abstract
    Moss plants (bryophytes) are small plant groups hat occupy a variety of habitats, colonize various terrestrial, tree trunks, and canopies with humid environment conditions, and sufficient irradiation. Plant moss (bryophytes) contribute to the diversity of forests, both in terms of structure, and processes within a forests ecosystem. This study aims to determine the diversity of moss plants (bryophytes) in the arboreal and terrestrial communities of the Mount Halimun Salak National Park. A total of 36 moss plants (bryophytes) were found, including 20 species of mosses (musci), 14 species of liveworts (hepaticeae), and 2 species of horn moss (anthocerotaceae). Terrestrial communities have less wealth than the arboreal community. Some species of moss plants (bryophytes) from the arboreal communities are most often encountered with the frequency of encounters >20% is Syrrhopodon tristrichus, Floribundaria floribunda, Frullania sp., Achanthorrium papillatum, dan Pyrrobryum spiniforme. Meanwhile, for species of moss plants (bryophytes) in terrestrial communities is Callicostella papillata, Syrrhopoodon tristrichus, Hypnaceae sp., Schistochila lamellata, dan Isothecium myosuroides.

    Keywords: Arboreal; Bryophytes; Musci; Terrestrial




    PENDAHULUAN

    Keanekaragaman hayati yang dimiliki suatu daerah dinilai sangat penting untuk memberikan ciri khas tersendiri bagi suatu daerah, seperti di negara Indonesia yang merupakan salah satu negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati (megabiodiversity) tertinggi di dunia. Salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia adalah tumbuhan lumut (bryophyta) (Nuroh et al. 2014).
    Tumbuhan lumut (bryophyta) merupakan kelompok tumbuhan kecil yang menempati berbagi habitat, menjajah berbagai substrat terestrial, batang pohon, dan kanopi dengan kondisi lingkungan lembab, dan penyinaran yang cukup. Tumbuhan lumut (bryophyta) memberikan konstribusi untuk keanekaragaman hutan, baik dari segi struktur, dan proses di dalam suatu ekosistem hutan (Aryanti, 2011). Di dalam kehidupannya, faktor lingkungan sangat berpengaruh, seperti iklim mikro yang lebih berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan lumut daripada faktor makro. Pendekatan dan ketahanan hidupnya pada pohon akan dipengaruhi oleh karakter perubahan kulit kayu dari ranting yang termuda hingga cabang yang tua. Demikian juga dengan intensitas cahaya yang sampai pada permukaan pohon tersebut (Hasan, 2004).
    Tumbuhan lumut (bryophyta) ditemukan terutama di area sedikit cahaya dan lembab, sebagian besar tumbuh di hutan hujan tropis. Loveless (1990) mengatakan lumut tumbuh subur pada lingkungan yang lembab, khususnya di hutan-hutan tropis dan di tanah hutan daerah iklim sedang yang lembab. Menurut Menih (2006) ada sekitar 3.000 spesies lumut, diantaranya yaitu sekitar 1.500 tumbuh di Indonesia. Tumbuhan lumut (bryophyta) lazim terdapat pada pohon, batu, kayu, dan di tanah. Pada setiap bagian di dunia lumut hampir terdapat di setiap habitat kecuali di laut.
    Secara ekologis tumbuhan lumut (bryophyta) memiliki peranan penting bagi keseimbangan ekosistem hutan, membantu mencegah erosi tanah. Tumbuhan lumut (bryophyta) juga berfungsi sebagai indikator potensi perubahan iklim karena berasosiasi erat dengan iklim habitat yang sensitif di suatu ekosistem. Selain itu, tumbuhan lumut (bryophyta) memiliki kontribusi penting untuk siklus nutrisi hutan, terutama untuk siklus Nitrogen (Aryanti, 2011).
    Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan kawasan hutan hujan pegunungan yang terluas di Jawa Barat dengan keadaan iklim yang basah, serta kelembaban yang tinggi. Lokasi ini merupakan salah satu kawasan yang potensial untuk habitat dari keanekaragaman tumbuhan lumut (bryophyta) (Nuroh et al. 2007). Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian tentang keanekaragaman lumut (bryophyta) di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

    MATERIAL DAN METODE

    Waktu dan Tempat
    Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan selama 3 hari pada tanggal 8-11 Mei 2017.

    Alat dan Bahan
    Objek yang akan diamati dalam penelitian ini adalah tumbuhan lumut (bryophyta) yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Alat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah alat tulis, lup, amplop, buku panduan identifikasi lumut, GPS, kamera, kertas label, kompas, lux meter, meteran, (100 m), peta, plastik zip, soil tester, tali rafia dan termometer. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70%.

    Metode Penelitian
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Simple Random Sampling dengan teknik pengambilan sampel secara stratified sample dimana populasi yang diambil terbagi ke dalam perbedaan strata. Penelitian ini dilakukan berdasarkan panjang transek yang didasarkan pada waktu yang dilakukan pada pagi hari dengan durasi waktu sekitar 6-7 jam.
    Penelitian dilakukan pada tiga lokasi dengan ketingian yang berbeda, plot dibuat 20 x 20 m. Kemudian pada setiap plot, arboreal maupun terestrial dari keanekaragaman tumbuhan lumut (bryophyta) diperkirakan berdasarkan kekayaan spesies dan kelimpahan (coverage dan frekuensi %), biomassa total dari beberapa spesies yang paling dominan disurvei, tegakan hutan dana karakteristik tanaman vaskular diinventarisasi. Metode penelitian ini mengacu pada Aryanti et al. (2011) dengan modifikasi.

    Pengambilan Sampel Tumbuhan Lumut (bryophyta) Arboreal
                Pengambilan sampel dilakukan dengan cara memilih lima pohon yang dipilih per petak dengan ukuran plot 20 x 20 m. Kemudian dipilih lima pohon sebagai sampel yang mendukung yaitu pada pohon yang memiliki diameter lebih dari 20 cm dari tinggi seukuran dada orang dewasa. Kemudian setiap spesies yang ada dicatat dan dikumpulkan untuk dilakukan identifikasi. Tutupan cover (%) dan frekuensi (%) dari spesies di dalam kuadrat 20 x 30 cm2 juga dicatat.

    Pengambilan Sampel Tumbuhan Lumut (bryophyta) Terestrial
                Pengambilan sampel dilakukan dengan membuat plot 20 x 20 m, dua paralel 20 m transek didirikan dengan jarak 10 m. Kemudian sampel disurvei dalam 1 x 1 m subplot yang ditempatkan di lima titik yang berbeda pada transek. Setiap spesies yang ada kemudian dicatat dan dikumpulkan untuk diidentifikasi, dengan tutupan cover (%) dan frekuensi (%) dari masing-masing spesies yang terdapat di dalam subplot berdasarkan kuadrat 20 x 30 cm.

    Pengumpulan Data
                Jenis data yang dikumpulkan di lapangan antara lain yaitu:
    1.      Data tumbuhan lumut (bryophyta) meliputi: jenis, jumlah individu tiap jenis, dan lain-lain.
    2.      Data habitat meliputi: tanggal dan waktu pengambilan data, nama lokasi, substrat atau lingkungan tempat ditemukan.
    3.      Data coverage dan persentase frekuensi perjumpaan spesies tumbuhan lumut (bryophyta) arboreal dan terestrial.

    Analisis Data
                Identifikasi spesies dilakukan dengan menggunakan buku panduan identifikasi Tjitrosoepomo (2009), Eddy (2006), dan Zhu (1995), dan pengamatan menggunakan lup, maupun mikroskop stereo. Kemudian, dilakukan analisis dari hasil pengamatan yang diperoleh yaitu nilai coverage dan frekuensi perjumpaan tumbuhan lumut (bryophyta) yang terdapat pada masing-masing plot dan komunitas arboreal serta komunitas terestrial.


    HASIL
    Keanekaragaman Jenis
    Secara keseluruhan maka ditemukan 36 spesies tumbuhan lumut (bryophyta) yang telah diidentifikasi di komunitas arboreal maupun terestrial di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Adapun dari 36 spesies tumbuhan lumut (bryophyta) yang ditemukan terdiri dari 20 spesies lumut daun (musci) 14 spesies dari lumut hati (hepaticeae) dan 2 spesies dari jenis lumut tanduk (anthocerotaceae).



    Tabel 1. Keanekagaraman Spesies Tumbuhan Lumut (bryophyta) Arboreal dan Terestrial di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
    Spesies
    Habitat

    Plot I
    Plot II
    Plot III
    Musci
    Acanthorrhynchium papillatum
    a,t

    -
    +
    +
    Acroporium lamprophyllum
    a,t

    +
    +
    +
    Aulacomnium androgynum
    a,t

    +
    +
    +
    Callicostella papillata
    t

    -
    +
    +
    Dicranum tauricum
    t

    +
    -
    +
    Dicranoloma sp.
    a,t

    +
    -
    +
    Fissidens fontanus
    t

    +
    +
    -
    Floribundaria floribunda
    a,t

    -
    -
    +
    Homaliodendron flabellatum
    a,t

    -
    +
    -
    Hypnaceae sp.
    t

    +
    +
    +
    Isothecium myosuroides
    a,t

    -
    +
    +
    Isopterygium albescens
    a,t

    +
    +
    +
    Leucobryum candidum
    t

    +
    -
    +
    Leucophanes sp.
    t

    +
    -
    +
    Lopidum struthiopteris
    a

    -
    +
    -
    Neckera sp.
    a

    -
    +
    -
    Pterobyopsis sp.
    a

    -
    +
    +
    Pterobryum sp.
    a

    +
    -
    -
    Pyrrobryum spiniforme
    a,t

    +
    -
    +
    Syrrhopodon tristichus
    a,t

    +
    +
    +
    Hepaticeae
    Acromastigum sp.
    a

    -
    +
    -
    Archilejeunea planiuscula
    a

    -
    +
    -
    Bazzania sp.
    a

    -
    +
    -
    Frullania sp.
    a

    -
    +
    +
    Harpalejeunea sp.
    a,t

    -
    +
    +
    Lejeunea exilis
    t

    +
    -
    +
    Lepidozia cupressina
    a,t

    -
    +
    +
    Marchantia polymorpha
    t

    -
    +
    -
    Mastigolejeunea auriculata
    a,t

    +
    -
    -
    Plagiochila frondescens
    a

    -
    +
    -
    Metzgeria sp.
    t

    -
    +
    -
    Radula javanica
    a

    -
    +
    +
    Riccardia sp.
    t

    +
    +
    +
    Schistochila lamellata
    a,t

    -
    +
    -
    Anthocerotaceae
    Antherocoptopsida sp.
    t

    +
    -
    -
    Anthoceros laevis
    a

    -
    -
    +












                            Keterangan : a = arboreal; b = terestrial; + = ditemukan; - = tidak ditemukan



    Kekayaan dan Kelimpahan
                Secara keseluruhan pada spesies yang ditemukan di masing-masing plot berdasarkan pada grafik tersebut dapat dilihat bahwa pada plot II terdapat jumlah komunitas tumbuhan lumut (bryophyta) arboreal tertinggi yaitu sebanyak 20 spesies. Namun, pada plot ini tidak ditemukan adanya jenis dari anthoceroceae. Sedangkan untuk komunitas tumbuhan lumut (bryophyta) terestrial tertinggi pada plot III yaitu sebesar 18 spesies. Sementara itu, pada plot I baik dari komunitas arboreal maupun terestrial lebih sering ditemukannya jenis lumut daun (musci) jika dibandingkan dengan jenis lumut hati (hepaticeae).
               







    Gambar 1. Jumlah Spesies Tumbuhan Lumut (bryophyta) yang ditemukan setiap plot

               


    Tumbuhan lumut (bryophyta) jika dilihat pada nilai coverage (%) yang terdapat pada masing-masing plot ini memiliki kisaran nilai yang berbeda-beda pada setiap plotnya. Hal ini dapat dilihat seperti halnya pada plot II terestrial pada spesies Marchantia polymorpha dengan nilai sebesar 60%. Jika pada suatu spesies memiliki nilai coverage >50% dapat diartikan bahwa spesies tersebut saat ditemukan memang mendominasi pada suatu titik atau plot tertentu. Kemudian, jika dilihat secara keseluruhan berdasarkan pada tabel tersebut bahwa nilai pada komunitas terestrial lebih besar dibandingkan dengan komunitas arboreal.




    Tabel 2. Lima Spesies Tumbuhan Lumut (bryophyta) dengan Nilai Coverage (%) Tertinggi pada
                    Komunitas Arboreal dan Terestrial

    Arboreal
    Terestrial
    Plot/Spesies
    Coverage (%)
    Plot/Spesies
    Coverage (%)
    Plot I
    Plot I
    Aulacomnium androgynum
    14
    Arcoporium lamprophyllum
    22
    Pyrrobryum spiniforme
    14
    Pyrrobryum spiniforme
    15
    Syrrhopodon tristichus
    13
    Isopterygium albescens
    13
    Arcoporium lamprophyllum
    12
    Mastigolejeunea auriculata
    12
    Pterobryum sp.
    12
    Fissidens fontanus
    12
    Plot II
    Plot II
    Callicostella papillata
    35
    Marchantia polymorpha
    60
    Neckera sp.
    35
    Callicostella papillata
    25
    Syrrhopodon tristichus
    58
    Lepidozia cupressina
    25
    Acromastigum sp.
    24
    Fissidens fontanus
    18
    Frullania sp.
    23
    Homaliodendron flabellatum
    18
    Plot III
    Plot III
    Floribundaria floribunda
    45
    Callicostella papillata
    65
    Syrrhopodon tristichus
    45
    Isopterygium albescens
    25
    Dicranoloma sp.
    22
    Isothecium myosuroides
    20
    Frullania sp.
    21
    Leujenea exilis
    18
    Aulacomnium androgynum
    20
    Pyrrobryum spiniforme
    15
               
               


    Tumbuhan lumut (bryophyta) jika dilihat pada frekuensi perjumpaan (%) yang terdapat pada masing-masing plot ini memiliki kisaran nilai yang berbeda-beda pada setiap plotnya. Hal ini terjadi karena keseluruhan dari tumbuhan lumut (bryophyta) ini habitat hidupnya menyebar hampir di setiap sudut, titik atau plot yang memang melimpah di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Beberapa spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal yang paling sering dijumpai dengan frekuensi terjadinya perjumpaan >20% pada penelitian ini adalah Syrrhopodon tristrichus, Floribundaria floribunda, Frullania sp., Achanthorrium papillatum, dan Pyrrobryum spiniforme. Sementara untuk spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas terestrial adalah Callicostella papillata, Syrrhopoodon tristrichus, Hypnaceae sp., Schistochila lamellata, dan Isothecium myosuroides.




    Tabel 3. Spesies Tumbuhan Lumut (bryophyta) dengan frekuensi perjumpaan >20% pada Komunitas                        Arboreal dan Terestrial

    Arboreal
    Terestrial
    Plot/Spesies
    Frekuensi (%)
    Plot/Spesies
    Frekuensi (%)
    Plot I
    Plot I
    Pyrrobryum spiniforme
    26
    Pyrrobryum spiniforme
    30
    Arcoporium lamprophyllum
    25


    Isopterygium albescens
    25


    Syrrhopodon tristichus
    25


    Dicranoloma sp.
    22


    Plot II
    Plot II
    Acanthorrhynchium papillatum
    28
    Callicostella papillata
    60
    Isothecium myosuroides
    25
    Syrrhopodon tristichus
    50
    Acroporium lamprophyllum
    24
    Isopterygium albescens
    31
    Acromastigum sp.
    24
    Schistochila lamellata
    27
    Callicostella papillata
    24
    Isothecium myosuroides
    25
    Radula javanica
    24


    Schistochila lamellata
    24


    Plot III
    Plot III
    Syrrhopodon tristichus
    68
    Syrrhopodon tristichus
    50
    Floribundaria floribunda
    33
    Callicostella papillata
    34
    Frullania sp.
    33
    Hypnaceae sp.
    34
    Acroporium lamprophyllum
    20
    Riccardia sp.
    23
    Dicranoloma sp.
    20


    Herpalejeunea sp.
    20


    Radula javanica
    20





    PEMBAHASAN
    Tumbuhan lumut (bryophyta) yang hidup pada komunitas arboreal maupun terestrial di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dapat dinilai cukup tinggi, hal ini dinilai karena berdasarkan pada jumlah spesies yang telah ditemukan tidak kurang dari 30 spesies yang ditemukan di seluruh komunitas arboreal dan komunitas terestrial. Meskipun keanekaragaman tumbuhan lumut (bryophyta) jika dibandingkan dengan sub pegunungan dari Taman Nasioal Lore Lindu, Sulawesi Tengah ditemukan lebih dari 50 spesies di dalam dua belas plot (Aryanti et al. 2011). Angka yang lebih sedikit ini mungkin disebabkan karena penelitian yang dilakukan di Sulawesi tengah dilakukan di tiga tipe hutan (hutan primer alam, hutan sekunder, dan kakao agroforest), sedangkan penelitian ini dilakukan di hutan homogen, curug, dan hutan heterogen.
    Hasil spesies tumbuhan lumut (bryophyta) pada komunitas arboreal yang telah ditemukan pada penelitian ini yaitu sebanyak 25 spesies yang dikumpulkan dari sampel pohon, yang jika dilihat lebih banyak ditemukan pada lokasi curug (900 m), kemudian lokasi hutan heterogen (1100 m), dan hutan homogen (800 m). Sementara itu untuk tumbuhan lumut (bryophyta) pada komunitas terestrial yang telah ditemukan pada penelitian ini yaitu sebanyak 24 spesies yang hidup pada substrat tanah atau bebatuan yang ada di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Keanekaragaman spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal jika dilihat memang akan terlihat lebih unggul jumlahnya ketika seluruh pohon telah diinventarisasi.
    Berdasarkan pada literatur, ketika kekayaan spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal dan terestrial dibandingkan, maka kekayaan dari komunitas terestrial akan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan komunitas arboreal yang hampir dijumpai di semua plot. Hal ini disebabkan karena lokasi Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang merupakan kawasan hutan hujan tropis yang ditandai dengan keragaman yang tinggi dari adanya pohon besar sehingga dapat dikatakan lokasi ini menyediakan berbagai habitat untuk tumbuhan lumut (bryophyta) epifit atau dengan kata lain hidup pada komunitas arboreal (Yamaguchi, 2005).
    Di sisi lain, terdapat pula habitat tumbuhan bawah ditutupi oleh kanopi yang ditentukan oleh intensitas cahaya yang menembus masuk ke tanah untuk tumbuhan lumut (bryophyta) melakukan fotosintesis. Selain itu, rendahnya tingkat dekomposisi serasah yang ada pada hutan heterogen sehingga dapat mempengaruhi ketersediaan substrat untuk komunitas terestrial tumbuhan lumut (bryophyta) (Ruqayah, 2004).
    Menurut Gradstein (2011) mengatakan bahwa substrat terestrial di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini memang terbatas, karena kondisi tanah di kawasan tersebut sebagian besar tertutup oleh ranting dan daun tua, tumbuh-tumbuhan bawah lainnya. Sehingga spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas terestrial ini pun jika ditemukan hanya tumbuh di sekitar ranting yang telah lapuk, humus, atau bebatuan di daerah yang memiliki sedikit intensitas cahaya di bawah hutan tersebut.
    Tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal memang memiliki kekayaan yang lebih besar dari komunitas terestrial sebelumnya juga telah dibahas oleh banyak penulis. Sulaeman (2006) juga menyebutkan bahwa tumbuhan lumut (bryophyta) mungkin tidak ada di tanah dengan area yang terganggu atau di hutan hujan dataran rendah dan hanya secara umum di hutan pegunungan.
    Tumbuhan lumut (bryophyta) jika dilihat pada nilai coverage (%) yang terdapat pada masing-masing plot ini memiliki kisaran nilai yang berbeda-beda pada setiap plotnya. Jika pada suatu spesies memiliki nilai coverage >50% dapat diartikan bahwa spesies tersebut saat ditemukan memang mendominasi pada suatu titik atau plot tertentu (Putrika, 2012). Kemudian, jika dilihat secara keseluruhan menunjukkan bahwa komunitas terestrial memiliki nilai coverage (%) lebih besar dibandingkan dengan komunitas arboreal. Hal ini disebabkan karena pada saat dilakukan penelitian, pada komunitas arboreal di suatu pohon jika diamati dihuni lebih dari dua spesies yang hidup berdampingan di substrat yang sama.
    Tumbuhan lumut (bryophyta) dapat mewakili komponen penting dari suatu komunitas hutan terutama dari komunitas makhluk hidup epifit, yaitu berkontribusi besar pada tingginya suatu jumlah spesies dalam keanekaragaman hutan (Elena, 2011). Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa kekayaan spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dapat melebihi dari tanaman pohon .
    Beberapa spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal yang paling sering dijumpai dengan frekuensi terjadinya perjumpaan >20% pada penelitian ini adalah Syrrhopodon tristrichus, Floribundaria floribunda, Frullania sp., Achanthorrium papillatum, dan Pyrrobryum spiniforme. Sementara untuk spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas terestrial adalah Callicostella papillata, Syrrhopoodon tristrichus, Hypnaceae sp., Schistochila lamellata, dan Isothecium myosuroides. Jika dilihat berdasarkan literatur bahwa hasil ini relevan dengan tumbuhan lumut (bryophyta) yang ditemukan di habitat oligophotic seperti hutan yang terdiri dari banyak jenis pohon (Damayanti, 2006).

    KESIMPULAN
    Tumbuhan lumut (bryophyta) di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ditemukan sebanyak 36 spesies yang terdiri dari 20 sepsies dari jenis lumut daun (musci), 12 spesies dari jenis lumut hati (hepaticeae), dan 4 spesies dari jenis lumut tanduk (anthocerotaceae). Komunitas terestrial memiliki kekayaan yang lebih rendah dibandingkan dengan komunitas arboreal. Beberapa spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas arboreal yang paling sering dijumpai dengan frekuensi terjadinya perjumpaan >20% yaitu Syrrhopodon tristrichus, Floribundaria floribunda, Frullania sp., Achanthorrium papillatum, dan Pyrrobryum spiniforme. Sementara untuk spesies tumbuhan lumut (bryophyta) dari komunitas terestrial adalah Callicostella papillata, Syrrhopoodon tristrichus, Hypnaceae sp., Schistochila lamellata, dan Isothecium myosuroides.


    REFERENSI
    Aryanti, S., Nunik, Sulistijorini. (2011). Contrasting arboreal and terrestrial bryophytes Communities of the mount halimun salak national park, west java. Jurnal Biotropia, 18(2), 81-93.
    Damayanti, L. (2006). Koleksi Bryophyta Taman Lumut Kebun Raya Cibodas. Cibodas: LIPI UPT Balai Konservasi Tumbuhan
    Eddy, A. (1996). A Handbook of Malesian Moss Volume 3. Malaysia: HMSO Publication Centre
    Elena. (2011). Jenis-jenis lumut polytrichales di kawasan cagar alam lembah anai kabupaten tanah datar Sumatra Barat. Jurnal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 13(5), 13-17
    Gradstein, S. R. (2011). Guide to the liveworths and hornworts of Java, Bogor. Jurnal Biotropia, 12(3), 114-119.
    Hasan, M., Ariyanti, S., Nunik. (2004). Mengenal bryophyta (lumut) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Volume I. Cibodas: Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
    Loveless. (1990). Prinsip-prinsip Biologi Untuk Daerah Tropik 2. Jakarta: Gramedia
    Menih. (2006). Pembangunan Tanaman Lumut dan Kebun Raya. Jakarta: Gramedia
    Nuroh, B., Istomo, Hilwan. (2014). Keanekaragaman dan peran ekologi bryophyta di Hutan Sesaot Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Silvikultur Tropika, 5(3), 13-17.
    Putrika, A. (2012). Komunitas Lumut Epifit di Kampus Universitas Indonesia Depok. Depok: Universitas Indonesia
    Rugayah, A., Widyawati. (2004). Pengumpulan data taksonomi, pedoman pengumpulan data keanekaragaman flora. Bogor: Pusat Penelitian Biologi
    Sulaeman, M., Agustini. (2006). A revised catalogue of mosses reported from Borneo. Jurnal of Hattori Botanical Laboratory. 99(2), 53-149.
    Tjitrosoepomo, G. (2009). Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta, Tallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta). Yogyakarta: UGM Press
    Windadri, F., Yusilawati. (2009). Keanekaragaman jenis lumut (musci) di Lereng Gunung Wani, Suaka Margasatwa Buton Utara, Sulawesi Utara. Jurnal Biota, 12(2), 159-166
    Yamaguchi, T. (2005). Effect of forest on bryophyte flora in East Kalimantan, Indonesia. Jurnal Phyton Annales Rei Botanica, 45(4), 561-567.

    Zhu, R. (1995). Moss and liveworth of Hongkong Volume 2. Hongkong: Biology Department Hongkong Baptist University
    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 18.13.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.