Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Senin, 18 Desember 2017

    TEKNIK KULTUR JARINGAN

    TEKNIK KULTUR JARINGAN

    Ratna Lestyana Dewi1  Amelia Rakhmaniar2, Hushila Alfi Bahalwan2, Puji Astuti3
    1Mahasiswa Program Studi Biologi,
    2Asisten Praktikum Mata Kuliah Praktikum Kultur Jaringan,
    3Dosen Mata Kuliah Praktikum Kultur Jaringan,

    Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

    *Corresponding author: lestyanaratna@gmail.com
    Abstrak



    Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan, atau organ yang bersifat serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril, dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat menjadi suatu tanaman yang lengkap. Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mampu mengaplikasikan proses-proses yang ada di dalam teknik kultur jaringan tanaman. Hasil yang diperoleh yaitu telah dilakukan tahapan kultur jaringan dimulai dengan inisiasi pada biji pepaya (Carica papaya) dengan persentase biji terbuka 50-100%, subkultur tanaman anggrek dengan persentase hidup 100% dan terdapat kematian pada satu botol media, dan pada aklimatisasi tanaman pisang mengalami kontaminasi pada satu tunas dan pada aklimatisasi anggrek tidak terdapat  
    Kultur jaringan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) pada kondisi in vitro. Adapun proses-proses yang ada di dalam teknik kultur jaringan dimulai dari tahapan pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, dan aklimatisasi.         

    Kata kunci: Aklimatisasi; In Vitro; Kultur jaringan, Multiplikasi




    PENDAHULUAN


    Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan, atau organ yang bersifat serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril, dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat menjadi suatu tanaman yang lengkap. Secara teoritits teknik kultur jaringan dapat dilakukan untuk semua jaringan karena berdasarkan teori totipotensi sel (Total Genetic Potential),bahwa setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap (Badriah, 1998).
    Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu dalam proses perbanyakan tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah yang besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Wahyuni, 2010).
    Menurut Hendrayono (1994) tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan yaitu dimulai dari pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, aklimatisasi. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
    Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Sterilisasi adalah suatu kegiatan di dalam kultur jaringan yang kondisinya harus dilakukan di tempat steril, yaitu di laminar air flow dan menggunakan alat-alat steril lainnya. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan guna mencegah timbulnya kontaminasi yang dapat merusak kelangsungan percobaan yang dilakukan. Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, cara tersebut meliputi sterilisasi mekanik, kimia, maupun sterilisasi secara fisik (Kusuma, 2000).
    Multiplikasi atau subkultur merupakan salah satu tahap dalam proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Pada dasarnya subkultur merupakan memotong, membelah, dan menanam kembali eksplan yang telah tumbuh sehingga jumlah tanaman akan bertambah banyak. Proses subkultur ini dilakukan karena beberapa alasan seperti tanaman yang sudah memenuhi atau sudah setinggi botol, tanaman sudah berada lama di dalam botol sehingga pertumbuhannya berkurang, tanaman mulai kekurangan hara, dan media di dalam botol sudah mengering. Kegiatan subkultur ini dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang dikulturkan. Setiap tanaman memiliki karakteristik dan kecepatan tumbuh yang berbeda-beda (Kusuma, 2000).
    Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptik ke bedeng atua dengan kata lain ke ruangan terbuka. Proses pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif (Surnowiyoto, 1996).
    Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mampu mengaplikasikan proses-proses yang ada di dalam teknik kultur jaringan tanaman.
                                                      
    MATERIAL DAN METODE

    Waktu dan Tempat
    Penelitian dilakukan pada bulan April – Juni 2017 di Laboratorium Fisiologi Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Alat dan Bahan
    Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah biji buah pepaya, stok MS, vitamin, zat pengatur tumbuh yang terdiri dari auksin dan giberelin, gula, akuades, agar, arang aktif, NaOH, HCL, eksplan anggrek, alkohol 70%, spirtus, media tanam sesuai perlakuan, deterjen, Tween 20, bibit pisang dalam botol, NaCl 10%, kertas saring, fungisida Dithane 2%, dan kertas koran.
    Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), autoklaf, oven, timbangan analitik, timbangan presisi, botol kultur, erlenmeyer, gelas ukur, sendok kimia, cawan petri, pinset, pisau bedah, gunting, lampu spirtus, hand sprayer, pipet, hot plate, spatula, beaker glass, aluminium foil, magnetic stirrer, spin bar, mikropipet, tip, pH meter, korek api, sumbat, karet gelang, tisu, polybag, dan botol fido.

    Cara Kerja
    Pembuatan Larutan Stok
                Pembuatan larutan stok dilakukan dengan cara menghitung dahulu bahan-bahan yang akan ditimbang. Bahan-bahan yang ditimbang adalah stok makro MS, stok mikro MS, dan stok vitamin MS. Setelah dilakukan perhitungan, bahan kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik digital sesuai dengan bahan yang sudah dihitung. Selanjutnya bahan-bahan kemudian dicampur dengan menggunakan air destilasi atau larutan kimia seperti NaOH dan HCl. Selanjutnya, dituliskan nama stok dan nutrisi atau zat pengatur tumbuh yang digunakan serta tanggal pembuatannya. Stok atau ZPT yang telah dibuat kemudian disimpan dalam lemari pendingin bila tidak digunakan langsung.

    Pembuatan Media Padat
                Pembuatan media padat dilakukan dengan cara disiapkan terlebih dahulu bahan stok MS yang telah dibuat, kemudian alat dan bahan yang diperlukan disiapkan di atas meja. Media yang dibuat adalah media MS + ZPT 1 mg/l BAP, media MS + ZPT 1 mg/l NAA, media MS + ZPT 1 mg/l IAA, dan media MS + ZPT 1 mg/l 2.4-D. Kemudian masing-masing media dibuat sebanyak 150 ml dengan volume per botol sebanyak 30 ml. Masing-masing perlakuan dibagi ke dalam 5 botol. Media stok dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml yang sudah berisi akuades, lalu dimasukkan gula pasir dan dihomogenkan dengan magnetic stirrer di atas hot plate. Setelah tercampur, kemudian dicek pH media tersebut dengan pH meter untuk mencapai pH 5,6 – 5,8. Jika media belum mencapai pH tersebut maka dapat digunakan larutan kimia NaOH atau HCl untuk mencapai nilai pH tersebut. Kemudian, larutan ditera dalam gelas ukur hingga 150 ml dengan ditambahkan akuades. Setelah itu, larutan stok kemudian dipindahkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan hingga mendidih. Media yang sudah homogen ini ditandai dengan warnanya yang menjadi bening dan media mendidih. Setelah homogen, media kemudian dituangkan merata ke dalam 5 botol yang kemudian ditutup dengan aluminium foil. Selanjutnya botol-botol yang telah diisi media tersebut disterilkan dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 1210C selama 20 menit. Setelah disterilisasi, maka botol-botol yang berisi media dikeluarkan dan ditempatkan pada suhu kamar hingga memadat dan siap untuk dipergunakan.

    Pembuatan Media Cair
                Pembuatan media cair dilakukan dengan menggunakan stok medis MS dalam bentuk padatan, kemudian alat dan bahan disiapkan, serta formulasi dari media yang dibuat adalah media MS sebagai kontrol, media MS + IBA 1 mg/l, media MS + IBA 2 mg/L, media MS + 2.4-D 1 mg/L, dan media MS + 2.4-D 2 mg/L. Media yang akan dibuat sebanyak 600 ml. Media MS dan gula pasir ditimbang untuk membuat 600 ml larutan media, maka dilakukan perhitungan terlebih dahulu. Kemudian media MS yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam erlenmeyer 1000 ml yang sudah berisi 200 ml akuades. Media MS dilarutkan dengan menggunakan magnetic stirrer di atas hot plate. Selanjutnya media ditambahkan ZPT yang sudah disediakan sesuai formula, selanjutnya gula pasir yang sudah ditimbang, lalu ditambahkan akuades sebanyak 200 ml ke dalam erlenmeyer. Setelah tercampur semua, larutan kemudian dicek pH (5,6 – 5,8) dan ditera hingga 600 ml di dalam gelas ukur. Kemudian media didistribusikan ke dalam 5 buah erlenmeyer dengan menggunakan beaker glass dengan volume masing-masing yaitu 120 ml. Setelah dibagi merata, media kemudian ditutup dengan sumbat dan kertas serta diikat dengan karet dan diautoklaf selama 20 menit dalam suhu 1210C.

    Subkultur Anggrek
                Proses pengerjaan subkultur anggrek ini dilakukan dengan proses pemotongan dan pemisahan terhadap eksplan yang dikerjakan dengan kondisi steril di dalam Laminar Air Flow Cabinet (LAFC). Tanaman eksplan yang digunakan adalah anggrek Dendrobium. Tutup botol yang berisi eksplan dibuka, kemudian tanaman yang ada di dalam dikeluarkan dengan dijepit pinset. Selanjutnya eksplan diletakkan di atas cawan petri, lalu pinset dipegang di tangan kiri, pisau di tangan kanan. Kemudian eksplan dijepit dengan pinset lalu dipotong sesuai dengan jenis tanaman yang disubkultur. Eksplan yang telah dipotong kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah terisi media tumbuh steril sesuai denga perlakuan. Masing-masing botol berisi 2-3 eksplan dan botol yang berisi eksplan diletakkan di dalam ruang kultur. Selama penyimpanan, ruang kultur disemprot alkohol 70% setiap minggunya.

    Inisiasi Tanaman
                Proses inisiasi tanaman dengan menggunakan biji buah pepaya (Carica papaya). Buah pepaya dicuci dengan air mengalir kemudian dikering-keringkan. Setelah kering, buah dibawa ke ruang Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) dan direndam dalam alkohol 70% selama 15 menit. Selanjutnya, buah dibelah dan diambil bijinya. Kemudian biji diletakkan di dalam cawan petri. Embrio yang terdapat di dalam biji diambil dengan menggunakan pinset dan pisau bedah lalu ditanam pada media yang telah disiapkan.
               
    Aklimatisasi Planlet
                Aklimatisasi planlet dilakukan dengan media tanam dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan agar yang masih tersisa dari akar planlet. Kemudian direndam di dalam larutan fungisida Dithane 2% selama 30 menit. Selanjutnya ditiriskan di atas tisu selama 15 menit agar bibit tidak terlalu basah. Setelah kering, planlet ditanam ke dalam polybag dengan jarak yang tidak terlalu rapat guna mencegah bibit membusuk, kemudian polybag ditutup saring. Kemudian selanjutnya bibit dipotong dengan pisau bedah, diambil bagian bijinya dengan pinset dan ditanam ke dalam botol yang berisi dengan sungkup plastik dan diletakkan dalam ruangan dengan lampu 40 watt dan suhu 220C. Proses peletakkan planlet dalam ruangan ini untuk mengadaptasikan planlet secara bertahap. Selanjutnya disimpan di ruang kultur, planlet disiram dengan cara disemprot setiap 2-3 hari sekali untuk menjaga kelembaban, planlet yang telah berumur 1 minggu kemudian dikeluarkan ke tempat teduh untuk mengadaptasikannya dengan lingkungan in vivo selama 2 minggu. Pada saat itu kemudian planlet dapat disiram dengan pupuk daun dengan konsentrasi ¼.



    HASIL DAN PEMBAHASAN

                Kultur jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) pada kondisi in vitro (Drew, 1986). Pada teknik perbanyakan tanaman secara in vitro, kultur umumnya diinkubasikan pada sebuah ruang penyinaran dengan penyinaran yang cukup. Hal ini dikarenakan tunas umumnya dapat dirangsang pertumbuhannya dengan adanya penyinaran. Sumber cahaya yang biasanya digunakan dalam ruangan kultur jaringan adalah lampu flourescent yang dapat menghasilkan warna putih, selain itu suhu ruang kultur dapat meningkat namun dalam jumlah yang sedikit. Intensitas yang digunakan dalam ruang kultur sekitar 1/10 dari intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam keadaan normal. Intensitas yang digunakan untuk pertumbuhan tunas sekitar 600-1000 lux.Sedangkan pada tahap perkecambahan dan inisiasi akar hanya dapat dilakukan pada intensitas cahaya yang lebih sedikit dibandingkan dengan pertumbuhan tunas (Gunawan, 1998).
                Salah satu faktor keberhasilan kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh tanaman. Zat pengatur tumbuh ini dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Adapun zat pengatur tumbuh dapat digolongkan menjadi beberapa golongan yaitu auksin, giberelin, sitokinin, dan inhibitor. Hal ini dikarenakan interaksi dan perimbangan antara zat pengatur tumbuh yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen, menentukan arah perkembangan suatu kultur (Rahardja, 1995).
                Zat pengatur tumbuh yang digunakan pada praktikum kultur jaringan inii yaitu NAA (Naftalen Asam Asetat), BAP (Benzhyl Amino Purin), dan 2,4-D. NAA dan 2,4-D dikhlorofenoksiasetat yang termasuk zat pengatur tumbuh golongan auksin. Hormon auksin menjadi dasar penggunaan jaringan meristem sebagai eksplan, karena jaringan ini terdapat banyak sekali hormon yang mengatur pembelahan sehingga keadaan jaringan ini selalu membelah (Rahardja, 1995).
                ZPT golongan auksin 2,4-D yang digunakan ini pada umumnya berfungsi untuk meningkatkan pemanjangan sel, pembelahan sel, dan pembentukan akar adventif, dalam medium kultur auksin dibutuhkan untuk meningkatkan embriogenesis somatik pada kultur suspensi sel. Konsentrasi auksin yang tinggi tentunya akan merangsang pembentukan kalus dan menekan morfogenesis (Rahardja, 1995).
                Benzyl Amino Purin (BAP) termasuk ke dalam zat pengatur tumbuh golongan sitokinin, yang berperan dalam merangsang proses inisiasi tunas, pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Fungsi dari aktivitas utama sitokinin adalah untuk mendorong pembelahan sel, menginduksi pembentukan tunas adventif dan dalam konsentrasi tinggi menghambat inisiasi akar. Namun, sitokinin juga aktif menghambat perombakan protein dan klorofil dan menghambat penuaan. Pertumbuhan dan perkembangan eksplan dipengaruhi oleh interaksi dan keseimbangan antara zat pengatur tumbuh endogen dan zat pengatur tumbuh eksogen (Wattimena, 1992).
                Kultur biji bertujuan untuk mempercepat waktu berkecambah dan mengatasi masalah pada tanaman langka, mempelajari kecepatan pertumbuhan hingga diperoleh biji steril untuk mengatasi kontaminasi yang terjadi pada eksplan yang dibudidayakan. Adapun hasil dari inisiasi biji pepaya (Carica papaya) adalah sebagai berikut :




    Tabel 1. Kondisi Biji Pepaya Pasca 4 Minggu Setelah Inisiasi

    Konsentrasi Media
    Kondisi Biji Pepaya
    Persentase biji terbuka
    MS 0 (kontrol)
    Semua biji yang ada di dalam media merekah
    100%
    MS + 2,4D 1 mg/L
    Terdapat biji yang tidak merekah
    80%
    MS + IBA 2 mg/L
    Semua biji yang ada di dalam media merekah
    100%
    MS + 2,4D 2 mg/L
    Semua biji hanya sedikit terbuka
    50%



                Tahap inisiasi merupakan tahap penanaman eksplan yang steril ke dalam media Murashige and Scoog (MS) yang telah disiapkan. Sterilisasi eksplan dilakukan agar eksplan bebas dari mikroorganisme. Selain dari bahan tanaman, kontaminasi dapat pula berasal dari medium kultur, peralatan, ruangan yang tidak steril, hingga proses sterilisasi yang kurang sempurna (Kusuma, 2000). Berdasarkan hasil pengamatan setelah 4 minggu dilakukan tahapan inisiasi memiliki persentasi biji terbuka 50 – 100%, dan tidak terdapat kontaminasi pada media yang digunakan. Terjadinya perbedaan persentase ini disebabkan karena faktor biji yang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbuka dan pada media yang digunakan.
                Tahap multiplikasi atau subkultur merupakan kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Adapun hasil subkultur tanaman anggrek pada media padat MS dapat dilihat pada tabel berikut:



    Tabel 2. Hasil Subkultur Anggrek pada Media Padat MS
    Media
    % Hidup
    Keterangan
    Foto
    MS + 2,4 D
    0
    Plantlet tidak tumbuh, terdapat kontaminasi pada plantlet dan media
    -
    MS + IAA


    100
    Tunas mulai tumbuh
    MS + BAP
    100
    Tunas mulai tumbuh
    MS + NAA
    100
    Tunas mulai tumbuh namun terdapat kontaminasi pada permukaan media
    -
    MS + IBA
    100
    Tunas mulai tumbuh


      


    Tahap subkultur atau multiplikasi pada praktikum ini yaitu menggunakan tanaman anggrek . Subkultur tanaman anggrek pada media padat MS ini bertujuan untuk memindahkan atau memperbanyak eksplan yang akan tumbuh pada media yang baru. Berdasarkan pada literatur, tujuan utama dari tahap subkultur ini adalah untuk merangsang eksplan agar lebih cepat bertunas dan menghasilkan tunas dalam tunas dalam jumlah yang banyak. Tahap ini merupakan tahapan dimana dilakukannya penggantian media, dari media yang lama dipindahkan ke media yang baru. Saat proses subkultur anggrek ini dilakukan dalam keadaan yang benar-benar steril baik alat maupun media dan teknik yang digunakan dengan benar, serta penanaman planlet dalam botol tidak menyentuh dinding botol dan media. Pengamatan dilakukan setiap hari di ruangan inkubasi (Wahyuni, 2010).
    Berdasarkan pada tabel tersebut dapat terlihat bahwa hasil dari subkultur anggrek berjumlah dua botol menjadi 5 botol, dengan total masing-masing keberhasilan mencapai 100% namun terdapat pula kontaminasi pada dua botol kultur yaitu pada botool kultur media MS + 2,4-D dan MS + NAA. Kontaminasi ini disebabkan karena saat penanaman planlet dalam botol menyentuh bagian media.
    Kemudian tahap selanjutnya yaitu dilakukan proses aklimatisasi pada tanaman anggrek dan pisang. Berdasarkan pada hasil pengamatan maka diperoleh data sebagai berikut:





    Tabel 3. Hasil Aklimatisasi Tanaman Anggrek dan Pisang

    Tanaman
    Foto
    Keterangan


    Pisang
    Daun berwarna hijau segar
    Panjang = 8,5 cm
    Terdapat kontaminasi pada satu tunas.
    Panjang daun yang tumbuh = 8cm
    Anggrek
    Daun berwarna hijau segar, keseluruhan tidak ada yang layu
    Panjang rata-rata = 5,2 cm
    Daun berwarna hijau segar, keseluruhan tidak ada yang layu
    Panjang rata-rata = 5,5 cm
               


                Berdasarkan pada hasil pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat bahwa aktlimatisasi anggrek ini secara keseluruhan dapat tumbuh dengan baik dengan daun berwarna hijau segar dan keseluruhan tidak ada yang layu. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang sesuai dan kondisi anggrek yang memang telah siap untuk diaklimatisasi. Sedangkan pada aklimatisasi pisang dapat dilihat bahwa dari dua polybag yang telah diaklimatisasi terlihat ada kontaminasi pada satu tunas pisang. Hal ini disebabkan kemungkinan karena pada saat diberi sungkup dan diikat kurang tertutup secara menyeluruh dan masih ada celah udara sehingga terdapat kontaminasi yang lama kelamaan membuat tunas pisang tersebut mati.
                Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan bahwasanya lingkungan seperti suhu, kelembaban relatif udara, kuantitas serta kualitas cahaya yang disebut intensitas cahaya, lama penyinaran, dan panjang gelombang dalam botol kultur sangat berpengaruh oleh beberapa parameter lingkungan yang ada dalam botol kultur selama proses kultur jaringan (Zulkarnain, 2009).





    KESIMPULAN
               
                Kultur jaringan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) pada kondisi in vitro. Adapun proses-proses yang ada di dalam teknik kultur jaringan dimulai dari tahapan pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, dan aklimatisasi.         



    DAFTAR PUSTAKA

    Drew, R., A. (1986). Growth a apical and lateral buds of papaw (Carica papaya) as affected by nutritional and hormonal factors. J.Hort Sci, 61(4), 535-543.
    Badriah, D. (1998). Tanggap dua kultivar gladiol terhadap zat pengatur tumbuh pada perbanyakan in vitro. Jurnal Hortikultura, 8(2), 1048-1059.
    Gunawan, L., W. (1988). Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Laboratorium Kultur Jaringan Bioteknologi IPB
    Hendrayono, A. (1994). Teknik Kultur Jaringan Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif-Modern. Yogyakarta: Kanisius
    Kusuma, A., L. (2000). Teori – Teori Kultur Jaringan Materi Ajar. Yogyakarta: UGM Press
    Rahardja, P., C. (1995). Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Jakarta: Swadaya
    Surnowiyoto. (1996). Pemulihan Tanaman Secara In Vitro. Yogyakarta: Kanisisus
    Wattimena, G., A. (1992). Bioteknologi Tanaman I. Bogor: Institut Pertanian Bogor
    Wahyuni, D. (2010). Teknik kultur jaringan tunas pepaya dengan menggunakan beberapa konsentrasi IBA. Jurnal Teknik Pertanian, 15(2), 52-55.
    Zulkarnain. (2009). Kultur Jaringan Solusi Perbanyakan Tanaman Budidaya. Jakarta: Bumi Aksara  


    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 21.58.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.