Tampilkan postingan dengan label EKOLOGI PERAIRAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

KOMUNITAS BIOTA EKOSISTEM LAMUN DI PULAU PRAMUKA DAN PULAU KOTOK BESAR KEPULAUAN SERIBU


KOMUNITAS BIOTA EKOSISTEM LAMUN DI PULAU PRAMUKA DAN PULAU KOTOK BESAR KEPULAUAN SERIBU
Ratna Lestyana Dewi, Alfan Farhan Rijaluddin, Daus Ramadhan , dan Rizky Aprizal
    Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak
Ekosistem lamun atau seagrass merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan di laut serta merupakan salah satu ekosistem yang paling produktif salah satunya sebagai biota asosiasi lamun. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui faktor kimia dan fisik ekosistem lamun, menjelaskan fungsi ekologi dari ekosistem lamun, serta menjelaskan hewan yang berasosiasi di ekosistem lamun. Praktikum ini dilakukan di dua lokasi yaitu pada hari Jumat, 20 Mei 2016 di Pulau Pramuka dan pada hari Sabtu, 21 Mei 2016 di Pulau Kotok Besar, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Metode biota asosiasi lamun menggunakan metode line transect quadrant. Hasil yang diperoleh yaitu di Pulau Pramuka dan Pulau Kotok Besar ditemukan 13 jenis spesies dengan masing-masing grand total sebesar 173 dan 228. Nilai H’masing-masing 1,94 dan 1,46, indeks margalef masing-masing 2,52 dan 2,21, nilai E masing-masing 0,74 dan 0,57, nilai dominansi 0,26 dan 0,43, dan indeks similaritas sorensen 88,8%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa di kedua pulau memiliki indeks diversitas yang sedang, dengan kekayaan biota di Pulau Pramuka tergolong tinggi dan kekayaan biota di Pulau Kotok Besar tergolong sedang, memiliki tingkat kemerataan jenis yang tidak merata, dengan nilai dominansi yang rendah dan tingkat similaritas di kedua pulau tergolong tinggi.
Kata kunci : Ekosistem Lamun, Indeks Keanekaragaman, Similaritas

Sabtu, 16 April 2016

KOMUNITAS PLANKTON di EKOSISTEM PERAIRAN


KOMUNITAS PLANKTON di EKOSISTEM PERAIRAN
Ratna Lestyana Dewi1), Alfan Farhan Rijaluddin 2), Daus Ramadhan2) , dan Rizky Aprizal2)
1.       Mahasiswa Program Studi Biologi
2.       Asisten Dosen Praktikum Ekologi Perairan Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak
Plankton dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu zooplankton dan fitoplankton. Zooplankton merupakan organisme renik yang hidup melayang – layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani. Sementara itu, fitoplankton adalah plankton yang menyerupai tumbuhan yang bebas melayang dan hanyut dalam perairan serta mampu melakukan proses fotosintesis karena mengandung klorofil. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menghitung dan mengidentifikasi plankton, mempelajari indeks diversitas plankton, serta mempelajari spesies dan jumlah plankton sebagai bioindikator perairan. Praktikum ini dilakukan pada Jumat, 1 April di Danau Situ Gintung dan Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menggunakan metode sampling secara kuantitatif yang dibagi ke dalam lima titik stasiun yaitu pada lokasi inlet, dekat dengan permukiman, outlet, dekat dengan pertanian, dan outlet. Hasil yang diperoleh yaitu didapat 9 kelas dari fitoplankton dengan kelimpahan terdapat pada stasiun tiga dengan dominansi pada jenis Oscillatoria sp. Kesimpulannya adalah Situ Gintung memiliki indeks diversitas yang tinggi sebesar 2,88 dan terdapatnya keanekaragaman plankton dapat dijadikan sebagai bioindikator dari ekosistem perairan.
Kata Kunci :  Plankton, fitoplankton, Indeks diversitas, Oscillatoria sp.

Kamis, 14 April 2016

PRODUKTIVITAS PRIMER DAN BOD EKOSISTEM PERAIRAN


PRODUKTIVITAS PRIMER DAN BOD5 EKOSISTEM PERAIRAN
Ratna Lestyana Dewi1), Alfan Farhan Rijaluddin 2), Daus Ramadhan2) , dan Rizky Aprizal2
1.       Mahasiswa Program Studi Biologi
2.       Asisten Dosen Praktikum Ekologi Perairan Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstrak
Cahaya matahari merupakan komponen penting dalam setiap ekosistem yang dimanfaatkan oleh produsen primer yang ada di ekosistem perairan diantaranya yaitu alga, bryophyta, vascular macrophytes, dan Cyanobacteria. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memahami produktivitas primer dan BOD5 di ekosistem perairan dan memahami produktifitas primer BOD5 tentang kualitas perairan. Praktikum ini dilakukan di Danau Situ Gintung dan PLT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan metode purposive sampling dan metode botol gelap dan botol terang. Hasil yang diperoleh yaitu pada saat perhitungan produktivitas primer hampir keseluruhan tergolong pada mesotrofik kecuali pada stasiun kedua, dan perhitungan BOD5 menunjukkan bahwa Danau Situ Gintung tergolong memiliki tingkat pencemaran yang sedang pada stasiun satu, tiga, lima, dan memiliki tingkat pencemaran ringan pada stasiun satu dan empat.. Kesimpulannya adalah produktivitas primer di Danau Situ Gintung termasuk tipe Danau yang memiliki kandungan nutrient yang sedang (mesotrofik) dan memiliki kualitas pencemaran perairan yang sedang.

Kata Kunci : BOD5 , Mesotrofik, Pencemaran, Produktivitas primer

Sabtu, 02 April 2016

PENENTUAN KUALITAS PERAIRAN BERDASARKAN FAKTOR KIMIA FISIK LINGKUNGAN

PENENTUAN KUALITAS PERAIRAN BERDASARKAN FAKTOR
KIMIA FISIK LINGKUNGAN

Ratna Lestyana Dewi1), Alfan Farhan Rijaluddin 2), dan Daus Ramadhan2)
1.       Mahasiswa Program Studi Biologi
2.       Asisten Dosen Praktikum Ekologi Perairan Prodi Biologi
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK
Air adalah komponen yang utama dalam kehidupan di bumi dan merupakan sumber daya alam yang penting untuk makhluk hidup. Kualitas perairan adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan tertentu. Syarat yang ditetapkan sebagai standar mutu air berbeda-beda, tergantung tujuan penggunaan. Kualitas air dapat diketahui nilainya dengan mengukur parameter fisika dan parameter kimia. Pemantauan kualitas perairan dapat dilakukan dengan beberapa indikator atau parameter seperti kimia, fisik dan biologi. Situ Gintung merupakan suatu danau yang mampu mewakili suatu ekosistem perairan tawar. Praktikum ini bertujuan untuk memahami penggunaan alat kimia fisik perairan serta mampu memahami parameter kimia fisik perairan. Adapun metode yang digunakan yaitu dengan metode purposive sampling. Hasil yang didapat bahwa kualitas perairan di Danau Situ Gintung tergolong dalam kualitas baik dengan total WQI berkisar antara 72,72 – 73,8. Situ Gintung merupakan suatu danau yang mewakili suatu ekosistem perairan yang memiliki beberapa parameter kimia fisik lingkungan yaitu suhu, pH, konduktivitas, kekeruhan, DO, TDS, Salt, dan Water Quality Index (WQI). Adapun untuk mengukur parameter kimia fisik lingkungan menggunakan beberapa alat yaitu pH meter, Secchi disk, turbidimeter, dan water sampler.

Kata kunci : kualitas air, parameter, Situ Gintung, purposive sampling, Water Quality Index


PENDAHULUAN


Air adalah komponen yang utama dalam kehidupan di bumi dan merupakan sumber daya alam yang penting untuk makhluk hidup. Air yang terdapat di daratan dan lautan dalam beberapa dekade terakhir mengalami tekanan berupa polusi yang berasal dari kegiatan manusia dan dari alam itu sendiri. Adapun contoh dari kegiatan manusia seperti penggunaan deterjen, pestisida, logam (berat dan ringan), limbah kimia dan plastik (Darmono, 2001).

Dampak dari kegiatan manusia tersebut dapat menyebabkan perubahan suatu ekosistem perairan secara kecil bahkan besar seperti kontaminasi flora dan fauna perairan dan perubahan rantai dan jaring-jaring makanan. Contoh dari alam yang dapat memiliki dampak perubahan perairan seperti perubahan pH, suhu, salinitas, arus, oksigen terlarut, cahaya matahari, musim dan letak geografis perairan. Sementara itu, perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis (tergenang) seperti danau. Perairan ini dapat merupakan perairan tawar, payau, maupun asin (laut).
Danau sebagai habitat perairan air tawar yang menggenang merupakan suatu ekosistem bagi organisme akuatik. Organisme produsen sebagai penghasil produktivitas primer yang memanfaatkan energi cahaya matahari sehingga dapat berfotosintesis menghasilkan oksigen. Produktivitas primer sendiri berarti hasil proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan berklorofil. Adapun dalam ekosistem perairan yang melakukan aktivitas fotosintesis adalah fitoplankton, hasil dari fotosintesisnya merupakan sumber nutrisi utama bagi organisme air lainnya yang berperan sebagai konsumen dimulai dengan zooplankton dan diikuti oleh kelompok organisme lainnya. Produktivitas ekosistem perairan tentulah berbeda-beda di setiap ekosistem khususnya ekosistem air tawar. Karena dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik dari suatu ekosistem perairan (Darmono, 2001).           
Situ Gintung merupakan suatu situ (danau) yang terletak di Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Situ ini memiliki luas 21,49 ha dan diperkirakan mampu menampung 1 juta m3 air. Besar daya tampung tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku yang dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pembangunan pemukiman yang pesat menyebabkan alih fungsi lahan sekitar 9.51 ha. Penurunan luas perairan yang diikuti dengan terus bertambahnnya beban cemaran menyebabkan penurunan kemampuan manfaat asli perairan. Berbagai aktivitas manusia seperti membangun pemukiman, keramba jaring apung, memancing dan menjadikan situ sebagai tempat buangan limbah dari bangunan sekitar situ telah mengubah fungsi perairan di Situ Gintung. Akibat aktivitas tersebut kualitas perairan di Situ Gintung diduga menurun. Penurunan kualitas dapat terjadi mulai dari berubahnya sifat fisik (suhu dan TDS), kimia (pH, DO) (Barus, 1996).                                                     
Kualitas perairan adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan tertentu. Syarat yang ditetapkan sebagai standar mutu air berbeda-beda, tergantung tujuan penggunaan. Kualitas air dapat diketahui nilainya dengan mengukur parameter fisika dan parameter kimia. Pemantauan kualitas perairan dapat dilakukan dengan beberapa indikator atau parameter seperti kimia, fisik dan biologi. Kualitas perairan memiliki standar yang berbeda-beda di beberapa negara. Indonesia memiliki standar kualitas perairan menurut PP. No. 20 Tahun 1990 dan PP. No. 82 Tahun 2001 yang membagi golongan kualitas perairan menjadi 4 golongan berdasarkan parameter kimia, fisik dan mikrobiologi. Pemantauan kualitas perairan berkembang dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju dan kebaruan (novelty) seperti standar Water Quality Index (WQI). Water Quality Index (WQI) adalah sebuah angka yang menggambarkan kualitas perairan dengan mengumpulkan hasil pengukuran parameter kualitas perairan (seperti dissolved oxygen, pH, nitrat, fosfat, amoniak, kesadahan dll.). Indeks ini menyediakan metode yang mudah dan ringkas dalam menggambarkan kualitas badan perairan untuk berbagai macam penggunaan seperti rekreasi, air minum, irigasi atau pembenihan ikan, air baku dan perumahan (Asdak, 2004)
Praktikum ini bertujuan untuk memahami penggunaan alat kimia fisik perairan serta mampu memahami parameter kimia fisik perairan.

Senin, 28 Maret 2016

PENGANTAR EKOLOGI PERAIRAN


Nama                           : Ratna Lestyana Dewi
NIM                            : 11140950000007
Prodi/Semester            : Biologi A/Semester 4
Mata Kuliah                : Ekologi Perairan
Dosen Pengampu        : Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env. Stud.


                                                PENGANTAR EKOLOGI AIR TAWAR

            Ekologi adalah sub kategori khusus dari studi keseluruhan organisme dan lingkungan hidup mengenai bagaimana makhluk hidup memberikan reaksi, dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya atau ekosistem. Ekologi air tawar adalah studi tentang hubungan timbal balik antara air tawar organisme dan lingkungan alam dan budaya mereka. Dengan mempelajari ekologi air tawar dapat menemukan informasi penting tentang kesehatan dan kebutuhan sistem air tawar.

Ekologi air tawar memiliki dua klasifikasi habitat yaitu :
1.      Dataran Tinggi
Habitat ini memiliki ciri-ciri diantaranya suhunya lebih dingin, terdapat aliran sungai yang mengalir di dekat daerah pegunungan.
2.      Dataran Rendah
Habitat ini memiliki ciri-ciri diantaranya memiliki suhu yang lebih hangat, terdapat aliran sungai yang mengalir lambat, memiliki dataran rendah yang relatif datar, dengan air yang memiliki komposisi bahan-bahan organik dari hasil sedimentasi.
Terdapat empat unsur utama dari lingkungan hidup yang membentuk ekosistem air tawar, yaitu :
a.       Elemen dan Senyawa
Unsur ini dibutuhkan untuk diserap oleh organisme yang diperlukan sebagai sumber makanan untuk proses respirasi, dan membantu dalam proses rantai makanan oleh tanaman.
b.      Tanaman
Unsur ini dibutuhkan karena tanaman mampu mensintesis makanan dengan cara memanfaatkan energi dari senyawa organik yang disebut dengan fotosintesis.
c.       Konsumen
Konsumen merupakan organisme yang dibutuhkan karena mampu memberikan makanan dari bahan tanaman.
d.      Pengurai
Pengurai mampu menguraikan zat-zat sisa yang sudah tidak terpakai di alam (bahan organik yang mati) yang kemudian hasil dari pengurai ini diperlukan kembali oleh tanaman.












Faktor – Faktor Biotik dan Abiotik Pada Ekologi Perairan
                                                                                                   
           Pada dasarnya faktor abiotik merupakan komponen tak hidup yang mampu mempengaruhi organisme hidup dari ekosistem air tawar. Adapun yang termasuk ke dalam faktor abiotiknya yaitu faktor-faktor lingkungan. Sementara pada faktor-faktor biotik dipengaruhi oleh tindakan konsekuen spesies ketika berbagai spesies hadir agar dapat mempengaruhi kehidupan sesama spesies di lingkungannya.
           Cahaya matahari merupakan konstituen utama dari ekosistem air tawar, karena mampu memberikan cahaya untuk produsen utama yakni tanaman. Adapun terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi intensitas dan lamanya waktu yang terkena daerah sinar matahari, yaitu :
-          Aspek
Aspek sangat menentukan karena saat matahari sedang terbit hingga siang hari, lebih banyak cahaya yang dapat diserap ke dalam air, sedangkan pada saat matahari terbenam, cahaya tidak terlalu banyak sehingga sulit untuk diserap. Aspek matahari setiap harinya akan selalu bervariasi tergantung pada waktu tahun.
-          Tutupan Awan
Awan yang menutupi suatu daerah akan mempengaruhi intensitas dan lamanya penyinaran matahari sehingga spesies tanaman akan mengalami masa kritis untuk menerima cahaya sebagai bahan fotosintesis.
-          Musim
Empat musim yang berbeda akan mempengaruhi macam-macam organisme yang hidup di suatu ekosistem tersebut, organisme tersebut mampu hidup sesuai dengan kondisi tubuhnya yang mampu menyesuaikan dengan musim yang ada.
-          Lokasi
Lokasi yang terbilang ekstrim membuat suatu wilayah yang dilewati garis khatulistiwa akan menerima 12 jam sinar matahari dan adapula yang mengalami kegelapan setiap hari hingga 6 bulan sinar matahari dan 6 bulan mengalami kegelapan.  Hal yang demikian ini
-          Ketinggian
Ketinggian juga akan mempengaruhi aspek dari sinar matahari, karena untuk setiap seribu meter di atas permukaan laut, suhu rata-rata hampir satu derajat Celsius.

Masyarakat di Daerah Air Tawar & Lentic Water
            Masyarakat dengan tipe ini adalah masyarakat yang dapat sangat bervariasi dalam berpenampilan apapun. Salah satu dari elemen penting dari lingkungan ini yaitu suhu yang masih efektif dengan daerah air yang lebih luas. Ketika ekosistem air tawar ini dihumi, banyak faktor seperti osmosis, serta suhu yang menentukan keseluruhan lingkungan agar organisme mampu untuk beradaptasi. Adapun faktor utama yang mempengaruhi komunitas air adalah konsentrasi oksigen dari daerah sekitar.





Konsentrasi oksigen terutama dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
1.      Luas permukaan di lingkungan terbuka
2.      Sirkulasi Air, terutama karena terdapat diferensiasi suhu di beberapa wilayah
3.      Oksigen yang dihasilkan dari proses respirasi, konsumsi, dan oksigen yang dikonsumsi oleh hewan dan bakteri.
4.      Suhu, dan pH
Melalui jutaan tahun setelah evolusi, binatang yang hidup di lingkungan perairan memiliki diversifikasi untuk menempati relung ekologi yang tersedia dalam ekosistem. Ketika mempelajari habitat dari organisme tertentu, terdapat tiga bidang utama dari lingkungan air tawar yang dapat diklasifikasikan sbb :
a.       Area Profundal
Pada area ini, hewan-hewan masih mengandalkan bahan organik sebagai sumber makanan, yang bersumber dari daerah yang kaya akan energi namun dengan sinar matahari yang kurang.
b.      Area Pelagic
Area ini ditemukan di bawah permukaan air, dengan cahaya matahari yang cukup tersedia namun daerah ini tidak dekat dengan daerah pantai.
c.       Area Benthic
Area ini menggabungkan semua lingkungan air tawar (area profundal dan area pelagic)
Komunitas Air Tawar (Lentic) & Hewan
            Tanaman yang hidup di sebagian atau keseluruhan yang terendam air (Hydrophytes) akan bersimbiosis dengan tanaman tumbuhan air lainnya, yang nantinya akan memberikan ganggang dan organisme dapat bertahan hidup di lingkungan sekitarnya. Sementara hewan di lingkungan ini akan mengonsumsi ganggang kemudian terdapat pula detritus yang mengurai bahan organik yang melimpah. Tanaman (Hydrophytes) ini memiliki cara adaptasi yang evolusioner seperti contohnya tanaman ini memiliki struktur yang kaku pada tanaman air tawar yang berbanding lurus dengan densitas air (jauh lebih tinggi dari lingkungan udara terbuka). Hal ini menyebabkan tanaman (Hydrophytes) lebih fleksibel terhadap adanya air pasang, dan mampu mencegah kerusakan tanaman.
Adapun adaptasi yang dapat dilakukan pada komunitas air tawar yaitu :
-          Ruang Air (Spaces)
-          Luas Daun
-          Kutikula yang tebal





Tanaman Air Tawar & Nutrisi
            Tanaman juga membutuhkan nutrisi yang terdapat di dalam tanah seperti Mg, N, P, dan K. Bberapa dari elemen ini, terutama gas memang sudah terdapat di atmosfer, sementara karbon dioksida dihasilkan dari penguraian bahan-bahan organik. Sementara oksigen tersedia dari kegiatan fotosintesis dari tanaman.
Komunitas Lotic
            Lotic atau yang disebut dengan arti air yang mengalir merupakan masyarakat yang kehidupannya sangat dekat dengan komunitas air dari berbagai sumber seperti curah hujan, air dari permukaan tanah, air bawah tanah, dan lain-lain. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kehidupan organisme pada komunitas ini, yaitu adanya gerakan mineral dan batu yang disebabkan oleh kecepatan dan volume air serta adanya erosi. Sementara itu terdapat beberapa faktor fisik dan kimia yang menyediakan relung ekologi, sbb:
-          Suhu
-          Cahaya
-          Komposisi Kimia
-          Material Organik
Adapun keragaman spesies tanaman pada komunitas ini terlihat lebih kecil karena hal ini berhubungan dengan lingkungannya seperti alga yang dapat tumbuh di segala macam tempat yang berbeda dengan permukaan yang berbeda pula, sehingga alga mampu untuk bertahan hidup pada ekosistem air karena telah melakukan adaptasi secara evolusioner.
Sementara pada komunitas lotic terdapat hewan sessile yang dapat bergerak dan tetap pada satu tempat. Hewan ini berukuran kecil, dan termasuk protozoa dan beberapa spons air tawar. Hewan yang tergolong ke dalam komunitas lotic memiliki beberapa adaptasi dari waktu ke waktu dengan cara:
-          Kait (Claws)
Adapun yang dimaksud dengan kait adalah suatu benda tajam yang dapat membantu hewan tersebut menggali atau menggenggam saat berada di sekitar permukaan
-          Tubuh yang merata
Adaptasi ini dapat membantu hewan pada komunitas lotic untuk mampu menanggung beban yang terdapat pada kekuatan air, dan mempermudah untuk berlindung di bawah batu.
-          Ramping
Hewan dengan tubuh yang ramping mampu beradaptasi pada komunitas ini.
-          Terbang
Beberapa hewan dari komunitas ini dapat terbang, hal ini memungkinkan hewan tersebut untuk bergerak lebih cepat dan mudah.




Masyarakat Air Tawar & Plankton
            Plankton adalah organisme mikroskopis yang hidup tersuspensi di dalam lingkungan air, dan merupakan salah satu komponen penting dari komunitas air tawar. Di hampir setiap habitat dari ekosistem air tawar terdapat ribuan organisme ini karena ukurannya yang relatif mikroskopis. Plankton dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
1.      Fitoplankton
Fitoplankton merupakan tumbuhan mikroskopis yang memperoleh energi melalui fotosintesis, mampu memproduksi dan melakukan proses daur ulang seperti daur karbon, sulfur, yang sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat. Fitoplankton yang lebih berlimpah terdapat pada daerah dengan intensitas cahaya yang tinggi, karena fitoplankton mampu mengkonversi cahaya menjadi energi kimia
2.      Zooplankton
Terdiri dari golongan Crustacea dan Rotifera, dan merupakan kategori yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan fitoplankton lainnya. Zooplankton memiliki adaptasi yang evolusioner sehingga mampu bertahan hidup dan jauh dari bahaya.

Polusi di Ekosistem Air Tawar
            Polusi pada ekosistem air tawar dapat terjadi apabila terdapat peningkatan suhu yang kemudian akan mempengaruhi tingkat oksigen yang tersedia secara bebas untuk organisme. Karena perubahan suhu ini, kehidupan ekosistem akan terpengaruh. Selain itu, jika terdapat periode hujan lebat dapat menyebabkan tingkat air yang berfluktuasi, yang pada akhirnya akan mempengaruhi suhu air sehingga terkadang bahan-bahan kimia baru masuk.
            Adapun penggunaan sebagai lahan rekreasi juga memiliki efek misalnya sampah-sampah  yang menghalangi masuknya sinar matahari yang dibutuhkan oleh produsen yaitu tumbuhan untuk berfotosintesis. Jika sinar cahaya matahari terhalang akan menyebabkan tingkat keproduktivitasan produsen menjadi menurun, dan jika organisme lain mengandalkan produsen maka proses kehidupannya akan terancam.

            Polusi pada tingkat molekuler dapat terjadi apabila limbah bahan-bahan kimia dibuang ke dalam air, terutama dari hasil industri atau pestisida dari lahan pertanian dapat mempengaruhi kualitas lingkungan di air tawar. Jika hal ini terjadi, maka organisme tidak dapat melakukan respirasi dan tidak dapat berfungsi secara optimal, sehingga mengakibatkan kurangnya biomassa dalam keseluruhan ekosistem.