Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Kamis, 28 April 2016

    TANAH DAN DEKOMPOSISI

                                                                TANAH DAN DEKOMPOSI
    Ratna Lestyana Dewi1), Apriyani Ekowati 2), dan Meidiyanto2)
    1.     Praktikan 2. Asisten Dosen 2. Asisten Dosen
    Program Studi Biologi
    Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id

                     Abstract
    Land is a small form of the earth's surface that directly deal with the atmosphere and the lithosphere is formed of many phases (material, the rest of the decaying organic material, water and gas). Soil is a material that is dynamic and is a complex system, consisting of inorganic components, organic and biotic which has a capacity that is conducive to the survival of tumbuhan. Dekomposition litter is physically and chemically changes the simple by soil microorganisms (bacteria, fungi, and other land animals). The purpose of this lab to know the structure and size in the cross-section of land, knowing fauna in the cross-section of land, knowing the process - the process of decomposition, and identify factors - factors that affect decomposition. Lab work is done in the area that vegetation area  and non vegetation area in around the parking integrated laboratory center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Methods used the with the hand of sorting and sampling. The results showed that the percentage of damage litter and mix on the location of the largest non vegetation that is 45% while in the area of vegetation by 40%. Then the mass is greater decomposition on the location of vegetation 51.19% due to abiotic factors, namely the weather. While the measurement of abiotic factors have high humidity in the location of vegetation, with the support of temperature and soil pH is normal. The conclusion is a cross-sectional structure of the soil shows different soil conditions have a different characteristics. The decomposition process characterized by reduced weight of the mass of litter gradually degraded. Factors affecting the decomposition among the levels of litter, litter size, temperature, humidity, flora and fauna of microorganisms and chemical content of the litter.
    Key words : Abiotic, Damage litter, Degradation, Decomposition, Soil
    PENDAHULUAN


    Tanah adalah bentuk kecil dari permukaan bumi yang langsung berhadapan dengan atmosfer dan litosfer yang terbentuk dari banyak fase (material, sisa bahan organik yang membusuk, air dan gas). Tanah merupakan suatu material yang dinamis dan merupakan suatu sistem yang kompleks, terdiri atas komponen anorganik, organik dan biotik yang memiliki kapasitas yang mendukung bagi keberlangsungan hidup tumbuhan. Tanah diklasifikasikan berdasarkan pada sifat kimia dan fisiknya. Adapun salah satu proses yang terjadi di dalam tanah yaitu proses dekomposisi. Dekomposisi merupakan suatu proses utama yang terjadi di dalam tanah dengan mekanisme mendaur ulang nutrisi tanaman dan dapat menghasilkan humus. Dekomposisi adalah proses penting dalam nutrisi dinamika tanah (Chapin, 2000).
              Dekomposisi serasah atau yang disebut dengan mineralisasi merupakan suatu proses penghancuran bahan organik yang berasal dari tumbuhan sehingga menjadi senyawa organik yang lebih sederhana. Serasah merupakan material organik yang diuraikan oleh mikroorganisme dan organisme kecil lainnya. Material organik diuraikan oleh mikroorganisme karena mikroorganisme mampu berperan sebagai sumber energi dan makanan bagi mikroorganisme tersebut. Laju dekomposisi serasah akan berbeda pada setiap ekosistemnya. Laju dekomposisi serasah dipengaruhi oleh faktor lingkungan, pH, kelembaban, komposisi kimia dari serasah dan mikroorganisme tanah (Chapin, 2000).
              Tumbuhan mampu memberikan masukan bahan organik melalui organnya yaitu pada daun, cabang rantingnya yang telah gugur, serta melalui akar yang telah mati. Serasah yang jatuh di permukaan tanah dapat melindungi permukaan tanah dari tetesan air hujan dan mampu mengurangi terjadinya proses penguapan (Madjid, 2007).
              Bahan organik yang berasal dari sisa tanaman biasanya lebih cepat terdekomposisi dan termineralisasi pada daerah tropis basah dibandingkan dengan daerah yang bertemperatur dingin. Hal ini dikarenakan aktivitas mikroorganisme yang lebih tinggi pada daerah tropis dibandingkan dengan daerah yang bertemperatur dingin. Beberapa faktor yang mempengaruhi kandungan bahan organik tanah, diantaranya iklim, jenis tanah, kualitas dan kuantitas bahan organik itu sendiri (Madjid, 2007).
              Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui struktur, ukuran, dan fauna yang terdapat di penampang melintang tanah, mengetahui proses dan faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya dekomposisi.

    METODOLOGI PENELITIAN
    Praktikum ini dilaksanakan pada 8 April 2016 dengan pengamatan selama dua minggu dalam empat hari sekali. Praktikum ini dilakukan di area yang berkanopi dan non kanopi di sekitar parkiran Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode yang digunakan yaitu dengan metode sampling dan hand sorting.
    Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sekop atau cangkul, pisau, pinset, cawan, plastik atau botol sampel, oven, alat ukur atau meteran, pH meter, timbangan, mikroskop, soil tester, termometer tanah, saringan bertingkat, kertas label, dan kantong sampah (litter bags) 10 buah yang terbuat dari nilon (20 x 10 cm dengan ukuran jaring 1 mm).
    Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah serasah daun dan campuran.
    Cara Kerja
                Lokasi praktikum ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pada lokasi yang berada di bawah kanopi dan tidak di bawah kanopi. Setiap lokasi digali 30 cm dan diukur pH dan suhu tanah. Kemudian tanah diambil sebanyak 10 gram kemudian di oven dengan suhu 600 C selama 1 jam. Lalu tanah disaring dengan saringan bertingkat kemudian dicatat perbedaan tekstur tanah. Kemudian pada lokasi yang sama dengan praktikum tanah, dikoleksi serasah dan campuran masing – masing 10 – 20 gr. Lalu dicatat kondisi presentase kerusakan serasah, fauna yang ada dan waktu, kemudian dimasukkan ke dalam kantong yang telah diberi label dan ditimbang. Kantong yang telah diisi kemudian ditimbang berat awal dan kembali diletakkan kembali ke tempat semula. Lalu dicatat dan diamati kondisi fisik serasah dan fauna yang ada setiap interval 1 minggu selama 4 minggu. Setiap 1 minggu diambil kemudian diukur berat basah dan berat kering di dalam oven 600 C dengan rumus :
    Dimana M0  adalah berat masa sebelum dikeringkan dan M1 adalah berat setelah dikeringkan (gr). Kemudian dianalisis presentase masa dekomposisi (y) dengan waktu (x) diplotkan dengan kurva.



    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Berdasarkan pada hasil percobaan, maka didapat hasil seperti pada tabel berikut :
     Tabel 1.1 Pengukuran Berat dan Presentase Kerusakan Serasah
    Lokasi
    Tanggal (Minggu)
    Berat Basah (Mo)
    Berat Kering (Mt)
    Presentase Kerusakan (%)
    Massa Dekomposisi (%)
    Serasah
    (gr)
    Campuran
    (gr)
    Serasah
    (gr)
    Campuran
    (gr)
    Serasah
    Campuran
    Serasah
    Campuran
    Vegetasi
    04-Apr-16
    10
    10
    8,7
    9,2
    10
    15
    13,00
    8,00
    08-Apr-16
    9,8
    8,4
    8,8
    4,1
    20
    15
    10,20
    51,19
    12-Apr-16
    9,5
    6,8
    9,2
    4,2
    25
    35
    3,16
    38,24
    17-Apr-16
    18,3
    11,2
    15,2
    9,7
    30
    40
    16,94
    13,39
    21-Apr-16
    24
    14,2
    22
    12,7
    40
    45
    8,33
    10,56
    Non Vegetasi
    04-Apr-16
    10
    10
    8,9
    5,3
    5
    10
    11,00
    47,00
    08-Apr-16
    13,7
    6,5
    10,8
    4,1
    15
    15
    21,17
    36,92
    12-Apr-16
    10,2
    6,9
    9,2
    2,6
    25
    20
    9,80
    62,32
    17-Apr-16
    17,3
    15,4
    10,7
    7,7
    30
    30
    38,15
    50,00
    21-Apr-16
    24,3
    10,7
    21,6
    10,4
    45
    45
    11,11
    2,80
               


    Berdasarkan pada hasil percobaan mengenai tanah dan dekomposisi maka diperoleh pengukuran berat serta presentase kerusakan serasah yang disajikan pada tabel 1.1. Hasil yang didapat yaitu terdapat adanya perbedaan pada lokasi vegetasi dengan lokasi non vegetasi. Perbedaan ini dapat mempengaruhi proses dekomposisi yang terjadi di lokasi tersebut. Faktor yang diamati selain faktor fisik yakni persen kerusakan serasah, persentase kerusakan serasah campuran dengan daun, serta massa dekomposisi atau yang disebut juga dengan kadar air.
    Presentase kerusakan serasah dan campuran baik di area vegetasi dan non vegetasi terus mengalami peningkatan sejak pengamatan pertama hingga pengamatan terakhir. Presentase kerusakan yang terjadi lebih tinggi di area non vegetasi meskipun hanya terdapat sedikit perbedaan dibandingkan dengan di area vegetasi. Berat kehilangan serasah setiap pengamatan berbeda. Persentase kehilangan bobot serasah pada area vegetasi dan dibawah non vegetasi mengalami fluktuatif dengan persentase kehilangan serasah terbesar di area non vegeasi terjadi pada pengamatan terakhir dengan nilai 45% sementara di area non vegetasi presentase kehilangan bobot serasah pada minggu terakhir sebesar 40%. Adapun persentase kehilangan bobot campuran terdapat kesamaan presentase kelihangan bobot campuran yakni sebesar 45%. Berdasarkan pada literatur, seharusnya presentase kerusakan terjadi lebih besar pada area vegetasi dibandingkan dengan area non vegetasi. Hal ini disebabkan karena pada area yang terdapat vegetasi umumnya memiliki kelimpahan fauna tanah yang dapat membantu lebih cepat proses dekomposisi tersebut. Fauna tanah memberikan nilai tukar kation tanah dengan menyumbangkan unsur nitrogen bagi tanah sehingga membantu mempercepat proses dekomposi (Partaya, 2002).
    Kualitas proses dekomposisi serasah dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi kadar serasah, macam vegetasi, aerasi dan pengolahan tanah, kelembaban, unsur N, reaksi tanah, temperatur, kandungan lignin, ciri morfologi daun, unsur P daun, dan ukuran serasah. Namun, laju dekomposisi serasah berbeda antara satu ekosistem dengan ekosistem lainnya. Laju ini terutama dipengaruhi oleh kelembaban udara, organisme flora dan fauna mikro dan kandungan kimia dari serasah (Partaya, 2002).










    Grafik 1.1 Presentase Massa Dekomposisi Serasah dan Campuran


    Kemudian jika dilihat pada grafik 1.1 mengenai presentase massa dekomposisi atau yang disebut dengan kadar air di kedua tempat cenderung naik turun (tidak stabil) dikarenakan faktor cuaca yakni hujan. Rata – rata persentase massa dekomposisi pada area vegetasi lebih tinggi yaitu sebesar 51, 19% dibandingkan dengan di area non vegetasi. Tingginya kadar air di masing – masing tempat setiap minggunya dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang ada di lokasi tersebut, salah satunya yakni cuaca. Kondisi cuaca saat proses pengamatan selama empat minggu cenderung berfluktuatif dari panas hingga hujan lebat sehingga mempengaruhi kadar air dalam tanah  pada masing – masing lokasi (Lavelle,  1999).



    Tabel 1.2 Pengukuran Faktor Abiotik
    Lokasi
    Faktor Fisik
    Suhu Tanah (0C)
    pH
    Kelembaban Tanah (%)
    Vegetasi
    32
    7,1
    20
    Non Vegetasi
    35
    7,2
    10








    Berdasarkan pada tabel 1.2 mengenai hasil pengukuran faktor abiotik di kedua lokasi yaitu pada area vegetasi dan non vegetasi maka hasil yang diperoleh data faktor abiotik yang meliputi suhu, pH, dan kelembaban tanah. Adapun tingkat keasaman (pH) pada dua lokasi memiliki hasil pengukuran yang relatif sama yaitu 7,1 dan 7,2 yang artinya hampir mendekati normal.
    Kemudian, jika dilihat pada pengukuran kelembaban tanah pada area vegetasi lebih tinggi yakni 20% sementara pada area non vegetasi sebesar 10%. Tingginya nilai kelembaban tanah di lokasi yang berada pada area vegetasi di dukung oleh suhu tanah yang rendah yaitu 32 0C dibandingkan dengan suhu tanah pada area non vegetasi yaitu sebesar 10%. Adanya perbedaan suhu ini disebabkan karena tanah yang berada pada area vegetasi terlindung oleh adanya tajuk pohon sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari secara langsung dan






    menjadikan kondisi tanah di bawahnya menjadi lebih lembab dan suhu lebih rendah. Lebar tajuk pohon membuat suhu udara maupun tanah pada ekosistem tersebut cenderung lebih sejuk dan lembab (Martius, 2003).

    KESIMPULAN
    Struktur penampang melintang tanah menunjukkan keadaan tanah yang berbeda – beda dengan karakteristik yang berbedaa. Proses dekomposisi ditandai dengan berkurangnya bobot massa serasah yang lama kelamaan terdegradasi. Faktor yang mempengaruhi dekomposisi diantaranya yakni kadar serasah, ukuran serasah, temperatur, kelembaban udara, organisme flora dan fauna mikro dan kandungan kimia dari serasah.





    UCAPAN TERIMA KASIH
    Saya mengucapkan terima kasih kepada Khoirul Hidayah, S.Si dan Dinda Rama Haribowo, S.Si selaku dosen mata kuliah praktikum ekologi terestrial, serta Meidi Yanto dan Apriyani Ekowati selaku asisten laboratorium mata kuliah praktikum ekologi terestrial. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Alfathan Luthfi, Fenti Maharani, Marita Yuni Fitriadi, Nuraini, dan Rizky Hastuti Purwaningsih yang telah membantu dalam praktikum ini.
    DAFTAR PUSTAKA
    Chapin, F. Stuart et al.  2000. Principles of
    Terrestrial Ecosystem Ecology. 2002. New York:Springer-Verlag.

    Lavelle, L. Brussaard and P. Hendrix. 1999
    Earthworm Management in Tropical
    Agroecosystems. CABI Publishing. UK.

    Madjid, Abdul. 2007. Bahan Organik Tanah.
    Universitas Sriwijaya. Palembang.

    Martius, C., H. Hofer, M.V.B. Garcia, J. Rombke
    W. Hanagarth. 2003. Litter fall, litter stocks
    and decomposition rates in rainforest and      agroforestry sites in Central Amazonia.          Nutrient Cycling in Agroecosystem 68: 154.

    Partaya. 2002. “Komunitas fauna tanah dan analisis
    bahan organik di TPA kota Semarang”. Seminar Nasional: Pengembangan Biologi Menjawab Tantangan Kemajuan IPTEK, tanggal 29 April 2002. Semarang: Universitas Negeri Semarang.






    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 11.08.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, EKOLOGI TERESTRIAL

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.