Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Senin, 28 Maret 2016

    ISOLASI MIKROORGANISME DARI UDARA

    Laporan Praktikum Mikrobiologi Dasar
    ISOLASI MIKROORGANISME DARI UDARA
    Aditya Rizky Ramadhan, Ratna Lestyana Dewi, Ria Suci Anisa, Udi Rafiudin, Wuliani Amalia
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    Fakultas Sains dan Teknologi
    Program Studi Biologi
    Januari 2016

    Abstract
    Mikroorganisme seperti bakteri dan kapang maupun khamir hidup di sekitar kita, seperti di udara, air, tanah, makanan atau pada feses. Mikroorganisme sangat penting untuk diketahui keuntungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk mengamati keanekaragaman mikroorganisme pada bahan lingkungan berupa udara, mengetahui aktivitas biokimia pada mikroorganisme sehingga dapat diketahui sifat-sifat yang khas dari mikroorganisme dan pengaruh faktor lingkungan terhadap kultivasi mikroorganisme. Langkah pertama untuk mengisolasi mikroorganisme pada lingkungannya dilakukan dengan menggunakan medium Potato Dextrose Agar (PDA) untuk mengisolasi kapang dan khamir, dan medium Nutrient Agar (NA) untuk media isolasi bakteri. Setiap bakteri memiliki sifat khas untuk merespon reaksi kimia dengan melakukan uji biokimia dan pengaruh faktor lingkungan terhadap kultivasi mikroorganisme. Hasil menunjukkan bahwa bakteri yang telah teridentifikasi merupakan bakteri dari Genus Micrococcus spp., Streptococcus spp., Escherichia coli, Enterococcus sp. dan Bacillus sp.

    Kata kunci : Bakteri, Potato Dextrose Agar, Kapang, Uji biokimia, Isolasi,

     



    1.       Pendahuluan


                Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang berukuran sangat kecil yaitu dalam skala micrometer atau micron (μ). Untuk mempelajarinya diperlukan cara tertentu yaitu observasi mikroskopik dan biakan atau pure culture. Termasuk dalam golongan mikroorganisme adalah bakteri (Eubacteria, Archaebacteria), fungi (kapang, dan khamir), protozoa, alga dan virus serta beberapa macam cacing (helmints). Ilmu yang mempelajari mikroorganisme disebut mikrobiologi (Firmansyah, 2013).
                Mikroorganisme terdapat di berbagai lingkungan yaitu di air, udara, tanah, bahkan di dalam tubuh organisme hidup lain seperti tumbuhan, hewan, dan manusia di lingkungan alaminya mikroorganisme jarang terdapat sebagai biakan murni tetapi hidup bersama dengan berbagai kelompok atau spesies mikroorganisme lain. Teknik-teknik untuk memperoleh biakan murni dari organisme dalam hal keperluan identifikasi spesies mikroba dilakukan dengan isolasi mikroorganisme. Isolasi mikroorganisme dari lingkungan dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan pada media NA (Nutrient Agar) untuk medium bakteri, serta PDA (Potato Dextrose Agar) untuk medium kapang atau khamir (Firmansyah, 2013).
                Mikroorganisme memerlukan energi untuk kelangsungan hidupnya. Energi ini dapat diperoleh dari lingkungan sekitarnya dalam bentuk senyawa kimia tertentu yang dapat diuraikan. Kemampuan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa tertentu dan mensintesis senyawa yang baru merupakan sifat khas masing-masing mikroorganisme. Semua aktivitas metabolisme tersebut berlangsung dengan bantuan dengan enzim tertentu. Hasil reaksi metabolisme ini hampir semuanya dapa diamati bahkan dapt diukur kekuatannya. Reaksi metabolisme ini berbeda untuk setiap mikroorganisme, sehingga hal ini merupakan sifat yang sangat penting untuk mengidentifikasi mikroorganisme (Rahayu, 2015).
                Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba secara optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yang menunjukkan respon yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar, 1986).
                Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat bakteri hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia.          Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993).
                Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4, bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian, dikarenakan banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau basa (Volk,1993).
                Selain bakteri, kapang dan khamir juga termasuk kedalam mikroorganisme. Kapang dan khamir merupakan kelompok mikroorganisme yang termasuk filum Fungi. Kehadiran mikroorganisme di lingkungan dapat bersifat menguntungkan, karena kemampuannya dalam merombak senyawa organik komplek menjadi senyawa sederhana yang sangat dibutuhkan tanaman sebagai sumber nutriennya. Fungsi lain dari fungi adalah menghasilkan berbagai jenis enzim, vitamin, hormon tumbuh, asam-asam organik dan antibiotik. Sementara itu dari segi merugikan, kehadiran fungi ini dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang membahayakan bagi organisme lain terutama manusia (Noverita, 2009).
                Mikroorganisme terdapat disekitar kita, seperti di udara, tanah maupun air. Oleh karena itu untuk mengetahui keanekaragamannya dilakukan isolasi mikroorganisme dari udara, serta dilakukan pengamatan uji aktivitas biokimia yaitu uji hidrolisis lemak, polisakarida, dan protein, uji indol, uji produksi H2S, uji Methyl Red (MR) , uji Voges-Proskauer (VP), uji asetat, uji katalase dan uji Oksidasi dan Fermentasi (OF) serta dilakukan pengaruh faktor lingkungan berupa uji pengaruh tekanan osmotik, dan pengaruh pH terhadap kultivasi mikroorganisme untuk mengidentifikasi jenis dari suatu mikroorganisme seperti bakteri dan kapang pada pengamatan ini.
                Pengamatan ini akan mengidentifikasi bakteri dan kapang. Identifikasi genus dari suatu bakteri memerlukan karakter-karakter utama dari bakteri yaitu morfologi sel (bentuk sel dan susunan sel), uji biokimia dan uji pengaruh faktor lingkungan terhadap kultivasi mikroorganisme.

    2.                  Metodologi
    Alat yang digunakan pada praktikum  isoloasi mikroorganisme dari udara antara lain cawan petri , pipet tetes, rak tabung reaksi, inkubator, jarum ose, pembakar bunsen, Laminar Air Flow (LAF), pinset, tabung reaksi, penangas air, gelas objek, autoklaf, dan  cover glass.
                Bahan yang digunakan pada praktikum  isolasi mikroorganisme dari udara antara lain biakan bakteri uji hasil isolasi mikroorganisme, alkohol 70%, spiritus, minyak emersi, NaCL 0,5%, NaCL 5%, NaCL 10%, NaCL 15%, Glukosa 0,5%, Glukosa 5%, Glukosa 10%, Glukosa 15%, media Malt Extract Agar (MEA),  medium  Nutrient Agar (NA), medium Potato Dextrose Agar (PDA), Paraffin Oil, larutan H202 3% , medium Kligler Iron Agar (KIA), medium cair Triptopan 1%, reagen Kovac, Larutan Iodine, medium Starch Agar (SA), medium Tributyrin Agar (TA), Skim Milk Agar (SKM), medium  Methyl Red-Voges Proskauer (MR-VP), medium Simmon Citrate Agar (SCA), medium Hugh & Leifson’s (OF), Metil-Red, Barrit A, Barrit B dan Alumunium  Foil .
    Isolasi Mikroorganisme dari Udara
                Cawan petri berisi Nutrient Agar (NA) diletakkan dalam keadaan terbuka (tanpa tutup) selama 5 (lima) menit di Laboratorium Biologi Lantai 4 Pusat Laboratotium Terpadu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian cawan petri ditutup kembali, dan diinkubasi  selama 24-48jam.

    Pemurnian Bakteri Simbion
                Isolat bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi selanjutnya dimurnikan dengan cara diinokalisikan dengan ose ke dalam medium Nutrient Agar (NA) untuk bakteri, dan medium Potato Dextrose Agar (PDA) untuk kapang atau khamir hingga didapat koloni murni yang terpisah.

    Pengamatan Morfologi
                Pengamatan morfologi koloni bakteri dilakukan dengan melihat warna koloni, bentuk koloni, bentuk tepi koloni, elevasi (penonjolan), tekstur, dan bentuk sel. Selanjutnya pengamatan morfologi kapang atau khamir dilakukan dengan melihat warna koloni, ada atau tidaknya hifa.

    Uji Aktivitas Biokimia dari Mikroorganisme
    a.                  Uji Hidrolisis Polisakarida, Protein, dan       Lemak
    Diinokulasi biakan bakteri hasil isolasi kedalam tiga tabung berisi medium Starch Agar (SA) untuk uji polisakarida, medium  Skim Milk Agar (SKM) untuk uji protein, medium Tributyrin Agar (TA) untuk uji lemak, selanjutnya diinkubasi pada suhu 30oC-35oC selama 48 jam. Ditambahkan larutan iodine pada tabung berisi medium Starch Agar (SA) dan biakan bakteri hasil isolasi untuk uji polisakarida, kemudian diamati zona bening pada ketiga tabung.

    b.                  Uji  Produksi H2S
    Bakteri  diinokulasikan ke dalam 1 (satu) buah tabung yang berisi media tegak Kliger Iron Agar (KIA). Diinokulasikan dengan cara digoreskan kemudian ditusukkan dengan Jarum Ose Lurus, selanjutnya diinkubasikan selama 7 (tujuh) hari dalam suhu 30 oC - 35 oC. Diperhatikan munculnya warna kekuningan diatas permukaan medium dan dipermukaan bawah medium berwarna hitam  mendadakan hasil yang positif.

    c.                   Uji Produksi Indol
    Bakteri diinokulasikan ke dalam 1( satu)  buah tabung reaksi berisi Triptopan 1%. Diinkubasikan selama 2 (dua) hari pada suhu 30 oC - 35 oC. Ditambahkan 1 mL reagen Kovac ke dalam setiap tabung dan dikocok perlahan agar reagen terkumpul di permukaan. Terbentuknya Indol ditandai dengan adanya cincin warna merah pada permukaan medium.

    d.                  Uji Methyl Red-Voges Proskauer (MR-          VP)
    Bakteri diinokulasikan ke dalam medium Methyl Red (MR) dan dinkubasikan selama 48 jam dalam suhu 30 oC, kemudian ditambahkan 5 (lima) tetes Metil-Red. Untuk uji Voges Proskauer (VP), bakteri diinokulasikan ke dalam medium VP dan diinkubasi selama 48 jam dalam suhu 30 oC, kemudian ditambahkan 15 tetes Barrit A dan Barrit B. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya warna merah dan negatif berwarna kuning.

    e.                   Uji Oksidasi dan Fermentasi (Uji OF)
    Bakteri diinokulasikan ke dalam 1 (satu) buah seri medium OF, kemudain diinokulasikan dengan cara ditusukkan menggunakan ose dan ditambahkan Parrafin Oil setinggi 1 cm. Diinkubasikan dalam suhu 37 oC selama 7 hari. hasil positif ditunjukkan dengan  adanya warna hijau kekuningan pada tabung dan negatif ditunjukkan  dengan adanya warna biru.

    f.                    Uji Hidrolisis Asam Sitrat
    Bakteri diinokulasikan dengan ose ke dalam medium  Simmon Citrate Agar, kemudian diinokulasikan dengan cara digoreskan dan ditusukkan kedalam medium, selanjutnya diinkubasikan selama 3 (tiga) hingga 5 (lima) hari. Warna biru menunjukkan reaksi positif dan warna hijau menunjukkan reaksi negatif.

    g.                  Uji Katalase
    Biakan bakteri diambil dari stok kultur bakteri diambill sebanyak satu ose (ose bulat). Kemudian ditambahkan 2-3 tetes reagen H2O2 pada preparat. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuk gelembung gas, dan hasil negatif tidak terbentuk gelembung gas.

    Uji Pengaruh Lingkungan Terhadap Kultivasi Mikroorganisme
    a.                  Uji Pengaruh Tekanan Osmosa
    Dibuat  2 (dua) buah medium NaCl (Natrium Klorida) agar  dengan ketentuan berupa : cawan petri 1 berisi 0,5% NaCl, cawan petri 2 berisi 5% NaCl, cawan petri 3 berisi 10% NaCl, dan cawan petri 4 berisi 15% NaCl. Dibuat pula 2 (dua) buah medium Glukosa agar  dengan ketentuan berupa : cawan petri 1 berisi 0,5% Glukosa, cawan petri 2 berisi Glukosa 5%, cawan petri 3 berisi Glukosa 10% dan cawan petri 4 berisi Glukosa 15%. Setelah padat, dibagi agar cawan menjadi 4 (empat) bagian sama besar dengan spidol. Bakteri dan kapang atau khamir dari stok kultur diinokulasikan sebanyak satu ose kedalam masing-masing agar cawan, kemudian diinkubasikan selama 2 hari pada suhu 30oC.

    b.                  Uji Pengaruh pH
                Disiapkan 3 (tiga) buah agar cawan yang dibuat dari  Malt Extract Agar (MEA) dengan pH masing-masing yaitu  5, 7 dan 9. Cawan dibagi menjadi  6 (enam) sektor. Pada sektor 1,2,3  bakteri diinokulasikan dan sektor 4,5,6 kapang diinokulasikan, selanjutnya diinkubasi selama 2 hingga 3 hari pada suhu 37 oC.




    3.    Hasil dan Pembahasan

    Tabel 1. Hasil isolasi bakteri di Laboratorium Biologi, Pusat Laboratorium Terpadu, UIN Jakarta
    Kelompok
    Lokasi
    Nama Bakteri


    Morfologi


    Bentuk
    Diameter
    Warna
    Bentuk
    Tepi
    Elevasi
    Tekstur
    Sel
    Koloni (cm)
    1
    Laboratorium
    Sp.1
    Kuning
    Irregular
    Lobate
    Umbonate
    Kasar
    Coccus
    0,5

    Mikrobiologi
    Sp.2
    Kuning
    Circular
    Entire
    Convex
    Licin
    Coccus
    0,2
    2
    Laboratorium
    Sp.1
    Kuning
    Circular
    Entire
    Convex
    Licin
    Coccus
    0,2

    Fisiologi
    Sp.2
    Putih
    Irregular
    Lobate
    Umbonate
    Licin
    Basil
    1,4
    3
    Laboratorium
    Sp.1
    Putih
    Circular
    Undulate
    Raised
    Licin
    Basil
    0,2

    Biologi Dasar
    (tidak ditemukan)
    4
    Laboratorium
    Sp.1
    Kuning
    Circular
    Entire
    Convex
    Halus
    Coccus
    0,8

    Ekologi Dasar
    Sp.2
    Putih
    Circular
    Entire
    Flat
    Halus
    Basil
    0,2
    5
    Lobby Lantai 4
    Sp.1
    Kuning
    Circular
    Entire
    Convex
    Halus
    Coccus
    0,4

    PLT
    Sp.2
    Putih
    Irregular
    Undulate
    Flat
    Halus
    Coccus
    0,2
    6
    Mushalla Lantai 4
    Sp.1
    Putih
    Irregular
    Undulate
    Umbonate
    Kasar
    Coccus
    0,1

    PLT
    Sp.2
    Putih
    Circular
    Entire
    Raised
    Kasar
    Basil
    0,4


               
    Identifikasi dilakukan untuk mengetahui spesies bakteri wild tipe yang diperoleh untuk selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan. Selain itu, proses tersebut juga berfungsi untuk mengecek ulang (uji konfirmasi) isolat yang telah diketahui spesies dan karakternya, sehingga dapat
    memperkecil kesalahan pada hasil uji yang dilakukan. Identifikasi dan klasifikasi mikroorganisme haruslah diketahui terlebih dahulu karakteristik atau ciri-ciri mikroorganisme (Mulyati 2013). Dengan kata lain, setiap kemungkinan dapat terjadi. Dengan melakukan


    pendekatan secara konvensional mau pun modern, kita dapat memastikan spesies yang didapatkan.
                Proses identifikasi bakteri didasarkan pada berbagai macam sifat bakteri seperti sifat biokimia, morfologi koloni, dan morfologi selnya. Pengamatan dan pencatatan ciri morfologi serta ciri lainnya merupakan tahap pendahuluan yang penting sebelum identifikasi (Mulyati, 2013). Salah satu tanda suatu kultur dapat dikatakan murni atau tidak adalah dengan dilihat keragaman koloni yang ada. Suatu kultur biakkan bakteri dikatakan murni apabila bentuk koloni, warna koloni, morfologi bakteri, hingga hasil uji biokimianya adalah sama. Namun, pada percobaan ini tidak diperlukan koreksi apakah kultur yang didapat berupa kultur murni atau tidak.
                Teknik isolasi dengan membiarkan media terbuka di udara bebas memungkinkan bakteri dan kapang menempel pada media tersebut. Dari sekian banyak koloni bakteri dan kapang yang menempel, dipilih 2 (dua) jenis koloni yang berukuran paling besar dan 1 (jenis) untuk kapang dengan tingkat pertumbuhan terbesar pada media, sehingga didapatkan 11 (sebelas) koloni bakteri dan 5 (lima) jenis kapang dan 1 (satu) jenis khamir yang masuk ke tahap identifikasi spesies.
                Berdasarkan data yang didapat, diketahui bahwa warna-warna koloni yang muncul hanya dua, yaitu kuning dan putih. Untuk koloni berwarna kuning, bakteri yang dimungkinkan berasal dari genus Aeromonas sp., Bacillus sp., Pseudomonas sp., Micrococcus sp., Streptococcus sp. dan Neisseria sp., sedangkan untuk koloni berwarna putih, bakteri yang dimungkinkan berasal dari genus Escherichia sp., Acinetobacter sp., Staphylococcus sp. dan Plesiomonas sp. (repository.usu.ac.id). Untuk kapang, kemungkinan terbesar berasal dari genus Aspergillus sp. dan Rhizopus sp. dengan ciri-ciri berupa hifa yang berwarna kuning kecoklatan hingga hitam (Firmansyah, 2013) dan untuk khamir masih cukup sulit untuk mencari dugaan terkuat mengenai genus khamir tersebut. Namun, untuk mengetahui lebih lanjut hingga tingkat spesies diperlukan uji lainnya. Salah satu uji tersebut adalah uji biokimia pada bakteri.




    Tabel 2. Data hasil uji biokimia pada bakteri
    Nama Mikroba
    Hasil Uji
    Polisakarida
    Protein
    Lemak
    Indol
    MR
    VP
    OF
    Katalase
    Asam Sitrat
    H2S
    Warna
    Retakan
    Sp. 1
    Positif
    Kontam
    Positif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Positif
    Kuning kehitaman
    Ada
    Sp. 2
    Positif
    Kontam
    Positif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Positif
    Negatif
    Kuning
    Tidak
    Sp. 1
    Positif
    Tidak Tumbuh
    Positif
    Negatif
    Positif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Kuning
    Tidak
    Sp. 1
    Positif
    Tidak Tumbuh
    Positif
    Negatif
    Positif
    Positif
    Negatif
    Positif
    Negatif
    Kuning
    Ada
    Sp. 1
    Positif
    Tidak Tumbuh
    Positif
    Negatif
    Negatif
    Positif
    Negatif
    Positif
    Negatif
    Kuning
    Ada
    Sp. 1
    Positif
    Tidak Tumbuh
    Positif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Negatif
    Positif
    Kuning
    Tidak



    Setiap mikroorganisme memiliki sifat yang khas dalam menguraikan suatu senyawa menjadi senyawa yang baru. Uji biokimia bakteri merupakan suatu cara atau perlakuan yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendeterminasi suatu biakan murni bakteri hasil isolasi melalui sifat-sifat fisiologinya (Pelczar, 1986).
                Uji fisiologis merupakan tahapan lanjutan yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu bakteri (Darmayasa, 2008). Dilakukan serangkaian uji seperti uji katalase, uji hidrolisis lemak, polisakarida dan protein, uji fermentasi karbohidrat, uji produksi indol, uji produksi H2S, uji MR-VP dan uji OF. Uji Katalase bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menguari Hidrogen peroksida (H2O2) (Yulvizar, 2013). Uji hidrolisis lemak, polisakarida dan protein untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menghidrolisis dan memanfaatkan molekul lemak, protein dan polisakarida (Wulandari, 2014). Uji fermentasi karbohidrat dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang mampu memfermentasikan karbohidrat. Karboidrat atau gula dapat difermentasikan menjadi bermacam-macam zat, seperti alkohol, asam, dan gas, tergantung pada macamnya gula dan spesies bakteri. Terbentuknya asam pada uji ini ditandai dengan berubahnya warna indikator dalam medium (Ferdiaz, 1992). Uji Indol dikatakan positif ditandai dengan terbentuknya warna merah pada medium yang menunjukkan bakteri memiliki enzim triptonase yang dapat menghidrolisis asam amino jenis triptofan yang memiliki gugus samping indol sehingga indol akan bereaksi dengan reagen uji dan membentuk indol yang berwarna merah (Ferdiaz, 1992). Uji Produksi H2S untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam memecah gugus protein dan memproduksi H2S. Uji Methyl Red (MR) sendiri digunakan untuk menentukan adanya produk asam campuran dari fermentasi glukosa melalui jalur fermentasi asam campuran yang umumnya berupa asam laktat, asam asetat, asam format, dan asam suksinat, sedangkan uji Voges-Proskauer (VP) digunakan untuk menentukan kemampuan bakteri tersebut untuk menghasilkan produk akhir yang netral (asetilmetilkarbinol) dari fermentasi glukosa melalui jalur butanediol (Muthmainnah, 2013). Uji Oksidasi Fermentasi akan mendeterminasi bakteri yang bersifat oksidatif dengan yang bersifat fermentif. Bakteri oksidatif hanya akan menghasilkan produksi asam bila terkena udara dan tidak atau sedikit sekali menghasilkan produk asam pada kondisi tanpa udara. Sementara, bakteri fermentif baik tanpa udara atau pun udara akan tetap menghasilkan produk fermentasi berupa asam.
                      Dari data yang didapat, setiap bakteri yang diujikan memberikan respon yang berbeda-beda pada tiap uji biokimia. Artinya, diduga kuat bahwa setiap bakteri yang didapat merupakan spesies yang berbeda-beda, meskipun dimungkinkan berasal dari genus yang sama. Salah satu uji yaitu uji katalase dapat membedakan antara genus Staphylococcus dengan Streptococcus. Kelompok Streptococcus memberikan reaksi negatif, sedangkan Staphylococcus memberikan reaksi positif pada uji katalase (Karimela, 2013).


    Tabel 3. Hasil pengujian bakteri dan kapang terhadap tekanan osmosis
    Kelompok
    Mikroorganisme
    konsentarsi Glukosa (%)
    konsentrasi Nacl (%)
    0,5
    5
    10
    15
    0,5
    5
    10
    15
    1
    Bakteri Sp.1
    -
    +
    -
    -
    +
    +
    -
    -
    2
    Bakteri Sp. 2
    +
    -
    +
    -
    +
    -
    +
    -
    3
    Bakteri Sp. 1
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    -
    4
    Bakteri Sp. 1
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    -
    5
    Bakteri Sp. 1
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    6
    Bakteri SP.1
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    1
    Kapang
    +
    +
    -
    +
    +
    +
    +
    +
    2
    Kapang
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    3
    Kapang
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    4
    Kapang
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    5
    Kapang
    +
    +
    +
    +
    -
    +
    +
    -
    6
    Kapang
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    +
    -
    Keterangan : (+) menandakan adanya pertumbuhan
             (-)menandakan tidak ada pertumbuhan





    Tabel 4. Hasil pengujian bakteri dan kapang tehadap pH.
    Kelompok
    Mikroorganisme
    Ph
    5
    7
    9
    1
    Bakteri
    ++
    +++
    +
    2
    Bakteri
    ++
    +++
    +
    3
    Bakteri
    ++
    +++
    +
    4
    Kapang
    ++
    +++
    +
    5
    kapang
    ++
    +++
    +
    6
    Kapang
    ++
    +++
    +
                           
    Keterangan: (+++) menunjukkan banyak pertumbuhan
             (++) menunjukan pertumbuhan sedang
              (+) menunjukkan pertumbuhan yang sedikit



    Pertumbuhan pada mikroorganisme dapat diartikan sebagai pertumbuhan jumlah koloni, dalam pertumbuhan setiap mikroorganisme membutuhkan nutrisi yang mencukupi dari lingkungan hidup yang mendukung dalam proses pertumbuhan tersebut. Kebutuhan aspek fisik pada lingkungan dapat mencakup suhu, pH, cahaya, UV, dan tekanan osmosis (Suharjono, 2006). Perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Namun, beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Jika suatu mikroorganisme mendapatkan nutrien dan menempati lingkungan yang sama, maka pertumbuhan yang dialami pada mikroorganisme akan optimum. Berdasarkan pada hasil uji pengaruh faktor lingkungan terhadap kultivasi mikroorganisme telah dilakukan uji tekanan osmotik dan uji pengaruh pH. Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air, dan karena adanya perbedaan tekanan osmosis di dalam dan di luar sel yang akan menyebabkan gangguan pada sistem metabolisme. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri maupun kapang/khamir yaitu medium yang isotonik terhadap isi sel (Dwidjoseputro, 1994).
                Berdasarkan pada hasil pengamatan dapat dilihat bahwa pada saat konsentrasi glukosa 0,5% semua bakteri dan kapang mengalami pertumbuhan, kecuali pada bakteri kelompok 1 tidak mengalami pertumbuhan. Tidak hanya pada konsentrasi glukosa 0,5% yang tidak mengalami pertumbuhan, akan tetapi pada glukosa 10%, 15%, NaCl 15%. Sedangkan, hanya terjadi pertumbuhan pada glukosa 5%, NaCl 0,5%, dan NaCl 5%. Sehingga dapat diketahui bahwa bakteri kelompok 1 merupakan bateri yang tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan tekanan osmosis. Kemudian, pada bakteri kelompok 3,4,5, dan 6 pada kapang/khamir semua kelompok dapat mengalami proses pertumbuhan pada medium glukosa dengan konsentrasi 15. Hal ini menunjukan bahwa bakteri, kapang/khamir yang mengalami pertumbuhan pada media tersebut termasuk ke dalam kelompok osmofil. Mikroorganisme osmofil merupakan mikroorganisme yang dapat tumbuh pada konsentrasi gula yang tinggi (Suharjono, 2006).
    Selanjutnya, pada medium NaCl 15% tidak ada yang mengalami pertumbuhan, sedangkan pada kapang.khamir kelompok 1 dan 4 mengalami pertumbuhan. Hal ini menunjukan bahwa kapang/khamir yang tumbuh tersebut tergolong dalam kategori golongan halofilik, yang merupakan mikroorganisme yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi, dan dengan konsentrasi yang tinggi tidak mengalami proses metabolisme bakteri. Bakteri halofilik memiliki membran purple bilayer, dinding sel terdiri dari murein, sehingga mampu bertahan dengan adanya ion Natrium (Dwidjoseputro, 2005)
    Setiap mikroorganisme memiliki pH maksimum, minimum, dan optimum untuk pertumbuhannya. Berdasarkan pada perbedaan daerah pH untuk pertumbuhannya adalah asidofil untuk mikroorganisme yang mampu tumbuh pada pH optimum pada pH asam. Alkalofil untuk mikroorganisme yang dapat tumbuh secara optimum pada daerah pH basa, dan Neutrofil  untuk mikroorganisme yang dapat tumbuh secara optimum pada daerah pH netral (Suharjono, 2006).
    Berdasarkan pada hasil uji mengenai faktor lingkungan pH diketahui bahwa hasil pertumbuhan paling banyak terjadi pada pH yang netral (pH=7) ketika diujikan baik dari bakteri maupun kapanh/khamir. Hal ini dikarenakan pada keduanya dapat tumbuh secara baik pada kondisi yang tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa. Bila pH lingkungan terlalu asam atau basa maka akan mengakibatkan terhambatnya aktivasi enzim sehingga mikroorganisme tersebut tidak mampu melakukan proses metabolismenya secara baik. Pada umumnya, kisaran optimum pertumbuhan mikroorganisme dalam pH adalah 5,5-8,0 atau yang termasuk ke dalam tipe mesofil (neutrofil). Pertumbuhan tertinggi kedua yaitu pada pH 5 dan biasanya pertumbuhan ini didominasi oleh kapang/khamir. Berdasarkan pada literatur khamir memiliki pH optimum pada 4,0-4,5 sedangkan pada jamur pada pH yang lebih luas (Entijang, 2003).

    Analisis spesies bakteri
                      Untuk Sp. 1 pada Kelompok 1 dengan ciri-ciri koloni dengan warna koloni kuning, bentuk irregular, tepi lobate, elevasi umbonate, tekstur kasar dan dengan bentuk sel berupa kokus, dugaan terkuat adalah Streptococcus sp.. Meskipun beberapa genus Streptococcus sp. memiliki hasil uji biokimia yang berbeda, namun secara kesuluruhan cukup mirip. Menurut Rahayu (2015), ciri-ciri bakteri Streptococcus sp. adalah memiliki bentuk koloni yang halus, membulat, cembung dan transparan dengan diameter koloni antara 0,5 hingga 1 cm. Hasil uji biokimia juga menunjukkan bahwa bakteri Streptococcus sp. tidak mampu mengatalisis peroksida (H2O2), tidak menghasilkan indol, namun mampu menghidrolisis polisakarida. Sebagian Streptococcus sp. memberikan respon yang negatif pada uji VP, Sitrat dan Indol, namun sebagian memberikan respon positif pada uji MR. Pendalaman dengan uji molekuler perlu dilakukan untuk lebih mendeterminasi hingga tingkat spesies.
                      Untuk Sp. 2 pada kelompok 2 dengan ciri-ciri koloni dengan warna koloni putih, bentuk koloni circular, tepi koloni entire, elevasi koloni convex, tekstur yang licin, bentuk bakteri berupa basil dengan diameter koloni adalah 1,4 mm. Koloni berwarna putih memiliki indikasi bahwa bakteri tersebut berasal dari genus Escherichia sp., Acinetobacter sp., dan Staphylococcus sp.. Escherichia coli  diduga kuat karena memiliki ciri-ciri berupa hasil katalase yang positif, bentuk bakteri berupa basil, diameter koloni berkisar antara 1,1 hingga 1,5 cm, mampu menghidrolisis polisakarida, tidak menghasilkan senyawa indol, dan negati pada uji MR-VP (repository.usu.ac.id). Dari kriteria bakteri yang berasal dari literatur, semua kriteria sama dengan hasil uji yang dilakukan, sehingga dapat dikatakan bahwa bakteri pada Sp. 2 kelompok 2 merupakan bakteri Escherichia coli.
                Sp. 1 pada kelompok 3 memiliki ciri-ciri berupa warna koloni putih, bentuk koloni circular, tepi koloni undulate, elevasi koloni raised, tekstur licin, bakteri berbentuk basil dengan diameter koloni sebesar 0,2 cm. Koloni berwarna putih dapat diduga merupakan bakteri dari genus Escherichia sp., Acinetobacter sp., Pleisomonas sp. dan Staphylococcus sp.. Bacillus sp. diduga kuat sebagai bakteri pada koloni ini. Bacillus sp. memiliki ciri-ciri seperti bentuk sel yang basil, diameter koloni 0,1 hingga 0,3 cm, warna koloni putih, menunjukkan hasil negatif pada uji katalase, pembentukan H2S dan sitrat (repository.usu.ac.id). Bakteri ini diduga bakteri basil yang berbeda karena memiliki warna putih pada koloninya, yang berlawanan dengan literatur bahwa bakteri berasal dari genus Bacillus sp. Untuk mengidentifikasi hingga tingkat spesies, diperlukan uji molekuler lebih lanjut.
                Sp. 1 pada kelompok 4 memiliki ciri-ciri berupa warna koloni kuning, bentuk circular, tepi entire, elevasi koloni convex, tekstur halus, bentuk bakteri berupa kokus dengan diameter koloni adalah 0,8 cm. Koloni berwarna kuning diduga berasal dari genus Bacillus sp., Streptococcus sp., Micrococcus sp., Neisseria sp. dan Aeromonas sp.. Micrococcus sp. diduga kuat karena hasil isolasi menunjukkan bahwa Micrococcus sp. memiliki  diameter koloni antara 0,2 hingga 2 cm dan memiliki warna koloni kuning. Uji biokimia dari Micrococcus sp. adalah positif pada uji katalase, indol, MR-VP dan uji produksi H2S (repository.usu.ac.id).
                Sp. 1 pada kelompok 5 memiliki ciri yang sama dengan bakteri pada kelompok 4. Perbedaannya pada hasil uji Methyl Red (MR) dan diameter koloni. Hasil uji MR menunjukkan negatif, yang artinya bakteri ini tidak mampu menghasilkan produk fermentasi asam campuran.  Kemungkinan besar bahwa bakteri ini sama dengan bakteri pada kelompok 4 yaitu Micrococcus sp., hanya saja dari spesies yang berbeda.
                Sp. 1 pada kelompok 6 memiliki ciri berupa warna koloni putih, bentuk koloni irreguler, tepi koloni undulate, elevasi koloni umbonate, tekstur kasar, bentuk sel kokus dan diameter koloni 0,1 cm. Diduga kuat spesies ini berasal dari genus Enterococcuss sp., meskipun bentuk koloni sama dengan Streptococcus sp. namun bentuk morfologi yang berbeda telah mendeterminasi atau membedakan antara kedua spesies tersebut

    KESIMPULAN
                Isolasi mikroorganisme dari lingkungan dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan pada media NA dalam keadaan terbuka yang menjadi sumber isolasi. Mikroorganisme dapat diketahui aktivitas biokimianya dengan melakukan berbagai uji diantaranya yaitu uji hidrolisis pati, protein, lemak, uji produksi indol, uji MR-VP, uji OF, uji katalase, uji asam sitrat dan uji H2S. Mikroorganisme membutuhkan nutrisi yang mencukupi dari lingkungan hidup yang mendukung dalam proses pertumbuhan tersebut. Kebutuhan aspek fisik pada lingkungan dapat mencakup suhu, pH, cahaya, UV, dan tekanan osmosis.

    DAFTAR PUSTAKA

    Barnett, H. L. dan Hunter, B.B. 1998. Ilustrated Genera of Imperfect Fungi Fourth Edition. APS Pres. America. America.

    Brooks, dkk., 1994. Mikrobiologi Kedokteran            Edisi    2. EGC. Jakarta.

    Darmayasa. Isolasi dan Identifikasi Bakteri    Pendegradasi Lipid (Lemak) Pada     Beberapa Tempat             Pembuanngan             Sampah dan Estruasi DAM Denpasar.           Jurnal Bumi Lestari 8:122-127.

    Dwidjoseputro, 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi.      Djambaran. Jakarta.

    Entijang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi.       PT Citr Aditya Bakti. Bandung.

    Ferdiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan.         Gramedia. Jakarta.

    Firmansyah, E. 2013. Mikrobiologi Umum:   Kapang dan Khamir. Universitas       Brawijaya. Malang.

    Hadioetomo, R. S. 1993. Teknik dan Prosedur            Dasar  Laboratorium Mikrobiologi.    Gramedia. Jakarta.

    Holt JG, Krieg NR, Sneath PHA, Staley JT, dan          William ST. 1994. Bergey’s Manual of             Determinative Bacteriology. Lippicolt             William and Wilkins, New       York.

    Karimela, E. Frans, I. Agnes, A. 2013.            Staphylococcus sp. Pada Ikan Layang            (Decapterus ruselii) Asap Pinekuhe             Produk Khas Sangihe. Jurnal Media    Teknologi Hasil Perikanan Vol. 1, No. 2,             Agustus.

    Lodder J. 1970. The yeast. A taxonomic study.NorthHolland Publishing Company.

    Mulyati, S, Dede. Iis, D. Sri, R. 2013. Modul Mikrobiologi: Metode Identifikasi       Mikroba           Prokariot             dan      Virus. IAIN Syekh       Nurjati. Cirebon.

    Muthmainnah, H. 2014. Isolasi dan Karakterisasi      Bakteri Probiotik Dari Saluran            Pencernaan     Ayam Kampung (Gallus        domesticus).     Jurusan            Biologi Universitas       Hasanudin. Makasar.

    Noverita. 2009. Identifikasi Kapang dan Khamir Penyebab Penyakit Manusia pada Sumber Air Minum Penduduk pada Sungai Ciliwung dan Sumber Air Sekitarnya. Volume 2

    Pelczar, M. J. dan Chan, E.C.S. 1986. Dasar   Dasar  Mikrobiologi. UI-Press. Jakarta.

    Rahayu, S. 2015. Deteksi Streptococcus          agalactiae        Penyebab Mastitis       Subklinis Pada Sapi             Perah Di          Kecamatan Cendana   Kabupaten       Enrekang. Program Studi         Kedokteran Hewan Universitas       Hasanudin.      Makasar.

    Samson R.A., Hoekstra E.S. dan Van Oorschot           C.A. 1981. Introduction To Food- Borde        Fungi. Centraalbureau Voor   Schimmelcultures.

    Suharjono. 2006. Mikrobiologi. Universitas    Brawijaya Press. Malang

    Suryani Y, Astuti, Oktavia B, dan Umniyati.            2010.   Isolasi dan Karakterisasi         Bakteri Asam Laktat            dari Limbah    Kotoran Ayam Sebagai Agensi           Probiotik dan Enzim Kolesterol          Reduktase. Prosiding Seminar       Nasional          Biologi. 138-147.

    Suryawirya, U. 1993. Mikrobiologi Air. Alumni.         Bandung.

    Volk &Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid1.  Erlangga. Jakarta.

    Wulandari, D, Yanuarita. 2014. Uji Fisiologi Bakteri. Pendidikan Biologi Program   Magister Pascasarjana Universitas       Negeri Malang. Malang.


    Yulvizar, C. 2013. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Probiotik pada Rastrelliger sp. Jurnal Biospesies







    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 08.41.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: MIKROBIOLOGI

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.