Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Selasa, 14 Juni 2016

    NUTRISI DAN HORMON TUMBUHAN


    Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan
    NUTRISI DAN HORMON TUMBUHAN
    Muhammad Ali Subhan, Ratna Lestyana Dewi
    Program Studi Biologi
    Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    Juni 2016

    Abstrak
    Unsur hara merupakan zat essensial bagi tanaman yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisiologis tanaman. Unsur hara terdiri atas unsur hara makro dan unsur hara mikro. Auksin merupakan senyawa yang zat digunakan sebagai perangsang dalam pertumbuhan dan perkembangan. Tujuan dari kedua praktikum ini adalah mengetahui efek kekurangan nutrisi tertentu pda tumbuhan yang dijadikan sampel percobaan, serta mempelajari pengaruh auksin terhadap pembentukan akar, dan mengamati pengaruh auksin terhadap pertumbuhan tunas lateral. Praktikum ini dilakukan pada tanggal 12 Mei 2016 di PLT UIN Syarif Hidayutullah Jakarta. Hasil yang diperoleh menunjukkan tanaman yang di tanam tanpa adanya unsur Ca, Mg dan K mengalami kelayuan dan mati, sedangkan tanpa adanya unsur N, P, Fe dan mikronutrien menunjukkan kelayuan dan daunnya berubah warna dari hijau menjadi kekuningan. Perlakuan kontrol rata-rata pertumbuhan akar pada tanaman 1 dan 2 tidak berbeda jauh. Sementara pertumbuhan akar tanaman pada perlakuan Hoagland encer yang ditambahkan dengan konsentrasi (ppm) IAA yang lebih rendah yaitu 0,5 ppm mengalami pertumbuhan lebih cepat. Hal ini dapat disimpulkan bahwa gejala defisiensi unsur hara pada tanaman dapat mengakibatkan tanaman mengalami pertumbuhan yang abnormal. Hormon auksin pada tanaman dapat merangsang pemanjangan jaringan dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pemberian konsentrasi auksin yang tinggi justru dapat menghambat pertumbuhan akar tanaman tersebut. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi rendah IAA akan memacu pertumbuhan sel akar, tetapi dalam konsentrasi yang tinggi justru akan menghambat pertumbuhan akar, tetapi jumlah akar yang tumbuh semakin banyak.

    Kata kunci : Auksin, Essensial, Mikronutrien  




    Pendahuluan


    Tumbuhan di dalam kehidupannya memerlukan makanan yang sering disebut dengan unsur hara. Unsur hara merupakan zat essensial bagi tanaman yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisiologis tanaman. Unsur hara terdiri atas dua macam, yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. Tumbuhan membutuhkan unsur makro dan mikro dalam jumlah tertentu yang bervariasi tergantung jenis dan tingkat kebutuhan aktivitasnya (Hanum, 2008).
    Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak yaitu >500 ppm. Unsur hara makro terdiri dari Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S). Sedangkan, unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit atau < 100 ppm. Unsur hara mikro terdiri dari Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl) (Harjadi, 1997).
    Jika ketersediaan unsur hara esensial kurang dari jumlah yang dibutuhkan tanaman, maka tanaman akan terganggu metabolismenya yang secara visual dapat terlihat dari penyimpangan-penyimpangan pada pertumbuhannya. Gejala kekurangan unsur hara ini dapat berupa pertumbuhan akar, batang atau daun yang terhambat (kerdil) dan klorosis pada berbagai organ tanaman (Harjadi, 1997).
    Nitrogen (N) merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman, sebab nitrogen penyusun dari semua protein, asam nuklei serta protoplasma secara keseluruhan (Sarief, 1985). Menurut Harjadi (1997) ketersediaan unsur N pada tanaman dapat membantu pembentukan klorofil dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Nitrogen sangat diperlukan dalam pembentukan bagian – bagian vegetative seperti daun, batang dan akar. Apabila terlalu banyak akan menghambat pembungaan dan pembuahan tanaman. Tanaman kekurangan unsur hara N dalam pertumbuhan tanaman akan kurus, tidak segar (warna hijau muda) daun tua berubah kuning, buah tumbuhan kerdil dan mempercepat waktu pemasakan buah walaupun belum waktunya (Irawan, 2001)
    Fosfor (P) merupakan ortho-fosfat yang memegang peranan penting dalam kebanyakan reaksi enzim pada fosforilase. Fosfor merupakan bagian dari inti sel (sangat penting dalam pembelahan sel) serta perkembangan jaringan meristem. Fosfor dapat merangsang pertumbuhan perakaran dan tanaman, mempercepat pembungaan, mempercepat pemasakan biji serta penyusun lemak dan protein (Sarief, 1985).
    Unsur hara (P) dapat mendukung peristiwa pembelahan sel, pembelahan albumin, merangsang pertumbuhan akar halus dan akar serabut serta merangsang peningkatan kualitas hasil tanaman dan memperkuat batang tanaman agar tidak mudah roboh. Unsur fosfor diperlukan tanaman kedelai dalam jumlah banyak, dan diserap oleh tanaman sepanjang masa pertumbuhannya (Sarief, 1985).
    Kalium adalah hara utama dari ketiga unsur setelah N dan P. Kekurangan K menyebabkan sistem translokasi yang lemah, memperlambat pembentukan pati, pembukaan stomata, perkembangan akar, organisasi sel yang tidak baik dan hilangnya permeabilitas sel. Kelebihan unsur hara K pada tanaman akan menyebabkan timbulnya bintik nekrotik kecil antara urat daun dengan pucuk dan tepi daun yang terbakar pada daun-daun yang lebih tua (Gardner, 1990).
    Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah faktor intern dan ekstern. Faktor dari dalam (intern) yaitu faktor yang terdapat pada tanaman itu sendiri berupa hormon-hormon dan faktor dari luar (ekstern) yaitu faktor lingkungan hidup tumbuhan tersebut. Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yaitu intensitas cahaya, air, nutrisi, suhu atau kelembaban, dan oksigen. Sedangkan, faktor intern meliputi zat dan hormon tumbuh yang berperan penting  dalam proses perrtumbuhan (Salisbury, 2002).
    Hormon adalah suatu senyawa yang dihasilkan oleh salah satu bagian tubuh dan kemudian diangkut ke bagian tubuh yang lain, dimana hormon tersebut akan memicu respon-respon di dalam sel dan jaringan sasaran. Hormon, berpengaruh dalam proses pembelahan sel dan pemanjangan sel untuk proses pertumbuhan (Yandaru, 2001).
    Auksin merupakan senyawa yang zat digunakan sebagai perangsang dalam pertumbuhan dan perkembangan akar dimana zat ini secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi  pemanjangan akar dan ini semua dapat dilakukan dengan beberapa cara dan metode yang dapat dilakukan (Grander, 1990). Auksin adalah asam indol asetat (IAA) atau C10H9O2N. IAA merupakan suatu group dan senyawa-senyawa lain, misalnya asam naftalin asetat (C12H10O2) dan asam 2,4 diklorofenoksi asetat (C8H6O3Cl2) atau disingkat 2,4-D. Banyak lagi auksin lain dan sangat mudah untuk mengetahui apakah senyawa itu auksin atau tidak. Efek karakteristik auksin adalah kemampuan untuk mendorong pembengkokan suatu benih dan efek ini berhubungan dengan adanya suatau group atau di dalam molekul auksin tersebut (Campbell, 2002).
    Mekanisme kerja hormon auksin dalam mempengaruhi pemanjangan sel-sel tanaman khususnya akar yaitu auksin menginisiasi pemanjangan sel  dengan cara mempengaruhi pengendoran /pelenturan dinding sel. Auksin memacu protein tertentu  yang ada di membran  plasma sel tumbuhan untuk  memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ ini mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel.  Sel tumbuhan kemudian  memanjang akibat air  yang masuk secara osmosis.  Setelah pemanjangan  ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma. Auksin diproduksi oleh koleoptil ujung tunas. Pengaruh auksin yang lain adalah dominasi apikal, yaitu pertumbuhan  ujung apikal dan penghambatan pertumbuhan tunas lateral (Campbell, 2002).
    Adapun tujuan dari kedua praktikum ini adalah mengetahui efek kekurangan nutrisi tertentu pda tumbuhan yang dijadikan sampel percobaan. Kemudian mempelajari pengaruh auksin terhadap pembentukan akar, dan mengamati pengaruh auksin terhadap pertumbuhan tunas lateral.

    Metodologi
                Praktikum ini dilaksanakan pada 12 Mei 2016 di laboratorium Fisiologi, Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
    a.      Nutrisi Tanaman
    Alat yang  digunakan dalam praktikum nutrisi tanaman adalah botol Fido, alumunium foil, secukupnya, beaker glass, gelas ukur, dan gabus tutup botol untuk menyangga tanaman. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan makronutrien, yang terdiri dari: KNO3, MgSO4, 7H2O, KH2PO4, NaNO3, MgCl2, NaH2PO4, CaCl2, dan KCl, masing-masing 1 molar. Larutan mikronutrien: H3BO3 2,86 gr, MnCl2, 4H2O 1,81 gr, ZnCl2, CuCl2, 2H2O 0,05 gr dan NaMoO4, 2H2O 0,025 gr ditambahkan aquades sehingga volume menjadi 1000 ml. Larutan FeEDTA, dibuat dengan cara dilarutkan 5,57 gr FeSO4, 7H2O dalam 20 ml aquades, dan dilarutkan 7,45 gr Na2EDTAdalam 200 ml aquades, kedua larutan tersebut dicampurkan dan dipanaskan, kemudian didinginkan, lalu ditambahkan aquades hingga mencapai volume 1000 ml.
    Hal yang pertama dilakukan adalah disiapkan media yang diperlukan untuk percobaan sesuai dengan tabel 7.1, kemudian disiapkan tanaman secukupnya untuk percobaan tersebut. Wadah diisi percobaan/botol fido dengan larutan media sebanyak 150 ml, beri tanda tinggi larutan dalam wadah dan tipe perlakuan yang dicobakan (misal –N, berarti medium tanpa unsur N). Dimasukkan tanaman percobaan dalam wadah dengan tutup gabus sebagai penyangganya. Bungkus wadah percobaan tersebut dengan alumunium foil sehingga akar terlindungi dari cahaya. pH awal larutan dihitung. Percobaan tersebut disimpan dalam rumah kaca dan diperiksa tinggi larutan setiap hari. Susutnya tinggi larutan harus segera ditambah dengan aquades sampai tinggi batas volume mula-mula. Larutannya diganti seminggu sekali dengan larutan baru. Dicatat perubahan dan gejala pada tanaman akibat kekurangan unsur dari mediumnya. Dilakukan pengamatan sampai 7 minggu, lalu dicatat semua tanda-tandanya, diukur tinggi setiap tanaman, dihitung berat keringnya dan berat basahnya, dihitung pula pH akhir, dihitung rata-rata semua indikator terukur dan ditampilkan dalam bentuk grafik.

    b.      Hormon Tumbuhan
    Adapun alat yang  digunakan dalam praktikum hormon tumbuhan adalah timbangan analitik, gelas ukur, beaker glass, batang pengaduk, botol selai, petridish, kaca objek, dan mikroskop. Sedangkan bahan yang digunakan adala kecambah kacang hijau umur 7 hari, aquades, kapas, larutan Hoagland, IAA, kertas karbon, alumunium foil, pasta lanolin, dan pasta IAA 400 ppm.
    Praktikum hormon tumbuh terdapat 2 macam percobaan, yaitu percobaan 1. Pengaruh Auksin terhadap Pembentukan Akar dan percobaan 2. Dominansi Apikal. Percobaan 1. Pengaruh Auksin terhadap Pembentukan Akar, disiapkan 4 botol selai yang berisi masing-masing 200 ml akuades, 200 ml larutan Hoagland encer, 200 ml larutan Hoagland encer + 0,1 ppm IAA, dan 200 ml larutan Hoagland encer + 1,0 ppm IAA. Mulut botol ditutup dengan kertas alumunium yang berisi lubang sebagai tempat tegaknya kecambah, dibungkus bagian luar botol dengan kertas karbon. Potong hipokotil kecambah 5 cm dari posisi kotiledon semula dan segera tegakkan 3 kecambah pada tiap botol dibantu sedikit kapas dan di sekitar lubang untuk mencegah gesekan kertas alumunium foil pada batang kecambah. Daun tanaman harus muncul di atas botol. Ditempatkan semua botol di ruang praktikum. Sekitar 5-7 hari kemudian, diamatilah jumlah akar yang lebih dari 1 mm, jumlah primordial akar (panjang<1 mm) dan diukurlah panjang rata-rata akar yang terbentuk itu pada masing-masing botol.
    Percobaan 2. Dominansi apikal, disediakan 6 kecambah kacang hijau berumur 5 hari dalam pot. Perkecambahan dilakukan diruang gelap pada temperatur 25oC. Dua kecambah dipotong pucuknya tepat di bawah pasangan daun pertama dengan pisau silet dan ujung  sisa batangnya diberi pasta lanolin. Dua kecambah lainnya dipotong dan ujung sisa batangnya diberipasta IAA. Sisa kecambah dibiarkan sebagai kontrol. Setiap kecambah diberi label sesuai dengan perlakuan yang diberikan, pot disimpan di ruang gelap. Setelah 7 hari pasta lanolin dan pasta IAA dibersihkan dan diganti dengan yang baru. Setelah 14 hari dilakukan pengamatan panjang tunas lateral (jika ada), diameter ujung batang yang diberi pasta dan dibandingkan dengan garis tengah tumbuhan kontrol, dan diamati dibawah mikroskop penampang melintang batang kontrol dan ujung batang yang mendapat perlakuan.




    Hasil dan Pembahasan
    Berdasarkan pada hasil pengamatan maka diperoleh data sebagai berikut :
                                                                Tabel 1.1 Uji Nutrisi pada Tanaman


    No
    Perlakuan
    Hasil
    1
    -Ca
    Tanaman layu dan mati
    -Mg
    -K
    -Lengkap
    2
    -N
    Tanaman layu dan daun berubah menjadi warna kuning
    -P
    -Fe
    -Mikro















    Berdasarkan pada hasil pengamatan telah dilakukan percobaan yang diperoleh pada tabel 1.1 yaitu mengenai uji nutrisi pada tanaman yang bertujuan untuk mengetahui efek kekurangan nutrisi tertentu pada tumbuhan yang dijadikan sampel percobaan. Adapun tanaman yang digunakan yaitu kacang hijau. Berdasarkan hasil pengamatan seperti pada tabel diatas dapat diketahui bahwa tanaman yang di tanam namun tidak terdapat unsur Ca, Mg dan K akan mengalami kelayuan dan ada beberapa yang mati. Sementara pada tanaman yang di tanam tanpa adanya unsur N, P, Fe dan mikronutrien menunjukkan kelayuan dan daunnya yang berubah warna dari hijau menjadi kekuningan. Tanaman yang di tanam dengan media yang diberi nutrien lengkap juga mengalami kelayuan dan kematian (Hanum, 2008).
    Berdasarkan literatur, pada dasarnya gejala kekurangan unsur hara tergantung pada 2 hal utama, yakni fungsi dari unsur hara tersebut dan kemudahan unsur hara tersebut untuk ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda. Kemudahan suatu unsur hara untuk ditranslokasikan tergantung pada solubilitas (kelarutan) dari bentuk kimia dari unsur tersebut di dalam jaringan tanaman dan kemudahannya untuk dapat masuk ke dalam pembuluh floem (Hanum, 2008).
    Berdasarkan pada literatur, seharusnya dari setiap tanaman yang telah diberi masing – masing perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda sesuai dengan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat kekurangan makro dan mikronutrien. Namun,  pada pengamatan kali ini menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa pada kondisi nutrien yang diberikan lengkap, pertumbuhan yang dihasilkan akan seimbang dan lebih cepat untuk tumbuh dibandingkan dengan tumbuhan yang kekurangan nutrisi (Hanum, 2008).  Kesalahan tersebut dikarenakan kesalahan yang dilakukan pada saat percobaan,  yaitu seperti tidak memeriksa jumlah larutan baku setiap harinya dan tempat meletakkan tanaman tidak mendapatkan pencahayaan yang baik sehingga hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh teori.




    Tabel 1.2 Pengaruh Auksin terhadap Pembentukan Akar
    Kelompok
    Tanaman
    Parameter
    Perlakuan
    Aquades
    Hoagland Encer + 1.0 ppm IAA
    Hoagland Encer + 0.1 ppm IAA
    Hoagland Encer
    5
    1
    Jumlah Akar
    3
    4
    9
    2
    Panjang Akar
    1 cm
    0.7 cm
    1.3 cm
    0.9 cm
    Kondisi Fisik
    Segar
    Layu & berjamur
    Layu & berjamur
    Layu
    2
    Jumlah Akar
     -
     -
    - 
    3
    Panjang Akar
     -
    - 
     -
    0.5 cm
    Kondisi Fisik
    Mati
    Layu & berjamur
    Layu & berjamur
    Layu
    6
    1
    Jumlah Akar
    1
    5
    8
    3
    Panjang Akar
    1 cm
    0.8 cm
    1.4 cm
    0.1 cm
    Kondisi Fisik
    Segar
    Layu & berjamur
    Layu & berjamur
    Layu
    2
    Jumlah Akar
    1
     -
     -
    4
    Panjang Akar
    0.9 cm
    - 
     -
    0.5 cm
    Kondisi Fisik
    Layu
    Layu & berjamur
    Layu & berjamur
    Layu
               


    Berdasarkan pada tabel 1.2 mengenai pengaruh auksin terhadap pembentukan akar ini bertujuan untuk mengamati pengaruh auksin terhadap pembentukan akar dan pertumbuhan tunas lateral. Berdasarkan pada tabel tersebut, dapat diketahui bahwa dilakukan pengamatan terhadap pemanjangan akar yang diberikan perlakuan auksin dengan konsentrasi yang berbeda sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditentukan. Auksin adalah salah satu dari zat pengatur tumbuh (ZPT) yang berperan dalam proses perkembangan tumbuhan, seperti untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal tanaman, gunanya untuk menstimulir pembentukan akar-akar adventif pada stek (Campbell, 2002).  Selain itu, digunakan pula untuk merangsang pembungaan secara seragam, untuk mengatur pembuahan, dan untuk mencegah terjadinya gugur buah.  Peran auksin bagi tanaman yaitu auksin sebagai salah satu hormon tumbuh bagi tanaman mempunyai peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, pertumbuhan batang (Yuli, 2013).
                Konsentrasi auksin yang tinggi mampu merangsang pertumbuhan batang, tetapi dapat menghambat pertumbuhan akar pokok. Berdasarkan pada tabel 1.2 menunjukkan hasil pada perlakuan kontrol rata-rata pertumbuhan akar pada tanaman 1 dan tanaman 2 tidak berbeda jauh. Sementara pertumbuhan akar tanaman 1 pada perlakuan Hoagland encer + 0.1 ppm IAA terlihat lebih cepat jika dibandingkan dengan tanaman 1 dengan perlakuan Hoagland encer + 1 ppm IAA. Jika dilihat berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa pada konsentrasi 0,1 ppm jauh lebih optimal jika dibandingkan dengan konsentrasi 1 ppm. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi rendah IAA akan memacu pertumbuhan sel akar, tetapi dalam konsentrasi yang tinggi justru akan menghambat pertumbuhan akar, tetapi jumlah akar yang tumbuh semakin banyak (Yuli, 2013). Kemudian, pertumbuhan akar pada tanaman 1 dan 2 dengan perlakuan Hoagland encer saja mengalami pertumbuhan yang lambat. Namun, apabila dilihat secara menyeuruh tanaman memiliki kondisi fisik yang layu dan terdapat jamur pada beberapa tanaman.
    Berdasarkan literatur, aliran auksin yang basipetal (dari tunas apikal tempat ia disintesis ke arah pangkal batang) berpengaruh mendorong pemanjangan sel batang dan sekaligus menghambat pertumbuhan tunas lateral. Auksin mampu menginisiasi pemanjangan sel dengan cara mempengaruhi pengendoran atau pelenturan dinding sel. Auksin memacu protein tertentu yang ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel.  Ion H+ ini mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel.  Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis.  Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma (Harjadi, 1997).
    Berdasarkan hasil studi tentang pengaruh auksin (IAA) terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan tekanan osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel.

    Kesimpulan
    Tanaman mampu menyerap unsur hara dalam jumlah yang berbeda – beda. Tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk ion, baik yang bersifat positif maupun negatif.Unsur hara makro terdiri dari 9 macam unsur seperti C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S. Unsur hara mikro terdiri dari 7 macam unsur seperti Fe, Cu, Mn, Mo, B, Zn, dan Cl. Gejala defisiensi unsur hara pada tanaman dapat mengakibatkan tanaman mengalami pertumbuhan yang abnormal, begitu juga apabila tanaman mengalami kelebihan unsur hara. Hormon auksin pada tanaman dapat merangsang pemanjangan jaringan dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yaitu salah satunya pertumbuhan akar. Pemberian konsentrasi auksin yang tinggi justru dapat menghambat pertumbuhan akar tanaman tersebut. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi rendah IAA akan memacu pertumbuhan sel akar, tetapi dalam konsentrasi yang tinggi justru akan menghambat pertumbuhan akar, tetapi jumlah akar yang tumbuh semakin banyak (Gardner, 1990).

    Daftar Pustaka
    Campbell,Neil A., Jane B. Raece and Lawrence G. Mitchell. 2002. Biologi Jilid 2 Edisi Ke Delapan. Erlangga: Jakarta.
    Gardner, F. P., Pearce, R. B., dan Mitchell, R. L. 1990. Fisiologi Tanaman Budidaya (Penerjemah: Herawati Susilo). UI Press. Jakarta.
    Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. DPSMK: Depdiknas.
    Harjadi, W, 1997. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT.Gramedia: Jakarta
    Mulyaningsih, 2010. Analisis Unsur Toksik Dan Makro-Mikro Nutrien Dalam Bahan Makanan Dengan Metode Analisis Aktivasi Neutron. Jurnal Iptek Nuklir Ganendra. Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir Batanvol. 13 No. 1. ISSN 1410-6957.
    Salisbury, Frank B dan Ross, Cleon W. 2002. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Penerbit ITB: Bandung.
    Sarief, 1985. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana: Bandung.
    Yuli Afrida Yanti, Indrawati, Refilda, 2013. Penentuan Kandungan Unsur Hara Mikro (Zn, Cu, Dan Pb)  Didalam Kompos Yang Dibuat Dari Sampah Tanaman  Pekarangan Dan Aplikasinya Pada Tanaman Tomat (Solanum Lycopersicum Mill). Jurnal Kimia Unand. Laboratorium Kimia Lingkungan, Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Andalas. ISSN No. 2303-3401. Volume 2 Nomor 1.





    Lampiran


    Pertanyaan
    1)      Apakah perbedaan pupuk cair dengan pupuk kompos?
    2)      Apakah perbedaan air keran dengan aquadest?
    3)      Faktor apa saja yang mempengaruhi auksin?
    4)      Sebutkan hormon-hormon pertumbuhan pada tanaman?
    5)      Jelaskan kerja dari auksin yang mampu mempengaruhi perubahan fisiologis di dalam sel!
    6)      Sebutkan pengaruh auksin pada pertumbuhan tumbuhan?
    7)      Bagaimana mengatasi dominansi tunas apikal yang diterapkan dalam bisnis tanaman hortikultura?

    Jawab:
    1)      Pupuk cair dapat berupa pupuk kandang cair, biogas, pupuk cair dari lombah organik atau pupuk cair dari limbah manusia. Pupuk kandang cair dapat dibuat dengan mencampurkan kotoran hewan dengan air lalu diaduk. Sedangkan pupuk organik padat dapat berasal dari kotoran ternak, tanaman, maupun campuran sisa makanan dan urine hewan ternak. Pupuk organik padat dapat berupa pupuk kandang, humus, kompos dan pupuk hijau. Pupuk kandang terbuat dari kotoran hewan.

    2)      Aquades adalah air hasil destilasi / penyulingan sama dengan air murni atau H2O, kerena H2O hampir tidak mengandung mineral. Sedangkan air mineral adalah pelarut yang universal. Oleh karena itu air dengan mudah menyerap atau melarutkan berbagai partikel yang ditemuinya dan dengan mudah menjadi tercemar. Dalam siklusnya di dalam tanah, air terus bertemu dan melarutkan berbagai mineral anorganik, logam berat dan mikroorganisme. Jadi, air mineral bukan aquades (H2O) karena mengandung banyak mineral.

    3)      Cahaya, Kadar auksin, dan Gaya berat

    4)      Hormon Auksin, Giberelin, Sitokinin, Gas Etilen, Kalin, Asam Absisat (ABA), dan Asam Traumalin

    5)      Cara kerja hormon auksin adalah menginisiasi pemanjangan sel dan juga memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim ter-tentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis.

    6)      Auksin berfungsi merangsang pertumbuhan sel ujung batang, pertumbuhan akar lateral dan akar serabut, dan merangsang pembentukan bunga dan buah. Selain itu, auksin berfungsi mempercepat aktivitas pembelahan sel titik tumbuh dan menyebabkan diferensiasi sel menjadi xilem.

    7)      Pengaruh pemangkasan pucuk adalah pertumbuhan tunas lateral/ pertumbuhan tanaman ke samping. Dilakukan pada tanaman hortikultura dengan tujuan agar tanaman tumbuh ke samping atau menyemak sehingga memudahkan dalam pemanenan, pemeliharaan dan sebagainya.
    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 22.02.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, FISIOLOGI TUMBUHAN

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.