Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Sabtu, 09 April 2016

    LARUTAN





    Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan
    LARUTAN
    Muhammad Ali Subhan dan Ratna Lestyana Dewi
    Fakultas Sains dan Teknologi
    Program Studi Biologi
    Maret 2016
    Abstrak
    Larutan adalah campuran homogen dari dua atau lebih zat. Hal ini disebut campuran homogen, karena komposisi adalah seragam di seluruh larutannya. Komponen larutan terutama dari dua jenis, zat terlarut dan pelarut. Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat membuat larutan dengan terampil. Pembuatan larutan dilakukan dengan menyampurkan 0,05 mol sukrosa terhadap dua volume yang berbeda yaitu 100 ml dan 200 ml, kemudian di bandingkan solution volume-nya. Dari kedua percobaan didapatkan hasil solution volume sama yaitu  10 ml. Dapat disimpulkan bahwa solution volume tidak dipengaruhi oleh zat pelarutnya.
    Kata Kunci : Larutan, pelarut, solution volume, zat terlarut


    1.      Pendahuluan


    Larutan adalah campuran homogen dari dua atau lebih zat. Hal ini disebut campuran homogen, karena komposisi adalah seragam di seluruh larutannya. Komponen larutan terutama dari dua jenis, zat terlarut dan pelarut. Pelarut melarutkan zat terlarut dan membentuk larutan yang seragam. Pada umumnya, jumlah pelarut biasanya lebih tinggi dari jumlah zat terlarut. Semua partikel dalam larutan memiliki ukuran molekul atau ion, sehingga mereka tidak dapat diamati secara langsung. Larutan dapat memiliki warna jika pelarut atau zat terlarut dapat menyerap cahaya tampak. Namun, larutan biasanya transparan. Pelarut dapat berada dalam keadaan cair, gas atau padat. Kebanyakan pelarut umum adalah cairan. Adapun air dianggap sebagai pelarut universal, karena dapat melarutkan banyak zat daripada pelarut lainnya. Gas, padat atau cair zat terlarut lainnya dapat dilarutkan dalam pelarut cair. Ketika pelarut berupa gas, hanya larutan gas dapat dilarutkan. Ada batas untuk jumlah zat terlarut yang dapat ditambahkan ke sejumlah pelarut (Cotton, 2007).
    Larutannya dikatakan jenuh jika jumlah maksimum zat terlarut ditambahkan ke pelarut. Jika ada jumlah yang sangat rendah zat terlarut, disebut larutan diencerkan, dan jika ada jumlah tinggi zat terlarut dalam larutan, itu adalah larutan terkonsentrasi. Dengan mengukur konsentrasi suatu larutan, kita bisa mendapatkan gagasan tentang jumlah zat terlarut dalam larutan (Cotton, 2007).
    Konsentrasi suatu larutan dapat dikatakan dalam berbagai satuan yaitu : persen (%), molaritas (M), molalitas (m), normalitas, dan part per million (ppm). Keadaan pH suatu larutan tergantung dari macam dan konsentrasi zat terlarut, secara kolorimetri biasanya digunajan Indikator Universal, dan dapat juga dengan menggunakan kertas indikator pH yang biasanya mempunyai kisaran pH tertentu (Zaskia, 2014).
    Konsentrasi dengan satuan persen (%) pada umumnya digunakan untuk mengetahui jumlah persentase dari zat terlarut. Molalitas (m) dari larutan adalah mol zat terlarut dibagi dengan kilogram pelarut. Larutan yang mengandung 1,0 mol NaCl dilarutkan ke dalam 1,0 kg air adalah larutan “satu-molal” natrium klorida. Simbol untuk molalitas adalah huruf kecil m ditulis dalam huruf miring. Molalitas berbeda dari molaritas hanya dalam penyebut. Sedangkan molaritas didasarkan pada liter larutan, molalitas didasarkan pada kilogram pelarut. Konsentrasi dinyatakan dalam molalitas digunakan ketika mempelajari sifat larutan yang berhubungan dengan tekanan uap dan perubahan suhu. Molalitas digunakan karena nilainya tidak berubah dengan perubahan suhu (Sumardjo, 2008).
    Normalitas larutan adalah berat setara gram zat terlarut per liter larutan. Satu gram berat setara atau setara adalah ukuran kapasitas reaktif dari spesi kimia yang diberikan (ion, molekul, dan lain-lain). Sementara itu, Part per million (ppm) merupakan satuan yang sering digunakan pada saat pembuatan larutan hormon, asam amino, vitamin, dll. Larutan 1 ppm dibuat dengan melarutkan 1 mg zat dalam sejumlah pelarut hingga volume larutan 1 liter  (10000ml air = 1.000.000 mg air) (Sukadjo, 2002).
    Tujuan dari praktikum ini yaitu agar terampil dalam menentukan konsentrasi dari suatu larutan.

    2.      Metodelogi
    Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan analitik, kalkulator, batang pengaduk, gelas ukur 1000 ml, sendok, dan wadah aluminium.
    Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sukrosa, dan aquades
                Cara pada praktikum ini yaitu pertama-tama ditimbang sejumlah 0,05 mol sukrosa dengan teliti dan sukrosa dilarutkan ke dalam 100 ml air. Setelah dilarutkan kemudian dicatat jumlah larutan yang terjadi. Lalu dihitung konsentrasi molal pada larutan sukrosa tersebut. Kemudian diulangi percobaan pertama tadi dengan melarutkan sukrosa tersebut ke dalam 200 ml air dan dicatat jumlah larutan yang terjadi. Lalu dihitung konsentrasi larutan sukrosa serta solution volume sukrosa 1 mol dan diamati apakah hasilnya sama dengan perhitungan percobaan yang pertama.
    3.      Hasil dan Pembahasan
                Berdasarkan pada kedua percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh data yang disajikan dalam tabel sebagai berikut :


                                                   
                                                    Tabel 1.1 Hasil Percobaan Terhadap Dua Volume Larutan
    Perlakuan
    Mol
       Volume larutan
               (ml)
    Solution volume                                          
    (ml)
    Percobaan 1
    0,05
    100
    10
    Percobaan 2
    0,05
    200
    10
                                       




    Berdasarkan pada hasil percobaan, telah dilakukan dua perlakuan yaitu pada percobaan pertama dengan melarutkan 0,05 mol sukrosa atau setara dengan 17,1 gram sukrosa dengan ditambahkan air sebagai zat pelarut sebanyak 100 ml. Kemudian pada percobaan yang kedua yaitu dilarutkan pula 0,05 mol sukrosa atau setara dengan 17,1 gram sukrosa dengan ditambahkan air sebagi zat pelarut dua kali lipat dari percobaan yang pertama yaitu sebanyak 200 ml. Setelah dilakukan proses pengadukan maka dapat terlihat total solution volume. Solution volume adalah kelebihan volume yang didapat pada saat mencapurkan antara zat pelarut dan zat terlarutnya. Hasil yang didapat berdasarkan pada tabel 1.1 diketahui bahwa adanya perbedaan dari volume larutan yang diberikan yaitu masing-masing 100 ml dan 200 ml, namun total solution volume yang didapat tetap sama yaitu sebanyak 10 ml.
    Berdasarkan pada hasil percobaan yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa solution volume tidak dipengaruhi oleh zat pelarutnya. Hal ini menandakan bahwa Sukrosa (C22H11O22)merupakan suatu disakarida yang dibentuk dari monomer-monomernya yang berupa unit glukosa dan fruktosa, sukrosa dapat dengan mudah terlarut dengan air, hal ini dikarenakan air merupakan pelarut universal atau suatu pelarut yang bersifat polar (Bresnick, 2002).

    Air yang merupakan senyawa polar (Chang, 2005) sehingga dapat dengan mudah sukrosa menjadi larut dengan bantuan gerakan mekanik (pengadukan). Sehingga, hal ini menyebabkan volume air bertambah setelah diberikan penambahan sukrosa (C11H22O11), adapun air yang sudah ditambahkan sukrosa disebut larutan sukrosa (larutan gula). Volume yang bertambah setelah menjadi larutan disebut solution volume  (Deby, 2011).











    Gambar 1.1 Volume Larutan 100 ml                           Gambar 1.2 Volume Larutan 200 ml



    4.      Kesimpulan
    Konsentrasi suatu larutan dapat dihitung dalam berbagai satuan yaitu persn (%), molaritas (M), molalitas (m), normalitas (N), dan part per million (ppm). Terjadinya solution volume tidak dipengaruhi oleh zat pelarutnya, hal ini di dapat dari dua percobaan yang telah dilakukan, dimana dari kedua percobaan yang telah dilakukan memiliki volume solution yang sama.
    5. Daftar Pustaka
    Bresnick, Stephen. 2002. Kimia Umum. Hipokrates.
    Jakarta
    Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar. Edisi kelima.
    Erlangga. Jakarta
    Cotton, Wilkinson. 2007. Kimia Organik Dasar. UI
    Press. Jakarta
    Deby, W.  2011. Pengenceran Larutan dengan Perbedaan Konsentrasi (jurnal.kimia.fmipa.unmul.ac.id) diakses pada 29 Maret 2016 21.00 WIB
    Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Rineka Cipta. Jakarta
    Sumardjo, Damin. 2008. Pengantar Kimia. EGC. Jakarta
    Zaskia, S. 2014. Pembuatan Larutan dengan Berbagai
    Konsentrasi (kimia.studentjournal.ub.ac.id)
    diakses pada 28 Maret 2016 22.00 WIB
    Lampiran
    -          Perhitungan jumlah gram sukrosa
    Diketahui :
    0,05 mol sukrosa, dan
    Mr sukrosa (C22H11O22) = 342
    Maka,
    0,05 = gr/Mr
    0,05 = gr/342
    = 0,05 x 342
    = 17,1 gr
    -          Konsentrasi molal larutan sukrosa jika volume air 100 ml.
    Diketahui:
    Volume air 100 ml dan 0,05 mol sukrosa
    Maka, gr/Mr = 1000/pelarut
    17,1 gr/ 342 = 1000/100
    = 0,5 m
    -          Konsentrasi molal larutan sukrosa jika volume air 200 ml.
    Diketahui:
    Volume air 200 ml dan 0,05 mol sukrosa
    Maka, gr/Mr = 1000/pelarut
    17,1 gr/342 = 1000/200
    = 0,25 m



    Tugas
    1.      Berapa molar-kah konsentrasi larutan sukrosa 0,75 molal, bila diketahui solution volume 1 mol skrosa = 207 ml.
    2.      Berapa molal-kah konsentrasi larutan glukosa 30%
    3.      Bagaimana cara anda membuat 100 gr larutan sukrosa 5%? Jelaskan!
    4.      Bagaimana cara anda membuat 100 ml larutan alkohol 50% bila yang tersedia adalah larutan alkohol 95%? Jelaskan!
    5.      Bagaimana cara anda membuat 50 ml larutan 0,18 molar larutan sukrosa dengan cara pengenceran larutan sukrosa 0,25 molar?

    Jawab :
    1. Diketahui:
    sukrosa 0,75 molal, solution volume 1 mol sukrosa = 207 ml
    Ditanya: M?
    Jawab: m = gr/mr x 1000/P
                    = 1/0,75x1000/P
                  P= 0,75
                  m = gr/mr x 1000/P
    0,75 = n x 1000/750
    n      = 0,75x750/1000
                        = 0,5625 mol
    M    = gr/mr.1000/v
                       = 0,5625x1000/750
                       = 0,75 Molar

    1. Ditanya: m glukosa 30%?
    30 % = 30 gram glukosa (mr = 180) dalam 100 gram larutan
    Jawab: m = gr/mr x 1000/P
                    = 30/180x1000/100
                    = 30/180x10
                    = 300/180
                    = 1,67 molal


    1. Diketahui: larutan sukrosa 5%
    Ditanya: Cara membuat 100 gram larutan sukrosa 5%?
    Jawab: 5% = 5 gram/100 gram larutan
    Jadi, membuat larutan 5 gram ke dalam 95 gram pelarut

    1. Diketahui: M1= 95%, M2= 50% V2 = 100 ml
    Ditanya: V1?
    Jawab:
    M1 V1= M2 V2
    95.V1 = 50.100
    95.V1 = 5000
    V1      = 5000/95
                = 52,63 ml

    1. Diketahui: V1= 50 ml, M1= 0,18 m, M2= 0,25 m
    Ditanya: V2?
    Jawab:
    M1 V1= M2 V2
    0,25. V1 = 50.0,18
    0,25. V1 = 9
    V1              = 9/0,25 = 36 ml










         



    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 09.13.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, FISIOLOGI TUMBUHAN

    1 komentar:

    1. Peramu Rindu16 Maret 2022 pukul 06.48

      Kak itu nomor tiga kenapa ada 95 gr darimana? Trus itu nomor satu yg solution volumeny g di pakai? Boleh dijelasin ulang? Terimakasih

      BalasHapus
      Balasan
        Balas
    Tambahkan komentar
    Muat yang lain...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.