Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Sabtu, 09 April 2016

    EKOSISTEM TERESTRIAL

           EKOSISTEM TERESTRIAL

    Ratna Lestyana Dewi1), Apriyani Ekowati 2), dan Meidiyanto2)
    1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
    2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Terestrial Prodi Biologi
    Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id

    Abstract
    Terrestrial ecosystem is a ecosystem has a reciprocal relation between biotic factors and factors abiotik located on the mainland .But terrestrial ecosystem has four main ecosystem the tundra, taiga, the forest land low , and meadows. Terrestrial ecosystem having two important component the components and abiotik biotic components. The purpose of this lab work is to find komponen-komponen authors terrestrial ecosystem and he knows the relationship between the authors of ecosystem. An instrument used a rope raffia, a spade, plastic sample, lux meters, anemometer , and thermometer ph. Material used is formalin 4 % and the environment and abiotik biotic on terrestrial ecosystem .The index gained by margalef that results obtained show at least wealth still index gained. The conclusion is terrestrial ecosystem compiled by components abiotik as the ground, temperature, pH, humidity and biotic component of animals and plants. But between the authors of the ecosystem related to keep their survival .
    Key words : Terrestrial, ecosystem, biotic factors, margalef

    PENDAHULUAN


    Ekosistem terestrial merupakan suatu ekosistem yang memiliki hubungan timbal balik antara faktor biotik dan faktor abiotik yang terdapat di daratan. Adapun ekosistem terestrial memiliki empat ekosistem yang utama yaitu tundra, taiga, hutan daratan rendah, dan padang rumput. Ekosistem terestrial memiliki dua komponen penting yaitu komponen biotik serta komponen abiotik (Buckman, 2002).
                Komponen biotik pada ekosistem terestrial meliputi tumbuhan dan hewan. Tumbuhan yang terdapat pada ekosistem terestrial umumnya merupakan tumbuhan yang berasal dari divisi Magnoliophyta (tumbuhan berbunga), Pinophyta (konifer), dan Bryophyta (lumut). Sementara itu, untuk hewan mayoritas berasal dari kelas Insekta (serangga), Aves (burung), dan Mammalia (Buckman, 2002).
                Komponen abiotik dari ekosistem terestrial memiliki beberapa indikator sebagai faktor pembatas, seperti suhu, kelembaban dan pH. Keberadaan dan keberhasilannya organisme dipengaruhi lengkapnya kebutuhan yang diperlukan, termasuk unsur‐unsur lingkungan yang kompleks.  Tidak adanya dan atau tidak eksisnya suatu organisme, dapat dikendalikan dengan kurangnya atau kelebihan secara kuantitas dan kualitas dari salah satu atau lebih faktor yang mungkin mendekati batas‐batas toleransi organisme tersebut. Komponen – komponen terestrial tersebut saling berinteraksi dengan lingkungan di sekitar ekosistem yang bertujuan sebagai proses adaptasi untuk menjaga kelangsungan hidupnya (Zoer’aini, 2002).
    Vegetasi menentukan kelembaban suatu tanah dan kelembaban tanah menentukan kehadiran biota permukaan tanah. Vegetasi selain sebagai tempat berlindung juga sebagai penyedia bahan makanan. Lapisan serasah dari vegetasi selain sebagai penyedia bahan organik juga sebagai pelindung tanah. ketersediaan unsur hara untuk vegetasi ini didukung dengan adanya pH tanah yang mendekati netral. Sedangkan pada lingkungan non vegetasi cahaya dapat masuk sepenuhnya tanpa adanya penghalang (tajuk), sehingga kelembaban tanahnya juga lebih rendah dibandingkan dengan lokasi vegetasi, hal ini juga mempengaruhi komponen lainnya seperti kecepatan angin yang lebih tinggi di lokasi non vegetasi (Fiska, 2012).
    Adanya faktor fisik berbeda pada lokasi vegetasi dan nonvegetasi menjadi suatu faktor pembatas sehingga komponen yang menyusun ekosistemnya berbeda meski dalam satu ekosistem yang sama yaitu ekosistem terestrial (Zoer’aini, 2002).
    Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui komponen-komponen penyusun ekosistem terestrial serta mengetahui hubungan antara masing-masing komponen penyusun ekosistem.
    METODOLOGI PENELITIAN
    Praktikum ini dilakukan di lokasi kanopi yang baik di sekitar parkiran Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan analisis vegetasi dan metode hand sorting.
    Alat dan Bahan
                Alat yang digunakan pada pratikum ini adalah tali rafia, sekop, plastik sampel, lux meter, anemometer, pH meter dan termometer.
                Bahan yang digunakan adalah formalin 4% dan lingkungan biotik dan abiotik pada ekosistem terestrial.
    Cara Kerja
                Pertama-tama ditentukan lokasi sampling (misalnya di kebun, padang rumput, dan lain-lain). Kemudian, dipilih pohon dengan kanopi yang baik (pohon dengan persentase kerimbunan yang tinggi). Lalu kuadrat berukuran 0,5 m x 0,5 m diletakkan dengan masing-masing jarak 0,1,2,3,4, dan 5 meter. Setelah itu, diamati dan dicatat jenis-jenis dan jumlah tumbuhan yang ada di kuadrat.tersebut. Setelah itu, di dalam kuadrat dibuat plot dengan berukuran 20 cm x 20 cm x 10 cm dan disemprotkan formalin 4%. Plot tersebut digali dan dilakukan hand sorting pada biota yang ditemukan di plot tersebut dan dicatat jenis serta jumlah biota yang ditemukan pada masing-masing plot. Terakhir, dilakukan pengukuran faktor fisik pada masing-masing kuadrat.


    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Berdasarkan pada hasil pengamatan, maka didapat faktor fisik yang disajikan pada tabel berikut:

    Plot
    Jarak dari Pohon
    (m)
    Kelembaban Tanah
    (%)
    pH Tanah
    Suhu Udara (0C)
    Kecepatan Angin (m/s)
    Kelembaban Udara (m/g)
    Intensitas Cahaya (lx)
    1
    0
    48
    7,1
    29
    0,2
    76,9
    513
    2
    1
    60
    7,1
    32,2
    0,1
    79,6
    698
    3
    2
    62
    7,2
    30,4
    0
    72,8
    758
    4
    3
    46
    7,0
    30,4
    0
    70,9
    894
    5
    4
    58
    6,7
    30,6
    0
    70,4
    1013
    Tabel 1.1 Pengukuran Faktor Fisik






                           


    Berdasarkan pada tabel 1.1 dapat diketahui dari beberapa hasil pengukuran dari masing-masing plot memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Adapun pengukuran faktor fisik yang digunakan yaitu kelembaban tanah, pH tanah, suhu, kecepatan angin, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Secara menyeluruh dari plot satu hingga plot lima menunjukkan kelembaban tanah kisaran 48% - 62%. Hal ini menandakan bahwa lokasi tersebut memiliki kelembaban tanah yang cukup baik.  Kemudian, kisaran pH 6,7 – 7,2 menandakan bahwa lokasi tanah tersebut berada pada pH yang normal yang baik untuk tempat tinggal berbagai macam komponen biotik pada ekosistem terestrial (Indriyanto, 2006). Sementara itu, pada saat pengukuran suhu udara berdasarkan pada tabel 1.1 diketahui suhu pada saat itu antara 29-32,20C yang menandakan bahwa suhu saat itu tidak terlalu terik dengan kecepatan angin yang rendah yaitu 0,2 m/s. Adapun pada kelembaban udara menandakan kondisi saat itu memiliki kelembaban yang cukup tinggi dengan kisaran 70,4 - 76,9 m/g. Kemudian, pada intensitas cahaya berkisar antara 513-1013 lx yang menandakan bahwa lokasi ini memiliki intensitas cahaya yang cukup baik namun tidak terlalu tinggi (Indriyanto, 2006). Kemudian, setelah dilakukan pegukuran faktor fisik pada masing-masing plot maka dilakukan hand sorting pada masing-masing plot. Adapun hasil yang didapat disajikan pada tabel sebagai berikut :










    No
    Jarak dari Pohon
    (m)
    Jumlah Individu Tumbuhan
    Jumlah Individu Biota Tanah
    1
    0
    0
    15
    2
    1
    7
    9
    3
    2
    1
    22
    4
    3
    0
    21
    5
    4
    1
    25
     Tabel 1.2 Total Perhitungan Jumlah Individu




                           









    Berdasarkan pada tabel 1.2 mengenai total perhitungan jumlah individu dari lima plot yang telah dilakukan hand sorting maka dapat diketahui bahwa dari keseluruhan plot yang diamati pada plot kedua memiliki jumlah individu tumbuhan yang paling banyak. Hal ini dikarenakan kondisi tanah tempat dimana tumbuhnya tumbuhan ini sangat baik dengan kelembaban yang tinggi yaitu 62%. Sementara itu, apabila dilihat pada jumlah individu biota tanah dapat diketahui bahwa pada plot kelima memiliki jumlah individu yang paling banyak yaitu 25. Kemudian apabila dilihat secara menyeluruh maka individu biota tanah jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah individu tumbuhan. Hal ini disebabkan karena intensitas cahaya pada lokasi tersebut terbilang tidak terlalu tinggi sehingga cahaya matahari yang masuk hanya sedikit dan hanya dapat terserap oleh tumbuhan yang tinggi (Sugiyarto, 2000).
    Indeks Margalef adalah indeks yang digunakan untuk mengitung suatu kekayaan jenis pada suatu individu (Makalew, 2001).  Berdasarkan pada hasil pengamatan, maka diperoleh data sebagai berikut :


               
                                       




    Gambar 1.1 Grafik Indeks Kekayaan Jenis Tumbuhan


    Berdasarkan pada hasil pengamatan yang disajikan pada gambar 1.1 dapat diketahui bahwa indeks kekayaan jenis tumbuhan secara keseluruhan menunjukkan hasil angka 0. Hal ini disebabkan, meskipun terdapat beberapa jumlah individu pada masing-masing plot. Namun, yang didapatkan hanya satu jenis dari masing-masing plot yang diamati. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap indeks kekayaan jenis tumbuhan. Adapun tumbuhan yang terdapat pada saat pengamatan yaitu tumbuhan Punnisetum purpureus yang berasal dari famili Graminae.





                           


                                       


           Gambar 1.2 Grafik Indeks Kekayaan Jenis Biota Tanah  


    Berdasarkan pada hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada gambar 1.1 mengenai grafik indeks kekayaan jenis biota tanah dari keseluruhan plot memiliki ragam indeks yang berbeda-beda. Adapun indeks kekayaan tertinggi terdapat pada plot kelima dengan indeks kekayaan jenisnya sebesar 0,65. Hal ini disebabkan karena pada plot kelima ini ditemukan tiga jenis individu yang berbeda yaitu semut merah (Formica rufa), semut hitam (Pheidole
    sp.), dan cacing tanah (Lumbricus rebellus). Sementara itu, pada plot ketiga menunjukkan grafik pada angka 0. Hal ini disebabkan karena pada plot ini hanya ditemukan satu jenis individu saja yaitu cacing tanah (Lumbricus rebellus). Adapun secara keseluruhan, indeks kekayaan pada jenis biota tanah ini masih tergolong sangat rendah karena hasil yang didapat >2,5 (Jorgensen, 1989).



    KESIMPULAN
                Ekosistem terestrial disusun oleh komponen abiotik seperti tanah, suhu, pH, kelembaban dan komponen biotik berupa hewan dan tumbuhan. Adapun antara masing-masing komponen penyusun ekosistem tersebut saling berhubungan untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
    UCAPAN TERIMA KASIH
                Saya mengucapkan terima kasih kepada Khoirul Hidayah, S.Si dan Dinda Rama Haribowo, S.Si selaku dosen mata kuliah praktikum ekologi terestrial, serta Meidi Yanto dan Apriyani Ekowati selaku asisten laboratorium mata kuliah praktikum ekologi terestrial. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Alfathan Luthfi, Fenti Maharani, Marita Yuni Fitriadi, Nuraini, dan Rizky Hastuti Purwaningsih yang telah membantu dalam praktikum ini.

    DAFTAR PUSTAKA
    Buckman, M.H dan Brady. 2002. Ilmu Tanah.
    Bharata Karya, Jakarta.
    Fiska, 2012. Analisis Keanekaragaman Komponen
    Terestrial(bio.unsoed.ac.id/.../14.%20ANAISIS%20KEANEKARAGAMAN%20) Diakses pada 3 April 23.00 WIB
    Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara.
    Jakarta.
    Jorgensen, SE. 1989. Guildlines of Lakes
    Management. Intenational Lake Environment Foundation.
    Makalew, A. D. N. 2001. “Keanekaragaman Biota
    Tanah Pada Agroekosistem Tanpa Olah Tanah
    (TOT)”. Makalah Falsafah sains program pasca sarjana /S3. IPB press. ( Http://www.hayatiipb. com/users/rudyct/indiv2001/afra-dnm.htm) Diakses pada 2 April 2016 17.00 WIB
    Sugiyarto. 2000. “Keanekaragaman Makrofauna
    Tanah Pada Berbagai Umur Tegakan           Sengon di RPH Jatirejo
    KabupatenKediri”(https://eprints.uns.ac.id/13084/1/11382592-1-SM.pdf)
    Zoer’aini, D. Irwan .2002. Prinsip‐Prinsip Ekologi    dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan            Lingkungan. Bumi Aksara. Jakarta.




    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 01.26.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, EKOLOGI TERESTRIAL

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.