Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Sabtu, 02 April 2016

    PENGENALAN ALAT

    PENGENALAN ALAT

    Ratna Lestyana Dewi1), Apriyani Ekowati 2), dan Meidi Yanto2)
    1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
    2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Terestrial Prodi Biologi
    Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id



    Abstract
    Ecology is a science that studies the interaction between organisms with the environment (mutual relations). Terrestrial environmental factors which includes regions the region needs an instrument that could be used to measure some environmental factors. Instrument is a thing with used to grind with the aim of helping and loosening of works to be performed .The purpose of this lab work is to find a function of instruments which will be used and figure out how work in used. As for an instrument used the Global Positioning System (GPS) and Weather meters .The result is in GPS we can know a location where we are while weather meters capable of measuring almost a whole parameter physical temperature, air pressure, height, and others. The conclusion an instrument used in ecology terrestrial to measure the physical functions, how to work, and the principle of different.The introduction of a tool in ecology terrestrial is a fundamental things but very important for researchers.
    Key words: Ecology, Terrestrial, Global Positioning System, Weather meter, Principle


    PENDAHULUAN



    Ekologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya (hubungan timbal balik). Kehidupan organisme yang ada pada wilayah atau habitat tertentu dipengaruhi oleh faktor lingkungan abiotik maupun biotik. Faktor lingkungan tersebut merupakan factor yang berpengaruh terhadap organisme dalam proses perkembangannya. Apabila terjadi gangguan terhadap lingkungan maka secara langsung akan berdampak pada populasi dari organisme tersebut (Campbell, 2008).

    Lingkungan yang baik pada sebuah habitat akan menjamin keberlangsungan hidup suatu individu. Tidak ada organisme yang mampu berdiri sendiri tanpa dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang ada dan harus ada kondisi lingkungan yang ada tertentu yang berperan terhadapnya dan menentukan kondisi hidupnya. Lingkungan merupakan kompleks dari berbagai faktor yang saling berinteraksi satu sama lainnya, tidak hanya antara faktor biotik dan abiotik, akan tetapi antara biotik itu sendiri dan juga antara abiotik dengan abiotik (Campbell, 2008).
    Faktor lingkungan mencakup segala sesuatu yang ada di daratan maupun perairan. Sama seperti halnya faktor lingkungan di daratan atau yang dikenal dengan faktor terestrial, pada daerah akuatik juga dipengaruhi oleh biotik dan abiotik. Faktor biotik yang mendomonasi adalah kehidupan hewan dan tumbuhan yang membutuhkan lingkungan yang stabil untuk perkembangannya. Contohnya, tumbuhan memerlukan cahaya untuk berfotosintesis. Jadi, terdapat hubungan yang kompleks dari faktor tersebut (Djamal, 2007).

                Faktor abiotik yang mempengaruhi lingkungan biotik merupakan komponen tak hidup berupa faktor fisika maupun faktor kimiawi yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Komponen abiotik dapat berupa faktor yang mempengaruhi distribusi organisme seperti suhu, air, cahaya, matahari, kelembaban udara, dan kecepatannya. Faktor tersebut terdapat pada lingkungan terestrial (daratan) (Djamal, 2007).

    Sementara itu, pada faktor biotik meliputi semua organisme hidup baik itu konsumen, produsen, atau dekomposer. Namun, faktor lingkungan yang biotik dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif  adalah faktor abiotik. Sehingga dalam mencari data kuantitatif dan kualitatif tersebut dibutuhkan alat khusus atau alat tertentu (Hanum, 2009).

    Pada ekosistem terestrial, tanah merupakan faktor lingkungan yang amat penting. Tanah merupakan substrat alami bagi tumbuhan, habitat bagi detritus dan mikroba. Didalamnya mineral dan zat organik terkumpul.Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dimanfaatkan bila kondisi fisika-kimia tanah diluar toleransi organisme yang ada didalamnya atau diatasnya. Faktor fisika-kimia tanah mempengaruhi sebaran organisme tanah baik secara vertikal (hewan tanah dan mikroba), maupun horizontal (vegetasi). Oleh karenanya dalam analisis ekosistem terestrial perlu untuk mengumpulkan data fisika-kimia tanah. Beberapa pengukuran yang dapat dilakukan dalam pengukuran fisika-kimia tanah diantaranya adalah suhu tanah, pH tanah, tekstur tanah, profil tanah, kecepatan angin, kelembaban tanah, dan lain-lain (Indriyanto, 2006).

    Faktor lingkungan terestrial yang meliputi daerah daerah membutuhkan alat yang bisa digunakan didarat untuk mengukur beberapa faktor lingkungan. Alat adalah benda yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu dengan tujuan membantu dan mempermudah pekerjaan yang akan dilakukan. Alat yang digunakan dalam praktikum ekologi terestrial terdiri dari analisis biologi, fisik, dan kimia. Analisis tersebut dilakukan secara otomatis ataupun manual seperti perangkat digital Global Positioning System (GPS) dan Weather meter. Untuk itu, perlu pemahaman tentang cara penggunaan alat dilingkungan terestrial. Hal tersebut yang melatar belakangi faktor lingkungan terestrial (Hanum, 2009).

                Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui fungsi dari alat yang akan digunakan dan mengetahui cara kerja dalam menggunakan alat.

    METODE PENELITIAN

                Praktikum ini dilaksanakan pada 20 Maret 2016 di Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Alat dan Bahan
    Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Global Positioning System (GPS) dan Weather meter.
    Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah lingkungan abiotik.

    Cara Kerja
                Praktikum ini menggunakan dua alat yaitu Global Positioning System (GPS) dan Weather meter. Penggunaan GPS diawali dengan menentukan posisi saat kita berada dan harus pada lokasi yang terbuka agar tidak menghalangi satelit. Selanjutnya, dengan menekan tombol  on pada GPS dan ditunggu beberapa saat hingga konstelasi satelit GPS memancarkan sinyal  posisi satelit tersebut ditangkap  oleh penerima sinyal GPS. Kemudian didapat derajat posisi  kita berada saat itu dan dicatat angka yang tertera pada layar GPS.
                Penggunaan alat Weather meter  dilakukan dengan cara menekan tombol on pada Weather meter. Kemudian diarahkan pada arah datangnya angin. Kemudian dicatat kecepatan angin. Adapun untuk melihat suhu, kelembaban serta ketinggian maka dapat dirubah ke mode lain dengan cara ditekan tombol mode. Kemudian hasil dari pengukuran tersebut dicatat.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Global Positioning System (GPS) adalah suatu alat yang merupakan sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global menggunakan satelit. Sistem yang pertama kali dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika ini digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil (survei dan pemetaan). Sistem GPS, yang nama aslinya adalah NAVSTAR GPS (Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning System), mempunyai tiga segmen yaitu satelit, pengontrol, dan penerima / pengguna. Satelit GPS yang mengorbit bumi, dengan orbit dan kedudukan yangtetap (koordinatnya pasti), seluruhnya berjumlah24buah,21 buah aktif bekerja dan 3 buah sisanya adalah cadangan (Azhar, 2004).
    Satelit GPS memutari bumi dua kali sehari dalam orbitnya dan mentransmisikan sinyal informasi ke bumi. GPS receiver mengambil informasi dan menggunakan triangulation untuk menghitung lokasi dari pengguna. Triangulation adalah sebuah proses pencarian koordinat dan jarak sebuah titik dengan menggunakan pengukuran sudut antara suatu titik dengan dua atau lebih titik acu (satelit) yang sudah diketahui posisinya dan jarak-jarak antara satelit. Kordinat dan jarak ditentukan dengan menggunakan hukum sinus. Satelit GPS memancarkan dua sinyal yaitu frekuensi L1 (1575.42 MHz) dan L2 (1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random yaitu kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima (GPS Receiver) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur ”Anti-Spoofing” diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi danselanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y. Penghitungan posisidilakukan dengan 2 cara yaitu dengan kode C/A dan kode P(Y). GPS receiver menghitung jarak antara GPS receiver dengan satelit (pseudorange) (Maloratsky, 2002).  Berdasarkan pada hasil penggunaan alat GPS, diperoleh data sebagai berikut :



    No
    Lokasi
    Elevation
    Location
    Status
    1
    Depan PLT
    44 m
    S 060 18’ 21,5”
    E 1060 45’ 11,1”
    8
    Tabel 1.1 Data Hasil GPS





    Berdasarkan pada tabel 1.1 dapat diketahui bahwa lokasi di depan Pusat Laboratorium Terpadu memiliki elevasi sebesar 44 m dengan posisi Lintang Selatan : S 060 18’ 21,5’’ dan Bujur Timur : E 1060 45’ 11,1’’ dengan status yaitu 8. Karena GPS bekerja dengan mengandalkan satelit, maka penggunaannya disarankan di tempat yang terbuka dan lokasi yang dipilih yaitu di depan PLT merupakan lokasi yang terbuka. Penggunaan di dalam ruangan, atau di tempat yang menghalangi arah satelit (di angkasa), maka GPS tidak akan bekerja secara akurat dan maksimal (Azhar, 2004).
                Prinsip kerja dari GPS adalah pengukuran jarak (range) antara GPS receiver dengan satelit. Satelit juga memberikan informasi lokasi orbit dimana saat itu satelit berada di atas permukaan bumi. GPS dapat bekerja seperti ini, apabila kita mengetahui jarak tepat kita dari satelit di angkasa, maka kita dapat mengasumsikan bahwa kita berada di suatu titik di sebuah permukaan dengan radius imaginer yang sama dengan radius satelit. Apabila kita mengetahui dengan tepat jarak kita dari dua buah satelit maka dapat diasumsikan bahwa kita berada pada sebuah titik potong antara dua satelit tersebut, Jrarak diketahui dengan menghitung antara lama waktu yang ditempuh oleh gelombang dengan kecepatan rambat gelombang (Azhar, 2004).
                Selanjutnya yaitu mengenai alat Weather meter yang merupakan sistem otomatis yang dapat merekam data pada kegiatan penelitian atau observasi. Weather meter ini memiliki sistem sensor yang mengukur parameter lingkungan, seperti suhu udara, kelembaban udara, arah dan kecepatan angin, tekanan udara. Sehingga dalam penelitian akan dipermudah karena bersifat otomatis. Hasil yang diperoleh sangatlah dipengaruhi oleh performa dari sensor yang ada. Semakin baik kondisinya maka semakin baik hasil yang didapatkan, misalkan pada akurasi, waktu respon, ketelitian reliabilitas yang tinggi. (Djamal, 2007). Berdasarkan pada hasil pengukuran, maka didapatkan hasil sebagai berikut :



                                        Tabel 1.2 Data Hasil Weather Meter
    No
    Lokasi
    Suhu
    Kecepatan Angin
    Kelembaban
    Tekanan Udara
    Ketinggian
    1
    Depan PLT
    32,2 0C
    1,3 m/s
    68 RH%
    32,18 inHg
    -457 kaki


    Berdasarkan pada hasil yang didapat pada tabel 1.2 dapat diketahui bahwa lokasi yang saat itu diukur dengan alat Weather meter memiliki suhu sebesar 32,2 0C yang menandakan bahwa kondisi saat itu cukup terik dengan kecepatan angin sebesar 1,3 m/s dengan kelembaban 68 RH%, dengan tekanan udara 32,18 inHg dan ketinggian -457 kaki. Adapun pada saat pengukuran ketinggian terdapat minus, hal ini disebabkan karena adanya error pada alat tersebut. Prinsip kerja pada alat ini cukup sederhana dan mudah untuk digunakan, karena dalam sekali melakukan pengukuran misalkan pada pengukuran suhu, namun jika ingin mengetahui parameter lainnya dapat dilakukan dengan cara merubah mode pengukuran yang ada.


    KESIMPULAN
                Alat – alat yang dipergunakan dalam ekologi terestrial untuk mengukur faktor fisik memiliki fungsi, cara kerja, dan prinsip kerja yang berbeda – beda. Pengenalan alat dalam ekologi terestrial merupakan suatu hal mendasar tetapi sangat penting bagi peneliti atau praktikan.
               
    DAFTAR PUSTAKA


    Azhar. 2004.  Penentuan Posisi Dengan
    GPS Dan Aplikasinya. Pradanya. Jakarta
    Campbell, N. A. J. B Reece and L.G
    Mitchel. 2008. Biologi. Erlangga. Jakarta
    Djamal, I.2007.Prinsip-Prinsip Ekologi
    Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya. Jakarta: Bumi Aksara.
    Hanum, W. 2009.Ekologi. Erlangga.
    Jakarta
    Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta:      Penerbit Bumi Aksara
    Irshady. 2011. Ekologi. UGM            Press.Yogyakarta
    Maloratsky Leo G. 2002. An Aircraft

    single. Antena FM Radio Altimeter.Microwave Journal,Technical Featur
    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 21.14.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: EKOLOGI TERESTRIAL

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.