Welcome in my imagination

  • Home
  • AMAZING BIOLOGY
  • HEART TO HEART
  • ABOUT ME

    Senin, 18 April 2016

    BIOINDIKATOR TANAH

    BIOINDIKATOR TANAH

    Ratna Lestyana Dewi1), Apriyani Ekowati 2), dan Meidiyanto2)
    1.      Mahasiswa Program Studi Biologi
    2.      Asisten Dosen Praktikum Ekologi Terestrial Prodi Biologi
    Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
    e-mail : ratna.lestyana@yahoo.co.id
    Abstract
    The ground is a part of the terrestrial ecosystem in which are inhabited by many an organism called as biodiversitas ground. Terrestrial ecosystem as a habitat the ground is for fauna with a high diversity .The fauna of land is one of the components of the ground. Fauna land life very dependent on their habitats , because of the existence and density of populations fauna a type of soil in a region very determined by the state of these regions . The purpose of this lab work is to find the factors about the land health, knows diversity fauna land , and he knows cause effect relationship between the ground by diversity health fauna.  Lab work is done in the area that canopied seat and non canopy around the parking integrated laboratory center uin syarif hidayatullah jakarta .Methods used the with the hand of sorting and by calculation index the diversity of species Shannon – Wiener index. Results obtained at the canopied seat is 80 type and not canopied seat of 8 with the not canopied have a diversity better than canopied. The conclusion is The diversity of species fauna contained in two locations there are locations canopied seat and non canopied shows that the diversity of species having the index diversity of species >1 and its signified that diversity its kind low.
    Keywords : Canopied, Diversity, Fauna, Ground, Shannon – Wiener Index

    PENDAHULUAN


    Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem terestrial yang di dalamnya dihuni oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Biodiversitas tanah merupakan diversitas alpha yang sangat berperan dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalam dan di atasnya. Pemahaman tentang biodiversitas tanah masih sangat terbatas, baik dari segi taksonomi maupun fungsi ekologinya (Buckman, 2002).
    Ekosistem terestrial seperti tanah merupakan habitat untuk fauna dengan keanekaragaman yang tinggi. Fauna tanah merupakan salah satu komponen tanah. Kehidupan fauna tanah sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut. Hal ini menandakan bahwa keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem tanah, adapun fungsi ekologi dari fauna tanah salah satunya sebagai indikator lingkungan . Informasi kualitas tanah dapat diketahui dengan beberapa metode yang diantaranya adalah analisis kimia fisik dan biologi. Informasi kualitas tanah dengan metode biologi diantaranya dengan menggunakan fauna, informasi tersebut dinamakan bioindikator. Bioindikator adalah organisme (individu atau komunitas) yang dijadikan sebagai informasi tentang kualitas lingkungan sekitar. Bioindikator tanah adalah sifat biologis atau proses dalam komponen tanah ekosistem yang menunjukkan beberapa keadaan ekosistem (Buckman, 2002).
    Indikator biologis tanah diketahui dengan parameter kimia fisik, komposisi spesies atau indeks keanekaragaman. Contoh indeks yang digunakan untuk bioindikator diantaranya the maturity index (MI), biological index of soil quality (IBQS), dan the weighted coenotic index (WCI) yang dihubungkan dengan indikator faktor kimia fisik tanah seperti positas tanah, kemampuan tanah menahan air, dan kepadatan, pH, organik terlarut dan logam berat (Fiskam 2012).
    Ekosistem terestrial dari tahun ke tahun mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas diantaranya aktivitas manusia seperti limbah rumah, pabrik, dan kerusakan hutan. Kualitas dan kuantitas ekosistem terestrial yang menurun memiliki pengaruh langsung terhadap fauna terestrial seperti mikro, meso, dan makrofauna. Proses yang mempengaruhi fauna terestrial selanjutnya akan berpengaruh terhadap pola keanekaragaman dan rantai makanan di dalam ekosistem. Hal ini diduga akan terjadi berkurangnya fauna ataupun dapat menyebabkan invasi suatu ekosistem akibat terputusnya jaring makanan (Fiska, 2012).
                Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengaetahui faktor – faktor kesehatan tanah, mengetahui keanekaragaman fauna tanah, dan mengetahui hubungan sebab akibat antara faktor kesehatan tanah dengan keanekaragaman fauna.
    METODOLOGI PENELITIAN
                Praktikum ini dilakukan di area yang berkanopi dan non kanopi di sekitar parkiran Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Metode yang digunakan yaitu dengan metode hand sorting.
    Alat dan Bahan
                Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sekop atau cangkul, pisau, plastik atau botol sampel, pinset, cawan, oven, alat ukur atau meteran, pH meter, saringan bertingkat, timbangan, mikroskop, soil tester, termometer tanah dan kertas label.
                Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tanah, dan fauna tanah.
    Cara Kerja
                Lokasi praktikum telah ditentukan , yaitu pada lokasi berkanopi dan tidak berkanopi. Kemudian masing – masing lokasi praktikum dicatat dan dikoleksi kondisi kimia fisik (pH dan degradasi struktur tanah) permukaan tanah dan fauna. Kemudian digali dengan kedalaman 30 – 50 cm dan dicatat dan dikoleksi kondisi fisik permukaan tanah dan fauna. Lalu digambar penampang melintang dari degradasi tanah. Fauna tanah yang dikoleksi dalam praktek melintang tanah dan dekomposisi dianalisis keanekaragamannya dengan :

    a.       Indeks Shannon – Wiener :
    Text Box: H’ = -Ʃ (Pi) (log Pi) dimana Pi ni/N
     

    Keterangan :
    H         : Indeks keanekaragaman Shannon
    S          : Jumlah spesies
    ni         : Jumlah individu semua jenis ke-i
    N         : Jumlah total semua individu dari semua spesies
    Pi         : Kelimpahan relatif                    
    Ʃ          : Jumlah spesies individu
    b.    Indeks Simpson (Simpson- Yule Index) :

    Text Box: S = 1 - D
    Text Box: S = 1 – Ʃ ni (ni – 1) / N (N – 1)
     



    Keterangan :
    S          : Indeks Simpson
    D         : Dominansi
    n          : Jumlah individu dari masing – masing spesies
    N         : Jumlah total individu dari semua spesies

    Hasilnya kemudian dibentuk dalam grafik antara pH tanah dengan keanekaragaman spesies dan degradasi tanah dengan keanekaragaman spesies.


    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Berdasarkan pada hasil yang didapat maka diperoleh data sebagai berikut :
    Tabel 1.1 Pengukuran Faktor Fisik Lingkungan
    Kedalaman Tanah
    (cm)
    Parameter Faktor Fisik
    Non Kanopi
    Parameter Faktor Fisik
    Berkanopi
    Ph
    Kelembaban ( %)
    Suhu (°C)
    Ph
    Kelembaban ( %)
    Suhu (°C)
    0 – 10
    6,5
    34,5
    27,5
    6,8
    10
    31,5
    10 – 20
    6,5
    34,5
    28,5
    6,7
    15
    29,5
    20 – 30
    6
    35
    28
    6,7
    20
    28



    Berdasarkan pada tabel 1.2 mengenai faktor fisik lingkungan yang telah diukur yaitu pH, kelembaban, dan suhu pada dua lokasi yang berbeda yaitu lokasi berkanopi dan non kanopi diperoleh data sesuai tabel berikut. Jika dilihat secara keseluruhan maka dapat diketahui pada lokasi yang berkanopi memiliki pH, dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi non kanopi. Sementara pada hasil pengukuran kelembaban, pada lokasi  yang tidak berkanopi memiliki kelembaban yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena pada lokasi berkanopi ditutupi oleh pepohonan yang rindang sementara pada lokasi non kanopi cahaya matahari dapat secara langsung masuk dan unsur – unsur yang terdapat di udara seperti Nitrogen dapat dengan mudah terserap oleh tanah. Sehingga pada lokasi non kanopi ini memiliki kelembaban yang lebih tinggi (Makalew, 2001).



    Tabel 1.2 Keanekaragaman Fauna Tanah
    Kedalaman Tanah (cm)
    Daerah Non Kanopi
    Daerah Berkanopi
    Nama Latin
    Nama Lokal
    Jumlah
    Nama Latin
    Nama Lokal
    Jumlah
    0 - 10
    Pheidole sp.
    Semut Hitam
    5
    Lumbricus rubellus
    Cacing Tanah
    65
    Lumbricus terrestis





    Cacing Tanah





    2





    Formika rufa
    Semut Merah
    4
    Araneus sp.
    Laba-laba
    1
    Scolopendra
    Kelabang
    1
    Pheidole sp.
    Semut Hitam
    1
    Macrotermes gilvus
    Rayap Tanah
    1
    Larva
    Belatung
    1
    10 s.d 20
    Pheidole sp.
    Semut Hitam
    2
    Lumbricus rubellus
    Cacing Tanah
    4
    Lumbricus terrestis
    Cacing Tanah
    1



    20 s.d 30
    0

    0

    0

    Lumbricus rubellus
    Cacing Tanah
    1
    Larva
    Belatung
    1
    Total
    10

    80


    Berdasarkan pada tabel 1.1 telah diperoleh data mengenai keanekaragaman makrofauna tanah pada dua lokasi yang berbeda yaitu lokasi berkanopi dan nonkanopi. Pada lokasi yang berkanopi memiliki jumlah fauna tanah yang ditemukan lebih banyak yaitu ditemukan 11 jenis dengan total individu sebanyak 80 individu, sedangan pada lokasi non kanopi hanya ditemukan 4 jenis individu dengan total individu sebanyak 8 individu. Kemudian, pada lokasi yang berkanopi didominasi oleh Lumbricus terrestis (cacing tanah) sebanyak 65 jenis sementara pada lokasi yang tidak berkanopi cacing jenis ini hanya ditemukan sebanyak 2 individu. Hal ini disbabkan karena kelembaban dari masing – masoing plot.
    Fauna tanah seperti cacing pada umumnya hidup pada kondisi tanah yang lembab yang menandakan bahwa lokasi tersebut kaya akan unsur hara, Sementara pada kelembaban yang kurang memadai, maka populasi cacing tidak mendominasi (Sugiyarto, 2000).
    Kemudian, banyaknya jenis yang ditemukan pada lokasi yang berkanopi lebih bervariasi dibandingkan dengan lokasi yang tidak berkanopi bisa dikaitkan dengan pengukuran faktor fisik. Lokasi yang berkanopi memiliki banyak fauna yang ditemukan karena pada lokasi ini memiliki kelembaban yang cukup baik dengan suhu yang tidak terlalu panas dibandingkan dengan lokasi yang tidak berkanopi sehingga lokasi ini cocok untuk berbagai kehidupan fauna seperti Araneus sp, Scolopendra sp., Pheidole sp. dan Macrotermes gilvus.



    Gambar 1.1 Grafik Indeks Keanekaragaman Jenis
               


    Indeks keanekaragaman jenis (H’) merupakan suatu indeks yang menunjukan nilai dari hasil keanekaragaman jenis fauna yang terdapat pada suatu lokasi atau wilayah tersebut. Berdasarkan pada gambar 1.1 mengenai grafik indeks keanekaragaman jenis, dapat dilihat perbedaan dari hasil fauna yang diperoleh berdasarkan pada letak kedalamannya. Indeks keanekaragaman yang diperoleh secara keseluruhan pada lokasi yang tidak berkanopi memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi berkanopi. Hal ini disebabkan karena pada lokasi berkanopi memiliki satu fauna tanah yang menjadi dominansi yaitu Lumbricus terrestis sebanyak 65 individu. Fauna ini mampu hidup dan berkembang biak secara baik pada kondisi kelembaban yang dimiliki oleh lokasi berkanopi sehingga pada lokasi berkanopi memiliki indeks keanekaragaman lebih sedikit dibandingkan dengan lokasi yang tidak berkanopi (Indriyanto, 2006).
                Kemudian, apabila dilihat berdasarkan pada grafik tersebut, semakin dalam lokasi yang dilakukan hand sorting  maka akan semakin sedikit pula keanekaragaman jenis yang didapat. Hal ini disebabkan karena semakin dalam tanah tersebut memiliki suhu yang semakin menurun sehingga suhunya menjadi asam. Suhu yang semakin asam inilah yang menyebabkan fauna tanah seperti Lumbricus terrestis, Scolopendra sp., dan fauna tanah lainnya tidak dapat beradaptasi secara baik sehingga menyebabkan berkurangnya jenis – jenis fauna tanah yang terdapat pada kedalaman tersebut.
                Secara keseluruhan, keanekaragaman jenis tidak hanya berarti kekayaan atau banyaknya jenis, akan tetapi juga kemerataan dari kelimpahan setiap individu (Indriyanto, 2006). Adapun kisaran keanekaragaman jenis (H’) antara 1-3.
    Tinggi  : H’ > 3
    Rendah  : H’ < 3
    Sedang   : 1 < H < 3
    Maka, jika dilihat secara menyeluruh, maka dapat digolongkan bahwa lokasi berkanopi maupun tidak berkanopi memiliki indeks keanekaragaman yang rendah
    KESIMPULAN
                Kualitas dan kuantitas ekosistem terestrial yang menurun memiliki pengaruh langsung terhadap fauna terestrial. Faktor – faktor yang mempengaruhi kesehatan tanah salah satunya adalah faktor abiotik. Keanekaragaman jenis fauna yang terdapat pada dua lokasi yaitu lokasi berkanopi dan non kanopi menunjukkan bahwa lokasi tersebut memiliki indeks keanekaragaman jenis fauna >1 yang menandakan keanekargaman jenisnya rendah.

    UCAPAN TERIMA KASIH
    Saya mengucapkan terima kasih kepada Khoirul Hidayah, S.Si dan Dinda Rama Haribowo, S.Si selaku dosen mata kuliah praktikum ekologi terestrial, serta Meidi Yanto dan Apriyani Ekowati selaku asisten laboratorium mata kuliah praktikum ekologi terestrial. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Alfathan Luthfi, Fenti Maharani, Marita Yuni Fitriadi, Nuraini, dan Rizky Hastuti Purwaningsih yang telah membantu dalam praktikum ini.

    DAFTAR PUSTAKA
    Buckman, M.H dan Brady. 2002. Ilmu Tanah.
    Bharata Karya, Jakarta.
    Fiska, 2012. Analisis Keanekaragaman Komponen
    Terestrial(bio.unsoed.ac.id/.../14.%20ANAISIS%20KEANEKARAGAMAN%20) Diakses pada 16 April 23.00 WIB
    Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara.
    Jakarta.
    Makalew, A. D. N. 2001. “Keanekaragaman Biota
    Tanah Pada Agroekosistem Tanpa Olah Tanah
    (TOT)”. Makalah Falsafah sains program pasca sarjana /S3. IPB press. ( Http://www.hayatiipb. com/users/rudyct/indiv2001/afra-dnm.htm) Diakses pada 17 April 2016 17.00 WIB
    Sugiyarto. 2000. “Keanekaragaman Makrofauna
    Tanah Pada Berbagai Umur Tegakan           Sengon di RPH Jatirejo
    KabupatenKediri”(https://eprints.uns.ac.id/13084/1/11382592-1-SM.pdf)



    Diposting oleh Ratna Lestyana Dewi di 08.41.00
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
    Label: AMAZING BIOLOGY, EKOLOGI TERESTRIAL

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Chrome Pointer

Total Tayangan Halaman

Translate

About Me

Ratna Lestyana Dewi
Lihat profil lengkapku

My Arsip

  • Desember (1)
  • Juli (1)
  • Februari (3)
  • Januari (2)
  • Desember (8)
  • November (1)
  • September (1)
  • Agustus (1)
  • Juni (6)
  • Mei (4)
  • April (15)
  • Maret (9)
  • Juli (1)
  • Februari (4)
iii. Tema Tanda Air. Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.